
Sore hari itu jalanan kembali ramai akan hadirnya para pengunjung yang memang mereka sengaja datang untuk menginap, tentunya bukan hanya itu saja, melainkan banyak orang-orang yang mulai pergi dari tempat itu untuk kembali menyinggahi rumahnya masing-masing tersebut.
Seperti hal nya Sultan dan Rere, mereka berdua pun tak dapat menyinggahi tempat itu sampai mana mereka pun tak dapat menunggu senja hingga terbenam, dan mungkin di Bulan nanti, ataupun di Tahun nanti kisah itu akan hadir dengan waktu yang cukup lama, takan pernah ada kata sunyi, sepi, walaupun malam kelabu datang menghampiri.
Pelukan hangat serta senyuman manis itulah yang menemani keasikan mereka berdua, sampai mana motor tua dengan sendirinya berhenti, entah karena apa, yang jelas motor itu memang berhenti dengan seketika cepatnya.
Saking asiknya mereka berdua berbincang hingga pada akhirnya Sultan pun melupakan motor tua kesayangannya itu, yang di mana Sultan memang melupakannya bahwa motor tuanya itu tengah kehausan, dikarenakan dari awal dia berangkat, hingga sesampainya dia di Pelabuhan Ratu, bersama dengan wanitanya itu, Sultan sama sekali belum membelikan si Jagur tua itu bensin.
"Kenapa berhenti Be?".
"Gue juga engga tahu Re, mungkin dia mogok lagi, tunggu sebentar ya, gue mau cek dia dulu."
"Mau gue bantuin kagak Tan? sini biar gue aja yang benerinnya."
"Emang kamu bisa Re? kalau emang kamu bisa silahkan aja, tapi jangan sampai ancur ya."
"Emangnya kamu lupa ya, gue kan di sekolah ngambil jurusan teknik otomotif, kalau soal urusan yang beginian mah gue jagonya Tan."
Bukannya Sultan lupa, hanya saja dia tengah menguji seberapa dalam Rere belajar dan seberapa dalam Rere menguasai ilmu dalam bidang yang sekarang dia ambil itu di sekolahnya.
__ADS_1
Sultan pun sudah mengetahuinya dari awal bahwa motor tuanya itu mogok bukan karena rusak, melainkan karena bensinnyalah yang sudah habis, dikarenakan lampu indikator dimotornya itu telah menyala dan berkedip-kedip dengan kencangnya tanpa mau berhenti.
Rere pun sempat meminjam kunci motor milik Sultan, dan tentu saja dia juga sudah mengetahuinya, bahwa motor Sultan itu mogok bukan karena rusak, melainkan karena bensinnyalah yang memang sudah habis.
"Gimana Be? nyala kagak? kalau masih engga mau nyala kita dorong aja yu, biar nanti dibenerinnya udah sampai di rumah kamu aja," ucap Sultan sembari tertawa kepadanya.
"Ihh, dasar lu ya, nyebelin! gue kira motor kamu mogok karena rusak, ternyata cuma habis bensin, emang kamu engga isi bensin dulu apa Tan, sebelumnya," ucap Rere sembari mecubit lengan Sultan dengan sangat keras.
"Iya Re, gue lupa kalau hari itu gue malah isi bensin motor paman gue, soalnya waktu itu kan gue nganter lu bukan pakai motor tua gue ini, dan jadi gue mau minta maaf ya, karena kelupaan gue ini, kamu jadi susah seperti ini," ucapnya sembari mencubit pipi wanitanya itu dengan lembut.
"Kamu kan pernah bilang sama aku Tan, tolong temani aku dikala susah, maupun itu dikala kamu sedang merasa senang juga, engga ada kata kecewa untuk aku Tan, sementara itu kamu juga masih berada di samping gue, menemani gue dikala gue sedang lemah tak berdaya, hingga pada akhirnya gue bisa kembali bangkit karena kamu juga."
....
Sultan dan Rere tertawa bersama, padahal hanya mendorong motor mogok itu saja mereka bisa sebahagia itu, dan bahkan Rere pun tidak mau ketika Sultan menyuruhnya untuk tetap duduk di atas motor tuanya itu saja, entah karena apa Rere merasa sebahagia ini, apa mungkin kebahagiaanya yang sekarang ini akan terus terlihat dan akan terus berlanjut sampai Sultan kembali menyinggahi Kota kelahirannya ini nanti.
Tak perlu mendorong terlalu lama, dikarenakan pom bensin sudah mulai terlihat, dan Sultan pun lalu membeli full bensin untuk si Jagur tua itu, dan pada akhirnya motor itu bisa kembali berjalan, walaupun Sultan sempat menyedot dan mengeluarkan isi bensinnya itu sedikit, dikarenakan bilamana dia tidak melakukan hal tersebut itu, maka motornya takan bisa kembali menyala.
"Cape kagak Re? gue kan udah bilang sama lu, elu tinggal duduk manis aja dimotor, engga perlu ada acara bantuin gue segala," ucap Sultan yang kembali menjalankan motor tuanya itu.
__ADS_1
"Kagak lah Tan, gue kuat kok, lagian cuma segini aja masa cape sih bolot! emangnya gue cewe manja! ya, bukanlah ... gue itu cewe yang mandiri," ucap Rere yang langsung memeluk tubuh Sultan disaat Sultan menjalankan motor tuanya itu kembali.
"Kaya kartu ATM aja Re, mandiri, iya, iya gue percaya kok, kalau elu itu cewe kuat, engga manja! sama hal nya seperti gue ya, kuat Re."
"Cowoknya aja bisa, masa gue kagak bisa sih, makasih ya, Tan, bila bukan karenamu, mungkin gue engga akan pernah semudah ini berubah, dan karena kamu gue bisa mengenal kembali arti dari kata rasa kepercayaan diri yang sesungguhnya."
Semakin dia berkata jujur kepada Sultan, semakin kuat pelukannya, yang di mana Sultan pun mulai mengikuti alur perasaan Rere yang sesungguhnya, sehingga dia sendiri pun merasakan hal yang sama dengan wanitanya itu, yang memang arti kata nyaman itu rasanya benar-benar ada dan sungguh terasa nyata adanya.
Sementara itu, di depan gang rumah Rere, yang di mana mereka berdua telah tiba di sana, dan Sultan pun belum memberikan salam perpisahan terakhirnya itu kepada Rere, dikarenakan satu hari besok ia masih akan pergi menemui wanitanya itu kembali di rumahnya.
"Aku pamit dulu ya, Be, salam buat mamah kamu, gue engga akan pergi secepat ini kok, dan lagian besok jam setengah tujuh pagi gue bakalan kembali datang ke sini lagi juga kok," ucap Sultan sembari mengelus-elus dengan lembutnya hijab yang melekat dikepala wanitanya itu.
"Jangan deh Tan! mendingan kamu istirahat di rumah aja ya, lagian aku juga bisa berangkat sendiri kok, dan elu engga usah terlalu menghawatirkan keselamatan gue Tan, gue kan wanita mandiri, tapi bukan kartu yang kamu sebut-sebut itu ya," ucapnya sembari mengelus-elus rambut Sultan hingga berantakan.
"Yaudah kalau emang itu mau kamu, dan jadi besok gue engga usah datang ke rumahmu lagi kan Re? semoga apa yang kamu ucapkan itu engga akan menjadi kata penyesalan bagimu ya."
"Gue kenal sama kamu bukan hanya satu hari Tan, dan kalau emang mungkin kamu mau ninggalin gue begitu saja tanpa berpamitan terlebih dahulu, emangnya kamu bisa? dan mungkin besok gue bakalan nunggu kamu kembali di sini, hati-hati di jalan ya, pacar gue," ucap Rere dalam hati sembari tersenyum manis di hadapan Sultan.
"Meninggalkanmu adalah sebuah arti kata tak sanggup bagiku, apalagi tanpa mengabarimu terlebih dahulu, itu merupakan sebuah penyesalan bagiku, apa mungkin aku bisa meninggalkanmu tanpa aku mengecup keningmu dahulu? mungkin itu adalah hal yang takan pernah bisa aku lakukan kepadamu," ucap Sultan dalam hati sembari menatap tajam raut wajah wanitanya itu juga.
__ADS_1
Mentari akan menemani hari-harinya kembali, dan di hari esok mereka akan kembali bercerita, walaupun itu hanya bersifat sementara dan singkat, tetapi mungkin hal seperti itulah yang akan membuat kisahnya ini menjadi semakin asik saja, bukan hanya asik, melainkan kata khawatir itu pun pastinya akan ada tapi itu entah kapan.