Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 89 : Keluarga yang hilang


__ADS_3

Duduk berdua dengan sang kekasih hati, itu merupakan sebuah kebahagian rasa yang takan pernah bisa untuk dilupakan begitu saja, dan apalagi mereka duduk di atas puncak dengan ditemaninya panorama alam yang begitu indah untuk dipandangi kembali.


Dan di mana lagi kalau bukan di Kota kecil ini, yaitu Sukabumiku. Permandangan kebun teh, serta indahnya jajaran gunung-gunung yang berada di gunung Gede itu, sungguh terlihat jelas, yang di mana Sultan dan Rere bisa melihat langsung ke empat jajaran gunung yang berada di tempat itu.


Dan tentunya mereka bisa melihat indahnya panorama gunung Gede, gunung Pangrango, dan juga gunung Putri, serta bukit Kawah.


Ada 3 jalur yang bisa kita lalui bilamana kita ingin mendaki gunung Gede itu, yaitu jalur pendakian gunung Putri, jalur pendakian Via Selabintana, dan juga jalur pendakian Via Cibodas.


Dan pastinya setiap jalur memiliki kesulitan dan berapa lama waktu yang akan mereka tempuh saat ingin mendaki ke gunung Gede itu tersebut masing-masing.


Tentunya jalur pendakian yang sering Sultan lewati itu adalah jalur Via Selabintana dan juga jalur Via gunung Putri, dan kenapa ia bisa lebih memilih jalur yang begitu sulit itu di sana, seperti hal nya jalur Via gunung Putri, dikarenakan bilamana ia melawati jalur itu, perjalanan takan berlangsung lama, hanya dengan membutuhkan waktu 6 sampai 8 jam, semua rekan Sultan akan sampai dipuncak terakhir, yaitu puncak Surya Kencana.


Dan itu semua membuat Rere menanyakan banyak pertanyaan kepada Sultan, kenapa ia bisa mengetahui semua tentang deretan gunung itu, dan kenapa ia juga bisa kenal dekat dengan orang yang berada di sekitaran lokasi ini.


"Kamu bisa melihat keempat indahnya panorama alam yang diberikan oleh gunung Gede kepada kita, dan bilamana kamu ingin mengetahuinya, apa saja gunung yang ada di depan sana itu, aku bisa jawab semuanya untuk membuat dirimu menjadi pintar," ucap Sultan yang masih merangkul bahu Rere sembari menunjuk ke arah tiap-tiap gunung yang ada di depannya itu.


"Apa aja emang Tan? coba jelasin sama gue kalau elu lebih pinter dari gue di sini," ucap Rere yang masih menyandarkan kepalanya itu dibahu Sultan.


"Sebenarnya ada tiga jajaran gunung yang menghubungkan gunung gede itu nampak luas kalau kita pandanginya dari kejauhan Re, dan tentunya yang paling kiri itu adalah gunung Putri, dan yang kedua adalah gunung Pangrango, dan yang terakhir adalah gunung Gede Re."


"terus ada lagi engga Tan?".


"Ada Re, yang keempat adalah bukit kawah."

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa tahu semuanya Tan? apakah ada suatu hal yang membuatmu menjadi sungkan untuk menceritakan semua pengalamanmu itu Tan?".


"Mendaki gunung bukan hanya sekedar hobby ataupun hanya sekedar ingin berfoto-foto di atas sana saja Re, melainkan gue mendaki gunung karena gue ingin belajar banyak dari sini."


"Dan tentunya gue pun masih pemula, masih ada banyak yang harus gue ketahui, dan tentunya bilamana gue ada salah dalam melafalkannya, gue minta maaf, dikarenakan gue bukan makhluk Tuhan yang paling sempurna," ucap Sultan berkali-kali kepada Rere, yang di mana ia hanya ingin menjelaskannya kepada dirinya, bahwa apa yang dia ucapkan itu tadi, semuanya adalah pengetahuan yang ia dapatkan dari ketuanya.


"Engga apa-apa Tan, gue ngerti kok, dikarenakan semua orang pasti selalu lupa dengan apa yang pernah dirinya pelajari, dan apalagi elu udah lama juga kan engga pernah mengunjungi tempat ini?".


"Sangat lama sekali Re, mungkin dua tahun ada kali, dan ataupun lebih, gue lupa dan engga mau mengingatnya sama sekali Re."


"Emang kenapa Tan?."


"Karena aku hanya ingin mengingat raut wajahmu saja sekarang, dan itu semua aku lakukan demi kebaikanku sendiri di sini Re, yang di mana bila aku pergi nanti, aku masih bisa merasakan rasa ini begitu indah untuk aku ingat kembali di sana nanti Re," ucap Sultan, dan di sana Rere sempat memalingkan wajahnya itu, namun tidak dengan sandaran kepalanya itu.


Suara angin yang berhembus dari arah kanannya itu, semakin membuat Sultan ingin menatapnya, dikarenakan suara angin itu dibarengi dengan suara langkah kaki seseorang.


Telinga yang begitu tajam, dan tentunya seseorang itu adalah kawan lama dari Sultan, yang di mana Sultan pun lalu menghampiri mereka, dan dengan seketika ia pun memeluk kedua pasangan yang tengah berjalan itu.


"Ehh, siapa ini? lepasin kagak!" ucap Stevia, yang di mana dia adalah wanita cantik asal Bandung.


Stevia itu adalah wanita yang selalu menganggap Sultan sebagai kakaknya, dikarenakan dulu Sultan memang tak terlalu paham dengan apa arti kata cinta, dan sehingga Stevia pun lebih baik menganggapnya kakak, daripada menganggapnya pacar.


"Elu ada masalah apa Bro?" ucap Robby, yang di mana ia adalah kawan baik Sultan yang selalu mengajarkan Sultan bagaimana caranya memasak makanan yang enak, ketika mana mereka sedang mendaki.

__ADS_1


Robby adalah satu-satunya Chef yang berada dalam rekan tim Sultan dulu, dan semuanya menganggap itu bukanlah suatu keanehan yang dia miliki, dikarenakan ayah dan ibunya pun adalah Chef.


"Aihh, sombong banget lu bolot! gila engga tu! kalian memang pasangan serasi dah sumpah," ucap Sultan, yang di mana ia pun lalu melepaskan pelukannya itu.


Tajamnya tatapan rindu itu diberikan oleh Stevia, dan dia pun lalu memeluk kembali tubuh Sultan dengan seerat-eratnya, dan Robby pun hanya tersenyum, dikarenakan dia baru saja bertemu dengan cinta pertamanya dulu.


"Gimana kabar elu?" ucap Sultan yang sama-sama memeluk erat adik angkatnya itu di atas puncak sana.


"Alhamdulillah, abang gimana? baik juga kan? Via, rindu banget sama elu Bang, kenapa abang udah jarang ngunjungi Via, di rumah? bunda selalu menanyakan abang di sana loh," ucap Stevia, yang di mana ia masih ingin menatap wajahnya dengan lama.


"Kakakmu yang menyebalkan itu ke mana Vi? dia ikut ke Sukabumi juga kagak? biasanya Bunda kamu engga akan pernah ngebiarin anaknya keluyuran jauh-jauh seperti ini, apalagi kamu ditemani sama cowok gila kayak dia," ucap Sultan yang langsung memeluk tubuh Robby sembari tersenyum kepadanya.


"Gila lu Tan! kangen banget gue sama elu," ucap Robby yang sama-sama memeluk tubuh Sultan dengan erat juga di atas puncak itu.


"Ohh, tunggu sebentar, gue mau ngenalin seseorang kepada kalian semua di sini," ucap Sultan yang lansung membawa Rere ke hadapan mereka langsung.


"Kenalin ... dia adalah Rere, dan gue engga perlu menjelaskannya kepada kalian berdua kan, dikarenakan kalian juga pasti tahu dia itu siapa, dan betapa pentingnya dia bagi gue," ucap Sultan, yang di mana kedua kawannya itu melihat Sultan telah bertumbuh menjadi sosok lelaki yang kebih percaya diri lagi.


"Cantik banget! muka abang gue sama teteh mirip banget loh, mau peluk teteh boleh kan?" ucap Stevia, yang di mana dia pun lalu memeluk tubuh Rere, dikarenakan itu adalah ucapan terima kasih yang dia ingin berikan kepada Rere.


Pertemuan dan perkumpulan itu, membuat hati Sultan merasakan kembali arti dari kata mengenang keluarga yang hilang karena suatu keadaan. Dan dia di sana membiarkan Rere bersama dengan Stevia, dikarenakan Stevia ingin bercerita banyak kepada pacar abang angkatnya itu, yang di mana Stevia pasti akan mencerikan sikap manis yang abangnya itu miliki kepada Rere dengan sejelas mungkin.


Sementara itu, Robby akan membawa Sultan ke tempat, yang di mana semua kawan lamanya itu tengah berkumpul, dan tentunya tempat itu tidak lah jauh dari sekitaran puncak itu.

__ADS_1


__ADS_2