Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 113 : Air mata perpisahan


__ADS_3

Perpisahan memang mungkin akan segera tiba, hanya tinggal menghitung sedikit waktu saja, dan tangisan itu takan pernah mudah untuk berlalu, semua kisahnya di sini sudah takan pernah terukir kembali dengan sangat cepat, yang di mana pagi itu semua barang keluarganya telah dikemas dengan rapinya hingga mana tak ada satu pun barang yang tersisa, ataupun yang tertinggal.


Namun, tentu saja waktu itu masih ada dan belum usai begitu saja, dikarenakan mobil jemputannya itu diperkirakan akan tiba di sana pada jam 8 ataupun jam 9 pagi, dan jadi mereka semua masih bisa berbincang panjang lebar sembari tertawa bersama-sama terlebih dahulu di sana.


Bunda bersama dengan kedua anak wanitanya itu masih memiliki waktu kurang lebih 2 jam hingga sampai 3 jam, dikarenakan pagi itu waktu masih menunjukan sikap simpati dan empatinya, yang di mana waktu itu berjalan dengan lambatnya di jam 6 tepat.


Sementara itu Sultan pun kembali menemani kakaknya yang tengah mengganti semua pakaiannya itu di dalam toilet, namun Sultan hanya menunggunya di luar ruangan saja, bukan melainkan menunggunya di dalam juga, dan bilamana dia menunggunya di dalam, maka bundanya takan segan-segan untuk membunuh Sultan.


Sultan pun terus memanggil nama kakaknya itu di luar sana tanpa henti-henti, dan dia juga terus mengetuk pintu toilet tersebut dengan begitu kerasnya, hingga pada akhirnya dia pun lalu ke luar dari dalam toilet dengan menggunakan pakaian terbuka kembali.


"Kalau nanti elu masuk angin, berarti gue udah gagal jagain elu Teh, padahal gue udah kasih jaket ini untuk elu pakai, bukan untuk elu pajang," ucap Sultan yang begitu terkejut ketika mana dia melihat kakaknya ke luar dengan hanya menggunakan pakaian yang seperti itu.


"Iya ganteng iya, ini gue pakai nih! bawel amat dah! lagian ini kan udah pagi Tan, dan dinginnya juga masih bisa gue tahan kok," ucapnya yang langsung memakai jaket pemberian dari Sultan itu.


Sultan pun lalu mencubit kedua pipi kakaknya itu dengan sangat lembut sembari membawakan tas genggamnya yang berisikan alat make upnya itu.


Kringg, kringg, kringg ....


Tak silam beberapa lama, suara telepon Sultan berbunyi berkali-kali, namun ia baru menyadarinya saat itu juga, dan sepertinya Rere pasti sudah meneleponnya dari tadi pagi, namun sinyal di sana memang jarang ada, dan bahkan bisa jadi tidak ada sama sekali.

__ADS_1


"Gue tinggal dulu sebentar ya, soalnya Rere nelepon gue dari tadi pagi kayaknya, cuma sebentar kok, gue engga akan lama, dan setelah itu gue pasti bakalan balik lagi ke sini," ucap Sultan sembari meninggalkan kakaknya itu sendirian di dalam tenda milik Sultan sendiri, dikarenakan tenda bunda telah dikemas rapi oleh Robby.


"Bawel amat sih lu Tan! yaudah lah ... kalau elu emang mau menjawab panggilan telepon suara dari Rere, elu jawab aja, pake acara harus izin segala sih," ucapnya sembari tertawa kepada Sultan.


Tanpa berlama-lama lagi, ia pun langsung menjawab panggilan telepon suara dari Rere, namun ketika mana dia akan menjawab panggilannya itu, dengan seketika cepatnya panggilan itu terputus.


Sultan pun sempat berbicara sedikit, yang di mana dia mengiranya bahwa panggilan suaranya itu sempat ia jawab, namun nyatanya panggilan suara itu malah terputus dengan sendirinya.


"Assalamu'alaikum, ada apa nih? elu pasti kangen kan sama gue Be? yaudah lah ... nanti sehabis pulang PKL gue jemput elu di sana ya," ucap Sultan yang masih belum menyadari bahwa dia tengah berbicara sendiri.


....


Suara panggilan yang terputus itu pun ternyata bisa datang tidak tepat di waktunya juga, dan lantas Sultan pun tertawa heran sambil terkejut karena memang pada saat itu speaker handphonenya tengah ia letakan pas di dekat telinganya.


"Dihh, kok, ini terputusnya telat sih! padahal gue udah ngomong panjang lebar tadi, ahh ... sial! sampai kaget gue denger suara kentutnya itu," ucap Sultan yang tengah berbicara sendiri sambil menjauhkan speaker handphonenya itu dari telinganya sendiri.


Disaat ia akan melangkahkan kakinya itu, dengan seketika cepatnya panggilan suara teleponnya itu berbunyi kembali, Sultan pun merasa sangat kesal, dan ia pun merasa bahwa dia sedang dipermainkan oleh sebuah jaringan internet di sana.


"Elu lagi sibuk bukan bolot? kok, elu tega banget dah sama gue Tan! dari tadi pagi gue neleponin elu terus loh, dikira elu bakalan kangen sama gue," ucap kekasihnya yang sangat bawel itu, namun Sultan agak sedikit heran, dikarenakan tadi dia tidak memarahinya seperti biasanya.

__ADS_1


"Emangnya hutan ini kota gitu Re! nyari sinyal di sini sama hal nya dengan gue meninggalkanmu, yang artinya sama-sama sulit untuk gue lakukan," ucap Sultan yang tidak mau kalah bawelnya dengan Rere juga.


"Gue udah makan Tan, dan sekarang giliran gue yang nanya sama lu, elu udah makan belum?".


"Aihh, apaan sih elu Re! kagak jelas dah! gue matiin nih teleponnya," ucap Sultan yang benar-benar mematikan telepon suaranya itu sambil tertawa juga di sana.


Rere pun tersenyum dan tertawa dengan lepasnya di tempat dia sekarang tengah melaksanakan tugas terakhirnya itu di sekolahannya sekarang, dia pun duduk terdiam tanpa ada yang menemaninya selain karyawan wanitanya itu lah yang selalu menemaninya di kala sepi tengah melanda hatinya.


"Dihh, ini anak rese amat dah! awas aja lu bolot! gue patah-patahin tulang lengan elu nanti, tunggu aja tanggal berantemnya pokonya!" ucapnya yang masih tertawa dengan lepasnya kepada Sultan di sana.


Sultan pun lalu kembali memasukan handphonenya itu ke dalam saku celana jeansnya sembari tersenyum-senyum sendiri, sampai mana kakaknya itu pun dibuat penasaran dan ingin menanyakan hal lucu apa yang sedang dia pikirian itu.


Wanita manja itu terus menatapi raut wajah Sultan, yang memang sepertinya dia sedang merasa sangat bahagia ketika mana kekasihnya itu menelepon dirinya tadi.


"Seneng banget perasaan elu Tan, ada apa nih? gue boleh tahu kagak? cerita lah sedikit-sedikit sama wanita yang sangat cantik ini," ucap kakaknya.


"Kepo lu! perasaan gue kagak kenapa-kenapa dah, elu terlalu memperhatikan gue aja kali, dan lagian mata elu itu kayaknya lagi menyembunyikan sesuatu dari gue, yang harusnya cerita itu elu Teh, bukan gue," ucap Sultan sambil menatap tajam mata kakaknya, yang memang waktu itu dia sempat meneteskan air mata kesedihannya di hadapan Sultan langsung.


Sultan pun takan pernah membiarkan air matanya itu terjatuh begitu saja, yang di mana ia pun lalu mengusap air matanya tersebut itu dengan lembut, hingga pada akhirnya wanita manjanya itu memeluk tubuh Sultan dengan begitu manisnya sambil menyandarkan kembali kepalanya itu dibahu Sultan.

__ADS_1


__ADS_2