Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 234 : Suguhan tiada henti


__ADS_3

Sesampainya Sultan di dalam rumah Rere, tanpa ia sadari ternyata ibunya telah menyiapkan banyak sekali makanan untuk ia santap di sana, padahal Pak Mukhsin juga baru saja mengajak seluruh temannya makan bersama, apa ia benar-benar harus menyantap kembali masakan lezat buatan tangan beliau itu, bilamana ia menolak, maka beliau akan kecewa.


Sultan menyuruh Rere menuangkan sedikit saja nasi dipiring yang sudah ia genggam, berhubung ibunya lagi berada di ruang tengah, maka Sultan berani bilang kepadanya bahwa ia baru saja selesai makan bersama dengan Pak Mukhsin.


"Sebenarnya aku udah makan di rumah Pak Mukhsin Be, dan rasanya perut ini juga udah hampir meledak aja, tapi engga apa-apalah, demi menghargai kebaikan ibumu itu, aku rela melakukan apa pun demi beliau asalkan beliau senang," sahut Sultan, di mana ia terlihat begitu menikmati masakan buatan tangan beliau itu di sana.


"Kalau dipikir-pikir kesian juga sih, seharusnya tadi gue bilang dulu sama dia, apakah dia udah makan, maaf ya, Be, gara-gara gue, elu harus merasakan betapa sangat terpaksa dirimu menyantap masakan buatan ibu gue ini," ucap Rere sembari menatap raut wajah Sultan dengan perasaan serba salahnya, namun alangkah menyebalkannya sikap seorang Rere itu, di mana dia malah tertawa-tawa tipis di sana.


Sultan mendengarkan suara tawanya, tapi ia masih tetap diam dan lebih memilih untuk menghabiskan makanan yang ada di piringnya itu.


Semakin Sultan memaksakan perutnya itu, dan di sana wanitanya malah semakin lepas menertawakannya, untung saja dia sayang kepada Rere, bilamana dia tak sungguh dalam bersinggah dihati wanitanya itu, mungkin niat buruknya untuk melemparkan dia kejurang akan tercapai di waktu sekarang.


Sultan merasa lega sekarang, hingga pada akhirnya, nasi di piringnya itu telah habis tanpa adanya sisa nasi yang ia tinggalkan dan ia lewatkan sedikit pun.


Dengan seketika cepatnya Sultan mengambil piringnya itu di atas meja ruang tamu pada saat Rere akan menambahkan beberapa porsi nasi di piringnya kembali.

__ADS_1


Sultan rasa itu sudah cukup, dan Rere tak perlu lagi menambah porsi makannya melebihi porsi standar yang telah perutnya itu tentukan.


"Bisa-bisa gue mati mendadak karena kekenyangan ini mah, udah Be, segini juga udah cukup! jangan kamu memaksakan lagi apa yang telah perut gue ucapkan kepada gue untuk berhenti makan," ucap Sultan yang langsung membawa piringnya itu ke ruangan dapur.


Sultan pergi meninggalkan Rere sembil membawa piring yang awalnya sempat ia gunakan untuk makan itu di sana, dan tak lupa ia juga membawa piring yang di atasnya terdapat banyak makanan buatan tangan ibunya itu ke ruangan dapur.


Sultan berseru kepada beliau bahwa masakan yang beliau buat terlalu lezat, Rere pun sempat mendengarkan seruan dari Sultan sembari tertawa lepas.


"Mah, ini Sultan simpan di dapur aja ya, masakan mamah terlalu enak, dan Sultan cuma takut aja bilamana nanti apa yang Sultan lihat ini akan Sultan habiskan," canda Sultan dengan rendah hatinya, dan ucapan Sultan itu sampai terdengar ditelinga Rere.


Rere masih saja tertawa, dia berpikir kalau Sultan memang paling hebat dalam soal mengambil hati seseorang, terutama hati ibunya, padahal Sultan tak perlu membuat alasan atau menutupi masalah kekenyangannya itu kepada beliau, dikarenakan beliau pasti paham dengan apa yang sekarang tengah Sultan rasakan.


"Kamu gila apa Be! aku kan udah bilang sama kamu kalau aku terlalu kekenyangan, bagimana coba bilamana nanti ibumu itu melihat kenapa makanan yang beliau buat itu engga aku habiskan? aku takut bilamana nanti beliau akan beranggapan hal yang tidak-tidak soal makanannya ini," sahut Sultan sambil mencubit kedua pipi Rere dengan pelannya.


"Tunggu deh, aku engga mimpikan ini! aku engga salah dengarkan! bukannya kemarin aku melihatmu makan sebanyak dan selahap itu ya, waktu di Tangerang, tapi masa iya sih tiba-tiba pola makan kamu dengan seketika menjadi berukurang lagi," ucap Rere terlihat bingung, sebenarnya apa yang membuat nafsu makannya menjadi berkurang.

__ADS_1


Mungkin Rere tidak tahu sebabnya apa, dan karena apa, sebelumnya pagi tadi Sultan disuruh oleh ibunya untuk sarapan terlebih dahulu, terus setelah sampai di rumah gurunya, Sultan disuguhkan banyak sekali makanan oleh istri beliau, hingga sampai tiba di rumah Rere, ia disugukan lagi makanan sebanyak itu oleh ibunya.


Alasan Sultan terlalu rumit, kini ia hanya bisa duduk dan sesekali menyandarkan punggungnya di kursi sofa yang sangat empuk di dalam sana.


"Kamu engga tahu sih Be, tadi pagi ibumu yang ada di sana sempat menyuruh aku untuk makan terlebih dahulu, udah itu Pak Mukhsin menyuruh kita makan juga di rumahnya, hingga sampai sekarang ditambah lagi dengan masakan buatan tangan ibumu sendiri, rasanya sangat disayangkan juga sih kalau aku engga bisa makan sebanyak seperti waktu kemarin, maaf ya," ujar Sultan, di mana kali ini Rere sudah paham, dan ternyata alasanya itu memang benar-benar sangat rumit.


Rere menyandarkan kepalanya dibahu Sultan, dia merasa hari sekarang cukup berada di sampingnya saja, dan dia tak perlu lagi terfokus kepada ponselnya.


Lagipula Sultan pun sama sekali tak memainkan ponselnya di dalam sana, maka dari itu Rere menaruh ponselnya sendiri, dikarenakan dia ingin menyamakan prinsip Sultan untuk tetap menemaninya tanpa berkomunikasi dengan orang lain selain Sultan.


"Be, besok pagi aku pergi kembali ke Tangerang ya, dan pokonya bilamana kamu mau datang ke sana lagi tolong beritahu aku dengan keputusan yang pasti oke, jangan seperti waktu itu, tiba-tiba kamu datang setelah kamu bersikap dingin sama aku," ujar Sultan sambil menatap raut wajah Rere.


"Gue engga akan datang ke sana lagi Tan, soalnya gue udah tahu bahwa elu pasti akan mengantarkan gue pulang hingga sampai rumah gue," ucap Rere membuat Sultan bingung, apa hubungannya dia pergi ke sana dengan Sultan mengantarkannya hingga sampai rumahnya.


"Santai aja kali Be, kamu engga usah berpikiran seolah-olah kamu itu selalu merepotkan aku, lagian ya, aku itu emang sengaja pulang ke Sukabumi karena Pak Mukhsin pastinya akan menyuruh kita berkumpul di rumahnya."

__ADS_1


"Aku cuma engga enak aja sama beliau, masa iya teman-teman aku bisa pulang dan berkumpul di rumahnya, sedangkan aku sebagai pemimpin masa aku engga bisa datang menemuinya."


Itu sebenarnya hanya alasan yang Sultan buat-buat saja untuk Rere, lantas maksud dia yang sebenarnya itu memang selalu tertuju ke arah Rere, di mana Sultan tak bisa membiarkan wanitanya pergi sendirian di Kota orang, apalagi Rere belum mengetahui pasti daerah tersebut itu seperti apa.


__ADS_2