
Aisyah tersenyum, sepertinya mereka berdua sama-sama gila, masa mereka ingin berkelahi di depan banyak orang, apalagi lawan Sultan adalah perempuan, dan apa mungkin orang-orang di sana nanti akan memukuli Sultan karena sebab dia menantang seorang wanita.
Aisyah berdiri, dia mulai memasang kuda-kudanya juga, tak lama kemudian Sultan menyuruh Aisyah untuk memukul wajahnya sekeras yang dia bisa lalukan.
"Coba pukul wajah aku Syah, anggap saja aku itu musuh sungguhanmu, jangan merasa kasihan, pokonya pukul sekaras yang kamu bisa lakukan," ucap Sultan kini mulai memperhatikan gerakan Aisyah dengan perlahan sembari memastikan titik lemah dia ada di mana.
Wushh ....
Suara angin dari pukulan Aisyah masih bisa Sultan rasakan, dan pukulan tersebut hanya pukulan biasa saja, dia belum sepenuhnya mengeluarkan tenaganya.
"Boleh juga kamu Tan, tapi kamu jangan senang dulu! soalnya pukulan itu hanya pukulan biasa saja, dan pukulan yang selanjutnya pasti engga akan bisa kamu hindari secepat itu, jangan menyesal ya," ucapan Aisyah sudah dapat Sultan tebak dengan mudah, Sultan pun takan selengah yang dia kira.
Pukulan kedua Aisyah dapat Sultan tangkis dengan mudah, dan pukulan terakhirnya dapat Sultan genggam. Setelah Sultan menggenggam tangannya, ia pun lalu menaruh tangan Aisyah di samping kiri pipinya, Sultan menyuruh dia memukul wajahnya begitu saja tanpa dia mau menghindarinya lagi.
"Bisa mukul engga sih! katanya kamu bisa mukul, tapi wajah aku masih belum bisa kamu sentuh tuh, yaudah deh cepetan pukul wajah aku sekarang, aku janji engga akan melawan ataupun menghindar," ucap Sultan sambil meletakan tangan kakan Aisyah di samping pipi kirinya.
Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa membunyikan suaranya, dia tak mau memukul wajah Sultan begitu saja tanpa sebab yang jelas. Lantas mereka berdua duduk kembali di atas kursinya masing-masing.
"Dilihat dari gaya berkelahi kamu sebenarnya itu sudah cukup bagus sih Syah, tapi masih ada sedikit yang belum kamu kuasai lebih dalam lagi, diusahakan nanti jangan terlalu menganggap remeh lawan dengan hanya memberikan pukulan yang tak jelas asal-usulnya itu seperti apa," ucap Sultan menjelaskan gaya berkelahi di jalanannya itu seperti apa, dan apakah bertarung di jalanan sama dengan bertarung di atas ring.
"Maksudnya gimana ya, Tan? coba kasih tahu dong, soalnya aku masih junior di lapangan, dan aku belum tahu apa-apa," tanya Aisyah penuh harapan, di mana dia ingin tahu maksud dari ucapan Sultan itu.
__ADS_1
"Jangan berusaha melawan musuh dengan gerakan itu-itu saja, dikarenakan hal tersebut dapat menguras banyak tenagamu sendiri, berusaha mencari celah dengan gerakan tipuan, di mana gerakan tersebut digunakan hanya sebagai pengalih perhatian, sebelum kamu memukul wajah musuh dengan menggunakan tangan kirimu, lalu setelah itu tunda pukulanmu, dan lanjutkan dengan memukul wajah lawan menggunakan tangan kananmu."
Dan ya, sepertinya otak Aisyah memang terlalu traveling untuk mencerna semua ucapan dari Sultan itu. Lantas Sultan pun mempraktekan gerakan yang dia maksud-maksud itu kepadanya langsung.
Sultan menyuruh Aisyah berdiri dengan sikap bertarungnya sendiri. Sultan mulai memberi aba-aba agar dia siap.
Sultan melayangkan pukulannya dengan menggunakan tangan kirinya, dan Aisyah refleks menangkis serangan dari Sultan, namun itu hanya gerakan tipuan saja agar membuat Aisyah lengah.
Pada saat Aisyah akan menangkis serangan Sultan, dengan seketika Sultan memberhentikan pukulan ditangan kirinya itu, lalu tanpa Aisyah sadari Sultan melayangkan pukulan ditangan kanannya setelah dia terkecoh.
....
Sultan mengajarkan Aisyah lewat pemahamannya sendiri, bukan melainkan langsung mengajarinya lewat uji coba seperti hal nya berkelahi tanpa memahami gerakan yang belum dia pahami asal-usulnya seperti apa.
"Gimana, sekarang kamu udah pahamkan maksud aku Syah? itu adalah contoh yang harus kamu pelajari selanjutnya, maaf kalau aku sudah membuatmu takut, tapi tenang aja ya, Syah, mana mungkin aku memukul seorang wanita waluapun wanita itu benar-benar tangguh," ucap Sultan mulai merasa lapar setelah dia memperaktekan gerakan andalannya itu kepada Aisyah.
"Makasih ya, Tan, semoga aku bisa memahami penjelasan yang kamu berikan itu secepat mungkin," ucap Aisyah, di mana setelah dia mengucapkan ucapannya itu kepada Sultan, dia pun lalu meminum minuman yang baru saja dia beli di sana.
"Jangan terburu-buru untuk memahami itu Syah, mendingan sekarang kita makan dulu aja, biar aku yang teraktir kalian semua makan di sini, kebetulan di sana ada penjual baso cuangki, masa iya kalian mau menolaknya," ajak Sultan mulai memanggil amang penjuak baso cuangki tersebut di sana.
Mereka hanya bisa mengangguk saja, lantas Sultan memesan 5 porsi baso cuangki untuknya dan untuk teman-teman Aisyah juga.
__ADS_1
Malam yang sepi kini telah beralih ke malam yang begitu ramai dengan hadirnya mereka dan senyuman disetiap orang yang telah Sultan anggap sebagai saudara jauhnya sendiri, yakni teman-teman Aisyah.
Benar seperti dugaan Sultan, barusan dia melihat rombongan Alamsyah melintas di hadapannya, bahkan mereka berhenti tepat di depan wajah Sultan.
"Pantas saja kenapa elu engga menjawab panggilan telepon dari gue Tan, ternyata elu lagi asik-asikan main di luar sini sama mereka berempat," ucap Alamsyah berbohong padahal dia sama sekali tak menelepon Sultan di sana.
"Gue tahu elu bohong Lam, abisnya elu bicara sambil senyum-senyum sendiri, hal itu yang membuat gue semakin yakin kalau elu memang berbura-pura baik di hadapan mereka semua," canda Sultan membuat semua teman prianya tertawa.
Tongkrongannya kini semakin ramai saja, bahkan orang-orang Sultan lebih banyak bila dibandingkan dengan tongkrongan orang lain di sana.
Mereka berbincang hingga mengabiskan waktu selama satu jam, entah lebih, entah kurang, mereka hanya bisa melepaskan waktu lelahnya itu dengan cara berbincang bersama-sama di Kota orang.
Jam tangan Sultan telah menunjukan pukul 11 malam, itu tandanya mereka harus segera beristirahat di kediamannya masing-masing.
Aisyah berpamitan kepada Sultan, dan dia akan pulang lebih dulu karena waktu tidurnya telah melebihi batas maksimal bagi mereka semua untuk beristirahat.
Kebetulan kontrakan Aisyah tak terlalu jauh dari kontrakan Sultan berada, jadi mereka bisa mengatur waktu liburnya untuk makan bersama.
"Cantik beut dah si Aisyah itu Tan, tapi kok, bisa-bisanya elu ketemuan sama mereka, udah itu kenapa elu engga ngabarin kita dulu sih kalau mereka juga lagi main di sekitaran tempat kita, engga friend lu mah Tan," ucap Azmi merasa kecewa karena dia tak sempat meminta nomor Whatsapp teman-teman Aisyah dan Aisyahnya juga.
"Friend chiken kali Mi, bodo amat dah, gue ngantuk mau tidur, lagian gue juga engga tahu kalau dia ada di sini, mungkin kalau dia engga nyapa gue lebih dulu, gue engga akan ketemu sama mereka semua," ucap Sultan sambil menyalakan motor tuanya.
__ADS_1