Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 44 : Cinta yang dibatasi oleh jarak pisah


__ADS_3

Tak lama setelah itu, Sultan pun lalu masuk ke dalam kosan tersebut sembari memarkirkan motor tuanya itu dengan rapi di dalam kosan sana.


Kawan-kawan gilanya itu semua tengah menunggu kedatangan Sultan di sana, dan ya ... tepatnya mereka bukan menunggu kehadirannya di sana secara langsung, melainkan di sana mereka hanya menunggu sebuah amunisi yang akan Sultan berikan kepada mereka semua. Amunisi itu adalah nama samaran, yang sering mereka sebut-sebut sebagai rokok.


"Widih ... sehat elu Bro," ucap Iman basa-basi.


"Kenapa lu nyuruh gue kumpul di sini? mau bagi-bagi duit bukan elu pada Bro?" ucap Sultan sembari menyetandarkan motor tuanya itu di sana.


"Hmm," gumam seluruh kawan gilanya di dalam kosan sana.


"Gue mah udah tahu, elu pada bukan lagi nungguin gue di sini, melainkan lagi nungguin rokok dari gue kan?".


"Hahaha," tawa seluruh kawan gilanya itu di sana.


Tanpa menunggu waktu lama lagi, Sultan pun lalu masuk ke dalam kosan tersebut sembari melempar satu bungkus rokok yang masih penuh ke arah mereka, dan tepatnya mereka di sana sedang duduk di sebuah kursi panjang, serta melebar penuh sehingga kursi itu bisa digunakan untuk tidur juga.


Sebenarnya itu bukanlah satu buah kursi, melainkan itu adalah satu buah rak kasur tidur, yang di mana mereka ubah sebelumnya, menjadi sebuah tempat untuk mereka duduk di sana.


"Gini kan enak hehe, rokok ada, kawan ada, dan cuma ada satu aja yang engga ada di sini, yaitu gandengan sendiri," ucap Akbar kepada kawannya semua sembari tertawa engga jelas.


"Maaf, elu itu mah Bai, bukan gue," ucap Sultan.


"Aduhh, asem-asem! kita semua lupa ya, hehe," ucap seluruh kawan Sultan sembari tertawa juga dengan lepas.


Sultan dan teman-temannya itu di sana langsung membahas tujuan mereka berkumpul di sana itu untuk apa. Mereka berkumpul di sana ingin membahas soal ujian akhir semesternya itu di sana, yang di mana mereka semua akan pergi berangkat ke luar kota untuk melaksanakan Pelatihan Kerja Lapangan, atau yang sering anak SMK sebut-sebut sebagai (PKL).


Dan tentunya mereka di sana akan memilih tempat yang berbeda-beda, yang di mana tempat itu sudah mereka pilih sebelumnya di bengkel praktek jurusan, bersama dengan para guru-guru jurusan di sana.


Dan di sana Sultan berpikir, ia ingin pergi ke luar kota juga, supaya ia bisa mendapatkan pendidikan yang lebih menantang, serta mendapat pengalaman hidupnya di sana sendirian.


Di sana ia hanya ingin belajar lebih mandiri saja, dengan mencoba hidup lebih jauh lagi dari kedua orang tuanya tersebut di kota kelahirannya itu.


Suatu keadaan rasa takan pernah membuatnya mundur, hati pasti akan saling berkata rindu, namun itu pasti akan menguji banyak waktu terhadap Sultan dan Rere, untuk mereka saling mengungkapkan rindunya itu kembali di sini.

__ADS_1


Waktu telah berjalan dengan cukup lama, dan Rere di sana masih belum menelepon Sultan hingga sampai saat itu. Sultan tak terlalu banyak memikirikan Rere, ia di sana mengira bahwa Rere sedang tertidur, atapun membantu ibunya mengurus rumah, serta menjaga adik-adiknya yang masih kecil itu.


"Tan, elu mau PKL di mana?" ucap Maulana.


"Ada dua tempat yang gue pilih Bro, yang pertama Cikarang, dan yang kedua di Banten, itu juga masih belum pasti! karena HRD nya masih ada di Surabaya," ucap Sultan.


"Lagi apa HRD nya di Surabaya?" ucap Maulana kembali.


"Pak Mukhsin bilang dia lagi ada tugas di sana Bro."


Pak Mukhsin, dia adalah seorang guru jurusan praktek mengelas dan sekaligus wali kelas dari Sultan juga. Ia adalah mantan guru kesiswaan yang sangat bringas, semua siswa menakuti ketegasan guru tersebut.


Badannya yang kecil, takan pernah menghalangi guru tersebut untuk berbuat kejam kepada anak asuhannya itu karena beliau adalah guru yang sangat profesional, guru yang penuh dengan penghargaan, guru yang paling disegani di sekolahan SMKN 4.


....


Selain itu, kembali kepada Rere yang tengah menunggu Sultan meneleponnya di sana. Ia merasa heran! kenapa hingga sampai saat itu Sultan masih belum menelepon Rere di sana. Dan Rere pun di sana berpikir, apakah telah terjadi sesuatu hal dengannya di jalan yang sekarang ia sedang lalui itu.


"Lama amat elu ngangkat telepon dari gue Tan!" ucap Rere.


"Gue baru selesai salat zuhur Re, ada apa emangnya?".


"Gue itu khawatir Tan, sama elu! kenapa elu belum nelepon gue sampai saat ini."


"Gue lagi di kosan Re."


"Lagi apa kamu di sana Tan? lagi pacaran sama cewe lain?".


"Cemburu? biasanya elu engga suka cemburuan deh Re, dan malahan yang lebih cemburuan itu gue loh Re," ucap Sultan sembari tertawa tipis-tipis kepada Rere.


"Berarti benar kan apa yang gue omongin itu tadi?".


"Engga benar lah Re, masa gue ngeduain elu sih, dan sedangkan di sini gue sayang sama elu."

__ADS_1


Kembali lah Rere tersenyum dibuatnya, ia pun merasa bahwa Sultan bukan orang yang seperti itu, dan terlebih ucapannya itu juga sungguh meyakinkan hati Rere tersebut.


"Gue lagi kumpul sama temen-temen Re, buat ngebahas soal kelangsungan hidup gue di kota orang sana nantinya," ucap Sultan yang seketika membuat Rere terjatuh.


"Kamu bener kan Tan, mau PKL di luar kota?" ucap Rere dengan nada rendah.


"Bener lah Re, dan terlebih gue juga ingin melihat elu menjadi wanita yang lebih kuat lagi, ketika mana gue nanti ninggalin elu di sini sendirian."


Tutt, tutt ... seketika panggilan suara pun dimatikan oleh Rere.


Rere masih belum bisa menerima Sultan untuk pergi jauh-jauh dari sisinya nanti. Entah satu bulan lagi, dan entah beberapa minggu lagi, ia akan pergi meninggalkan Kota Sukabumi nya ini, walaupun hanya sementara, itu akan terasa sangat berat! dan terlebih ia di sana takan bisa memeluk Rere kembali.


3 Bulan memang bukan waktu yang cukup lama, namun di sini mereka semua itu adalah siswa, yang di mana semua masalah dan resikonya nanti akan mereka hadapi dengan sendiri-sendiri di sana.


"Kenapa elu Tan? tiba-tiba galau kayak gitu," ucap Yogi.


"Rere Gi, dia matiin telepon gue gitu aja," ucap Sultan sembari memasukan kembali Hpnya itu ke dalam saku celananya tersebut.


"Ada masalah apa emang Tan?" tanya Yogi sembari menghembuskan asap rokoknya itu setengah demi setengah.


"Dia belum bisa nerimain gue pergi jauh Yog."


"Ciee, kawan gue yang satu ini memang beda kisah cintanya nih dari yang lain-lain. Jadi, elu mau gimana sekarang Tan?".


"Sementara ini gue masih tetap dalam pendirian gue Yog."


"Cinta ... cinta memanglah pilihan hidup yang harus kita tentukan sendiri, namun cinta takan pernah bisa hidup tanpa adanya sebuah usaha hati, tanpa adanya keteguhan hati."


"Bahagia akan tiba pada waktunya nanti, namun seberapa lama waktu itu akan terus berjalan? dan di sini lah kita yang harus menentukan pilihan itu, supaya kita bisa mengetahui, apa itu arti kata sabar dari sebuah rasa sayang," ucap Sultan yang membuat Yogi terkagum-kagum kepadanya.


"Tunggu sebentar! kata-katanya bagus, boleh anda ulang, untuk saya jadikan caption di story Whatsapp saya," ucap Yogi kembali, sembari membuka rekaman suara diteleponnya itu.


"Suatu alasan bagiku, kenapa aku masih tetap mempertahankanmu di sini? karena hatiku hanya bisa memilihmu, dan tak mungkin aku bisa memilih yang lain selain dirimu. Dan sementara itu, inspirasiku di sini melebihi dari hanya sekedar prioritas saja, melainkan sang kasih yang telah aku cintai dan telah aku dapati," ucap Sultan dalam hati sembari menatap langit-langit biru yang menjulang tinggi di atas sana.

__ADS_1


__ADS_2