
Bang Falah merupakan salah satu karyawan pertama yang ingin mengenal dekat seorang Sultan, dikarenakan dia merasa bahwa kepribadiannya itu sungguh sangat berbeda bila dibandingkan dengan teman-temannya yang lain.
Dia terus mengajak Sultan berbincang sembari menerangkan apa yang harus ia kuasai ketika dirinya sedang bekerja, ataupun sedang melaksanakan tugas prakerinnya di Perusahaan itu.
Dia pun bertanya kepada Sultan, kalau dia berasal dari sekolah mana dan di Kota mana dia tinggal. Sultan pun menjawab dengan penuh rasa akan percaya dirinya, walaupun hati berkata dia masih merasa malu dan masih merasa asing ketika mana dia menginjakan kakinya tersebut di Perusahaan yang sungguh besar ini.
"Lu asli orang Indonesia kan Tan? tapi kok, wajah lu agak sedikit menyatu dengan wajah warga asing ya, jangan-jangan ibu lu atau bapak lu keturunan warga asing juga?" tanya Bang Falah tak logis.
"Kayaknya lu adalah anak hasil dari persilangan antar kedua bapak lu dah Tan," ucap Bang Boa pun sama tak logisnya.
Bang Falah tertawa, dan Bang Boa pun ikut tertawa, namun beda hal nya dengan Bang Udin, yang di mana beliau lebih memilih untuk tetap tersenyum saja, dikarenakan sifat mereka memang sudah gila seperti itu dari awal sebelum Sultan mengenal dekat kedua karyawan tersebut.
"Bisa jadi iya, bisa jadi engga sih Bang, tapi saya berharap itu engga akan pernah terjadi kepada saya, dikarenakan saya takut bilamana nanti saya menanyakan hal tersebut kepada ibu saya, maka beliau akan menghapus nama saya dari kartu keluarganya," ucap Sultan yang memang dia pun sudah sama gilanya dengan mereka berdua.
Jawabannya itu semakin membuat ketiga karyawan tersebut tertawa lepas, dan mungkin ini akan menjadi salah satu poin untuk dirinya agar bisa memahami lebih dalam lagi sifat asli dari kedua karyawan tersebut itu di sana.
"Ternyata dia sama kayak kita Bo, gue kira tadi elu itu orangnya pendiam Tan, tapi gue salah," Bang Falah mulai merasakan seberapa asik dan seberapa lucunya berbincang bersama dengan Sultan.
"Semoga lu betah Tan, PKL di sini," ucap Bang Boa yang masih tersenyum di hadapannya.
"Amin Bang, semoga saja saya bisa betah di sini, walaupun pada dasarnya saya ... ," ucapan Sultan terhenti dengan seketika, dan itu adalah suatu hal yang dia buat untuk membuat kedua karyawan itu menunggu ucapannya.
Sultan terdiam tanpa suara, yang di mana ketiga keryawan itu pun ikut terdiam karena mereka menunggu ucapan yang akan dia ke luarkan tadi itu, namun ia benar-benar membuat mereka tertawa.
Bagai mana bisa? ya, dikarenakan dia memberikan reaksi wajah polosnya kepada mereka bertiga, yang seolah-olah dia baru saja kehabisan kata-katanya untuk ia ucapkan lagi.
"Idih ... kenapa diam Tan? lu bingung ya?" tanya Bang Falah kembali tertawa.
__ADS_1
"Gue udah nunggu nih Tan," Bang Boa melanjutkan perasaan yang sama dengan temannya itu, yang di mana mereka semua sama-sama menunggu lanjutan ucapan yang akan dia lontarkan.
"Kagak jadi dah Bang, gue bingung mau bilang apa. Aduhh ... tuh kan, saya jadi lupa! udah berapa banyak kabel flexibel yang saya hitung tadi," ucapnya sambil menghitung kembali kabel flexibel yang sangat tipis itu.
Kabel tersebut merupakan kabel yang sering digunakan dalam bagian radio mobil, dan tepatnya benda itu sangat berpengaruh dalam nyala-menyalakan LCD dari layar radio mobil.
....
Sultan menggaruk-garuk kepalanya, dikarenakan setiap dia menghitung jumlah kabel tersebut, otaknya tak dapat meresponya dengan begitu baik, sehingga ia harus mengulanginya lagi dan lagi.
Apalagi kabel itu sangat tipis, dan juga sering kali menempel dengan salah satu kabel yang tengah dia hitung itu jumlahnya.
Bang Boa memakluminya, dikarenakan ini adalah hari pertama bagi dirinya melaksanakan tugas prakerinnya itu di sana.
Sultan seperti anak ayam yang selalu mengikuti induknya setiap saat, dan sekarang itu adalah Sultan, dia selalu mengikuti Bang Boa kemana pun dia pergi, tapi tidak mengikutinya masuk ke dalam toilet umun.
Waktu istirahat telah tiba. Sultan bersama dengan temannya berkumpul di suatu tempat yang telah ditentukan sebelumnya.
"Oke, Bang siap, saya mau panggil teman-teman saya dulu sebentar," jawab Sultan melihat ke arah belakang.
Bila soal urusan permakanan, ternyata mereka semua sangat sigap meresponnya. Mereka semua telah menunggu Sultan di bawah tangga untuk menuju ke lantai dua.
Dimas memanggil nama Sultan, dan setelah itu mereka pun lalu pergi dari dalam ruangan Perusahaan. Mereka semua berbaris di tempat yang telah di sediakan untuk para karyawan mengambil makan siangnya.
Setelah Sultan melaksanakan makan siangnya itu bersama dengan semua teman-temannya, lantas Bang Boa pun memanggil namanya dan menyuruhnya untuk mengikuti dirinya.
Sepertinya dia ingin mengajak Sultan pergi ke luar dari dalam Perusahaan, namun tidak dengan mengajak Sultan bolos di hari pertamanya itu.
__ADS_1
"Tan, lu mau ke mana? sini ikut sama gue, kita ngerokok di luar perusahaan," ajak Bang Boa sembari menepuk pundak Sultan.
"Saya mau masuk ke dalam lagi Bang."
"Rajin amat lu Tan, ini masih jam istirahat, mendingan kita diam di luar dulu sambil merokok, elu merokok kan Tan?".
"Emang boleh Bang?".
"Boleh kok, Tan, engga ada yang melarang ini, asalkan kita merokoknya jangan di dalam ruangan, nanti kena marah sama Pak Tami."
"Siap Bang," ucap Sultan yang langsung menghampiri Bang Boa.
Bang Boa menyuruh Sultan untuk memanggilkan semua teman-temannya agar supaya mereka pun bisa mengenal dekat dirinya juga.
Mereka ke luar dari ruang lingkup Perusahaan, dan semua teman Sultan membeli beberapa batang rokok di warung gubuk sederhana.
Mereka berbincang bersama dengan para karyawan yang lain di sana. Tapi sebelum itu, ibu pemilik warung gubuk tersebut sempat merasa heran dengan semua teman-teman Sultan yang memang beliau tidak pernah melihatnya selama beliau berjualan di sana.
Sultan menjelaskan bahwa mereka semua baru datang dari Kota Sukabumi. Ibu penjual warung itu merasa senang, dikarenakan beliau bisa menemukan anak PKL lan yang sama-sama memiliki darah sunda.
"Maaf sebelumnya, ibu engga pernah melihat kalian mengunjungi warung ibu ini," ucap beliau dengan nada bicara yang agak sedikit kesunda-sundaan.
"Iya Bu, sebelumnya kita mau memperkenalkan diri terlebih dahulu, perkenalkan kita semua siswa yang berasal dari Kota Sukabumi," ucap Sultan dengan sopannya.
"Syukur alhamdulillah kalau begitu, ibu senang sekali bisa menemukan siswa PKL lan yang sama-sama memiliki darah sunda," jawab ibu itu dengan riangnya karena beliau baru pertama kali melihat siswa jauh datang ke Kota Tangeran ini.
Sebenarnya ada juga siswa yang berasal dari Kota, entah itu Kabupaten. Tapi, mereka sama-sama memiliki darah sunda, walaupun siswa tersebut bisa dibilang selalu mengutamakan bahasa adat sunda yang agak sedikit kasar, tetapi mereka semua sama-sama memiliki jiwa dan darah yang berasal dari tanah sunda juga.
__ADS_1
Siswa dari sekolah SMK Pandeglang, itulah mereka, yang di mana mereka pun sama-sama berdarah daging yang berasal dari tanah Sunda.
Mereka jarang terlihat oleh beliau, dikarenakan siswa tersebut di tempatkan disuatu bagian yang berbeda dengan Sultan, yakni dibagian Perusahaan yang kedua.