
"Tan gue duluan ya, elu hati-hati di jalan, udah itu gue nitip Teh Siti sama elu ya," ucap Alamsyah yang masih saja ingin mengajak Sultan bercanda.
"Harusnya gue yang bilang kayak gitu Lam, soalnya rumah gue dengan rumah lu jauhan rumah elu, yaudah kalau begitu hati-hati Alam," ucap Sultan sembari berjabatan tangan dengan semua teman-temannya.
Mereka meninggalkan Sultan, lantas Sultan pun kembali masuk ke dalam mobil Bogoran itu. Sebelumnya Mang Asep akan mengantarkan Siti terlebih dahulu, dan setelah itu Mang Asep baru akan mengantarkan Sultan hingga ke rumahnya.
Di depan rumah Siti yang berpas-pasan dengan jalanan besar, Siti pun lalu turun dari mobil dan berucap kata terima kasih kepada Sultan dan amang sopir karena mereka telah menjaga dirinya dengan sebaik mungkin.
"Terima kasih Sultan, Mang Asep, kalau begitu saya pamit duluan ya, soalnya ibu saya udah nunggu di dalam rumah dari tadi," ucap Siti dengan manisnya, yang di mana dia pun melambaikan tangannya kepada Sultan dan Mang Asep.
Sultan membalas lambaian tangannya, dan kemudian mereka berdua pun pergi pada saat Siti telah memasuki rumahnya.
Mang Asep benar-benar mengantarkan Sultan hingga ke depan gang rumahnya, Sultan pun sama mengucapkan kata terima kasihnya kepada beliau, dan tentunya ucapan itu harus tersampaikan olehnya.
Sultan membayar uang ongkos semua temannya dan juga uang ongkos Siti, mereka sengaja menitipkan uang itu kepada Sultan karena dia adalah orang paling terakhir yang turun dari dalam mobil tersebut.
Sultan memberikan lebih uang ongkosnya, dan Mang Asep sama sekali tak menghitung jumlah uang tersebut, beliau justru tak menakutkan uang ongkos mereka yang kurang, melainkan beliau hanya takut bila melihat mereka memberikan uang tambahan untuk dirinya.
"Mang, terima kasih ya, sepatutnya amang engga perlu mengantarkan saya sampai ke rumah, dan ini uang yang saya kumpulkan dari teman-teman saya semua, beserta dengan uang dari Siti juga," Sultan langsung memberikan uang itu tanpa sedikit pun memberitahukan bahwa dia memberi uang lebih untuk ongkosnya sendiri.
"Engga apa-apa Tan, sebelumnya amang terima uang ini ya, dan amang mau bilang makasih juga karena kalian udah mau memenuhi mobil amang," ucap beliau yang masih saja memperlihatkan sikap rendah hatinya kepada Sultan.
Setelah itu Mang Asep pergi, Sultan pun lalu masuk ke dalam rumah dan disambut dengan meriahnya oleh pihak keluarganya.
Beberapa Minggu berjalan rumah sangat sepi tanpa kehadirannya di sana, maka tak heran kenapa mereka menyambutnya dengan sebahagia itu.
__ADS_1
Berhubung Rere masih belum terbangun dari tidurnya, maka dari itu Sultan pun ikut tertidur juga. Malam ini ia nampak kelelahan, apalagi perjalanan untuk menuju pulang ke Sukabumi jaraknya memang sangat jauh.
Untung saja mereka pulang dari Tangerang menaiki kereta listrik, jadi mereka bisa sampai sebelum tengah malam, kira-kira malam itu Sultan tiba di Sukabumi pada pukul setengah sepuluhan lebih.
Setelah Sultan membersihkan dirinya, ia pun lalu tertidur dengan lelapnya, sampai-sampai makanan yang telah disediakan oleh ibunya itu pun tidak dia makan.
Setelah Sultan melaksankan salat isyanya, ia pun langsung tertidur pulas, ibunya sempat memanggil namanya, namun tak ada jawaban dari Sultan sama sekali.
Lantas beliau membuka pintu kamar Sultan, dan ternyata dia sudah terlelap dalam tidurnya dengan handphone yang masih menyala.
....
"Pantas saja ini anak dari tadi dipanggil-panggil engga yaut-yaut, ternyata dia udah tidur," ucap beliau yang sempat melihat handphone Sultan masih menyala.
Pada saat beliau akan mematikan ponselnya itu, dengan seketika beliau tersadar bahwa Sultan tengah berteleponan bersama dengan Rere.
Kebiasaan itu memang sering Sultan lakukan bersama dengan Rere, jadi beliau tak merasa heran lagi kalau melihat mereka berdua tertidur tanpa mematikan suara teleponnya itu.
Pintu kamar di tutup kembali oleh ibu Sultan, dan lalu beliau membereskan semua makanan yang telah dia sediakan sebelumnya untuk Sultan.
Angin malam terasa masuk hingga ke dalam kamar Sultan. Ia terbangun dengan seketika hanya untuk menarik selimutnya, namun ia melihat bahwa jam dinding yang berada di dalam kamarnya telah menunjukan pukul setengah 4 pagi.
Ia lebih memilih untuk menggunakan jaketnya saja dan mencoba membakar satu batang rokok. Sultan ke luar dari dalam rumah sambil membawa teh susu hangat yang dia buat sendiri.
"Udah jam segini elu masih belum bangun Re! padahal elu tertidur lebih dulu daripada gue, mungkin beberapa menit lagi elu akan sadar bahwa gue nunggu elu semalaman," ucap Sultan dengan di tatapnya panggilan suara yang masih terhubung itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian suara azan salat subuh telah berkumandang. Sultan masuk kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil sarung serta menganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum melaksanakan ibadah salat subuh berjamaah di dalam mesjid.
Salat subuh pun tak berlangsung lama, hingga mana Sultan terkejut melihat ibunya telah menggenggam ponsel miliknya.
Sultan mendengarkan suara ibunya dari luar kamar, yang di mana beliau sepertinya tengah berbincang bersama dengan Rere.
"Sultan sampai di rumah jam berapa Mah?" tanya Rere kepada ibu Sultan dengan lembutnya.
"Jam setengah sepuluh lebih kayaknya Re, mamah lupa lagi, soalnya mamah engga sempat melihat jam juga," ucap ibu Sultan yang sama lembutnya dalam menjawab pertanyaan Rere.
"Rere engga sengaja ketiduran Mah, Rere juga mau minta maaf sama mamah," ucap Rere membuat ibu Sultan terheran-heran! kenapa dia meminta maaf kepadanya.
"Kenapa Rere minta maaf sama mamah? lagian semalam setelah Sultan selesai melaksanakan salat isyanya, dia juga langsung tidur, malahan makanan yang mamah siapin engga dia makan."
Tanpa sengaja ibu Sultan melihat anaknya yang tengah berdiri sambil menyandarkan punggungnya di samping pintu kamarnya.
Beliau berbicara kepada Rere bahwa Sultan telah selesai melaksanakan salat subuh berjamaahnya di dalam mesjid.
Beliau memberikan ponselnya kepada Sultan untuk berbicara dengan Rere kembali, sepertinya Rere merasa tak enak hati kepada Sultan, dikarenakan malam tadi dia sempat tertidur tanpa Sultan ketahui.
Sebelumnya beliau sempat berbicara kepada Sultan agar dia tidak terlalu mengekangnya dengan tegasan yang selalu dia berikan kepada Rere.
Sultan mengangguk paham, lagipula tegasanya itu bukan bersifat lebih mengutamakan kemarahannya, melainkan dia hanya mengutamakan apa yang harus dia berikan kepada Rere agar Rere memahami apa maksud dari tegasannya tersebut.
"Pacar gue yang cantik udah bangun ternyata, gimana tidurnya, nyenyak kan? alhamdulillah kalau nyenyak Re, ngomong-ngomong kamu udah salat subuh belum?" tanya Sultan dengan manis.
__ADS_1
"Kirain kamu bakalan marah sama gue Tan, karena malam tadi gue engga sengaja ketiduran," ucap Rere merasa lega ketika dirinya mendengar suara manis dari Sultan yang begitu saja dia berikan kepada Rere.