Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 239 : Arti kata sadar


__ADS_3

Setelah Sultan masuk ke dalam kamarnya, ia pun lalu pergi dari dalam sana untuk mencari angin segar di luar ruangan rumahnya.


Tak cukup jauh, Sultan hanya berdiam diri di luar teras rumahnya saja sambil melihat-lihat foto Rere. Rasanya waktu ini belum tepat bilamana ia menghubungi wanitanya di sana, dikarenakan sebentar lagi waktu salat magrib pun akan segera tiba.


Sementara di kediaman Rere, di mana terlihat bahwa dia sekarang tengah menunggu Sultan mengabarinya di ruang tamu bersama dengan adik prianya.


Rere memang sering mengajarkan adiknya belajar, namun adiknya pernah bilang kepada Sultan bahwa kakaknya itu sangat kasar, beda hal nya dengan cara Sultan mengajari adik Rere itu belajar seperti apa.


Bila dipikir-pikir dengan cara Sultan mengajarkan adiknya itu memahami pelajarannya, memang jauh lebih sabar sosok Sultan, sedangkan sosok Rere orangnya tak sabaran, cara dia mengajarkan adiknya itu cukup kasar, dan ternyata sikap dia tak sama dengan apa kecerdasan yang dia miliki sekarang.


"Cepetan isi jawabannya! jangan nunggu teteh yang ngasih tahu jawabannya, kalau cara belajar kamu seperti ini terus, sampai kapan pun kamu engga akan pernah paham, dan kamu engga akan pernah tahu arti dari semua kunci jawabannya apa," ucap Rere agak sedikit membentak adiknya, namun bentakannya itu tak dapat masuk ke dalam otak adiknya.


"Mah, si teteh galak nih! adek males ah belajar sama teteh! adek doain ya, semoga nanti teteh engga akan bisa jadi guru kalau teteh ngajarin adek galak seperti ini, amin," ucap adiknya terlihat begitu lantang menasehati kakak wanitanya di sana.


"Udah berani membantah omongan teteh sekarang ya! siapa sih orang yang udah ngajarin kamu melawan nasehat teteh? coba bilang sama teteh, siapa dia?".


"Pacar teteh yang bilang sendiri sama adek, katanya kalau teteh ngajarin adek dengan cara kasar seperti ini, adek harus bisa melawannya."

__ADS_1


Rere tercengang, dan ternyata orang itu adalah pacarnya sendiri, kenapa bisa dia berbicara seperti itu kepada adiknya di sana, sampai-sampai adiknya sekarang berani berkata seperti itu dengan begitu pedenya.


Rere menyuruh adiknya untuk menyimpan buku PR nya itu terlebih dahulu di dalam kamarnya, dikarenakan sebentar lagi magrib, dan dia harus pergi melaksanakan ibadah salat wajibnya, serta mengaji di dalam musala.


Rere sudah menyiapkan beberapa alasan untuk memarahi sosok Sultan, tapi apakah dia bisa membuat Sultan merasa bersalah atas apa nasehat yang telah dia berikan kepada adiknya itu? mungkin Sultan akan tetap membela dirinya sendiri bahwa apa yang dia berikan itu memang benar.


Tak lama kemudian waktu yang telah ditentukan pun tiba, di mana Sultan menelepon wanitanya lebih dulu karena sebab Rere sama sekali tak mau menghubunginya hingga jam dinding yang berada di dalam kamar Sultan telah menunjukan pukul delapan malam.


"Assalamu'alaikum, maaf baru bisa ngabarin kamu Be, abisnya malam ini aku harus menyiapkan barang-barang yang akan aku bawa ke Tangerang besok," ucap Sultan dengan lembutnya menyapa Rere di malam hari yang begitu dingin ini.


"Hmm, iya Tan, Wa'alaikum Salam, udah puas ngomongnya! sekarang giliran gue, sebenarnya mau kamu apa sih? sampai-sampai adik gue berani membantah ucapan gue sekarang di sini," ucapan Rere benar-benar membuat Sultan bingung, kenapa dia memarahinya seperti itu.


"Apaan sih Be! engga jelas beut dah! emangnya kamu engga bosen apa setiap hari selalu saja marahin pacarmu yang sungguh menggemaskan ini, lagipula aku engga tahu apa yang kamu maksud itu, emangnya adikmu bilang apa? sampai-sampai kakanya semarah ini sama pacarnya sendiri," tanya Sultan dilanda penuh kebingungan.


"Masa iya sih kamu ngajarin adik gue untuk melawan gue di sini Tan, lagian apa yang selama ini gue lakukan seharusnya sudah benar," ucap Rere berbicara dengan menggunakan nada suara yang agak sedikit tinggi.


"Itu kan cuma seharusnya Be, dan belum tentu semua ucapanmu itu benar, lagian asalkan kamu tahu ya, bahwa apa yang selama ini kamu berikan kepada adikmu itu sebenarnya terlalu berlebihan, masa iya kamu mengajari dia dengan tindakan tegas."

__ADS_1


Sultan sengaja menjeda ucapannya, dikarenakan ucapannya akan dia sampaikan sejelas dan sepanjang mungkin agar wanitanya itu dapat memahami secara jelas apa maksud dia berbicara kata seperti itu kepada adiknya.


Sultan mulai mengambil napas panjanya, mungkin malam ini akan menjadi malam yang sangat berarti bagi Rere, bahwa pada dasarnya ketegasan itu memiliki beberapa arti yang berbeda.


"Sebenarnya menegaskan itu berbeda artinya dengan terlalu menegaskan, dan cara yang kamu lakukan itu lebih berpacu ke arah terlalu menegaskan Be, di mana apa yang selama ini kamu ajarkan itu tidak lain terlalu berlebihan, dan terlalu memaksakan dia untuk memahami pelajaran yang dia pelajari itu secepat mungkin."


"Semua ada tahapnya Be, kamu engga harus mengajari dia dengan mengungkit-ngungkit masalalumu dulu seperti apa, ini zaman yang berbeda, semua butuh ketenangan agar adikmu itu dapat mencerna semua ucapanmu secara jelas tanpa adanya rasa yang menyangkut pautkan dengan hatinya sendiri."


"Belajar itu sama hal nya dengan menulis, bila tulisan aku ini diburu-buru oleh seseorang yang menginginkannya, maka hasilnya takan maksimal, dan mungkin perasaan adikmu akan sama dengan perasaan aku itu Be."


"Ketenangan adalah tempat terbaik untuk melampiaskan semua beban hidup kita Be, menulis dan belajar memiliki arti yang sama, bahkan disaat kita lelah pun yang kita cari-cari itu adalah sebuah ketenangan, bukan keributan ataupun masalah sepele yang harus kita debatkan."


Setelah Sultan berbicara panjang lebar, Rere terdiam dengan seketika tanpa dia mau membicarakan masalah ini lagi kepadanya.


Memang benar apa dugaan Rere, bahwa Sultan takan pernah menyerah begitu saja, apalagi dia adalah pria yang pandai dalam membalikan kata-kata dan fakta.


"Males ah! elu engga pernah mau mengalah sama pacar sendiri Tan, perasaan gue belum pernah melihatmu benar-benar takut dengan kemarahan gue ini," ucapan Rere terdengar agak sedikit terhentak, dikarenakan mungkin dia sudah kehabisan kata-katanya dan sudah tak sanggup untuk melontarkan kembali ucapannya yang lain kepada prianya itu.

__ADS_1


"Udahlah Be, kamu bukan ahlinya dalam meperdebatkan suatu masalah yang seperti ini, lagian pacar gue ini adalah tipe cewe yang bisanya cuma mengalah demi kebaikan pacarnya sendiri, apa pun yang kamu lakukan itu memang selalu benar dimata gue, namun itu tak semuanya benar, hanya saja aku sedang melatihmu agar kamu paham dan tahu apa itu dari kata sadar."


Ucapan Sultan yang terakhir membuat wawasan Rere bertambah lagi. Sudah terlalu lama Sultan mengajari dia apa itu arti dari kata sadar, namun yang dia dapatkan selalu saja tak sesuai dengan harapannya, tapi untung saja sosok Sultan selalu ada dan tak pernah meninggalkannya disaat dia merasa gagal dengan hasil buruknya itu.


__ADS_2