Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 257 : Takan pernah meninggalkan


__ADS_3

"Jadi begini ya, Lam, asalkan elu tahu, seorang teman takan pernah meninggalkan temannya begitu saja, apalagi sampai melupakannya, seharusnya elu jangan banyak bertanya Lam, dan elu engga perlu tahu kenapa gue bisa ada di sini, yang jelas elu hanya perlu berterima kasih sama si Wildan bego, kalau misalkan gue engga menemukan putung rokoknya di depan sana, mungkin gue engga akan sampai ke sini."


Penjelasan Sultan membuat Alamsyah bingung, kenapa bisa dia menyebut nama Wildan, padahal Wildan tak melakukan apa-apa di sana selain bertarung habis-habisan bersama dengannya.


Mungkin ini akan menjadi pertanyaan terakhir bagi Alam, dia hanya ingin bertanya satu hal lagi kepada Sultan tentang alasan Sultan menyuruhnya untuk berterima kasih dan rokok apa yang dia maksud itu.


"Kenapa gue harus berterima kasih sama si Wildan, dan rokok yang elu maksud itu apa Tan? gue masih bingung, bisa elu ceritakan sedetail mungkin kagak Tan," tanya Alamsyah, di mana dia pun mematikan rokoknya dan lebih memilih untuk tetap fokus ke arah jawaban Sultan saja.


Sultan mengabaikan pertanyaan dari Alamsyah, dikarenakan dia tengah mengamati Dimas yang sedang berkelahi bersama dengan kedua musuhnya itu di hadapannya sekarang.


Sultan takan pernah mau menjawab pertanyaan dari Alam sebelum dia melihat Dimas memenangkan pertarungannya itu terlebih dahulu di sana.


Sultan bergumam pada saat dia melihat perut Dimas terpukul oleh lawannya, lantas Sultan pun menyemangati temannya itu dengan berteriak seperti orang-orang yang sedang menonton sepak bola di podium.


"Aduhh ... perutnya malah kepukul lagi! ayo, bego! maju terus jangan sampai mundur, masa elu kalah sama mereka berdua, ingat badan tuh," ucap Sultan menyoraki Dimas tanpa terdengar suara sorakan yang lain.


Setelah selesai bertarung, semua temannya duduk terdiam sambil membakar, dan menghisap, serta menghembuskan asap rokoknya ke atas langit malam.


Tinggal Dimas seorang yang masih belum menyelesainkan pertarungannya di sana, perasaan Dimas sama sekali tak terlihat kelelahan, padahal waktu telah berjalan kurang lebih 10 menitan, dan dia di sana masih saja mengulur waktunya.

__ADS_1


"Dimas bego! lama amat dah elu ya! cepetan beresin semuanya, dan tolong bawa orang yang telah mengadu dombakan gue sama teman-teman gue tadi."


Alamsyah berbicara kepada Dimas agar dia membawa satu orang yang sudah mengadu dombakan semua temannya, dan seseorang tersebut itu adalah brandalan yang tengah dia hadapi.


"Ternyata elu biang keroknya! ikut gue sekarang! selain dia, siapa lagi yang memiliki masalah sama teman-teman gue? bila tidak ada yang lain, lebih baik kalian semua pergi sebelum teman-teman gue berubah pikiran."


Dimas pun membiarkan mereka semua pergi meninggalkan temannya yang tengah dia tawan itu di sana, lantas tanpa belas kasihan Dimas membanting tubuh musuhnya hingga terpental tepat mendarat di hadapan Alamsyah.


"Maksud elu apa mengadu dombakan gue! perasaan gue engga ada niatan mengambil pacar elu yang bernama Aisyah itu, gue cuma lagi membuntuti kedua teman gue aja tadi, dan elu dengan seketika malah menuduh gue yang tidak-tidak, gila lu ya!".


Penjelasan Alamsyah membuat Sultan sadar, bahwa ternyata dugaan dia itu benar, yang di mana Sultan sempat berbicara kepada Dimas tentang ucapan Alamsyah tadi.


....


Brandalan yang mengaku menjadi pacar Aisyah itu ternyata adalah pembohong, sepertinya dia mencintai Aisyah, namun sampai saat ini Aisyah hanya memiliki satu pacar saja, bahkan Aisyah pun menganggap dia sebagai pengganggu, tapi dengan sikap percaya dirinya dia malah mengarang cerita tentang hubungan dia bersama dengan Aisyah.


"Engga tahu malu lu bolot! lu dengarkan apa kata Sultan tadi? dia tahu segalanya tentang Aisyah, mana mungkin wanita secantik dia mau sama elu," ucap Alamsyah dengan tatapan penuh kegeramannya, di mana dia hanya menampar wajah brandalan tersebut satu kali tamparan keras saja, dan sisanya tinggal Sultan yang mengurusnya.


"Mau diapain lagi nih Tan? gue rasa kalau ditinggal begitu saja dia engga akan berubah," tanya Azmi yang sama geramnya seperti Alamsyah.

__ADS_1


Sultan berbisik ditelinga semua temannya agar mereka dapat melaksanakan perintah darinya sesuai dengan rencana yang telah dia tentukan.


Seluruh temannya setuju, dan mereka pun membawa brandalan itu serta mengikat tubuhnya disalah satu pohon yang cukup rindag, mungkin itu adalah pohon yang paling besar diantara pohon-pohon yang lain.


Cara Sultan memberi hukuman kepada brandalan tersebut itu tetap sama dengan dia memberikan hukuman kepada semua temannya di Sukabumi, di mana semua anggota tubuh brandalan itu diikat menggunakan tali rapia sampai dia tidak bisa menggerakan semua tubuh luarnya.


Sultan mulai menghitung mundur dari angka 3, setelah itu rencana Sultan untuk menggelitiki tubuh brandalan tersebut berjalan sesuai dengan rencana.


"Malam ini cukup sampai di sini saja bermain adu jotosnya, sekarang tinggal bercanda-canda saja ya, silahkan gelitiki tubuhnya hingga dia ngompol," ucap Sultan yang tak langsung turun tangan, dia lebih memilih untuk tetap diam saja dan membiarkan seluruh temannya merasa puas atas apa yang sekarang tengah mereka lakukan terhadap brandalan tersebut itu di sana.


Brandalan itu hanya bisa meminta ampun saja, namun ucapannya takan pernah membuat hati mereka luluh begitu saja setelah apa yang dia lakukan terhadap semua teman-teman Sultan di sana.


"Oyy, udah malam, mendingan kita balik ke kontrakan aja, perut gue mulai rese nih, biarin dia sendirian di sini, nanti juga teman-temannya balik lagi, sementata ini lu ditemani sama nyonya kunti saja ya," ledek Sultan membuat brandalan itu ketakutan.


"Lain kali kalau mau nyari masalah jangan sama-sama anak rantau oke, gue kira lu asli orang sini, ternyata elu juga adalah orang jauh, sama seperti kita-kita," ucap Azmi satu pemikiran dengan semua temannya, bahwa apa yang dia sebut-sebut itu tidak lain maksudnya, yaitu orang-orang di sini semuanya adalah orang-orang yang sangat ramah.


Hanya karena cemburu mereka bisa berkelahi, dan memang apa yang Azmi ucapkan itu benar terasa nyata adanya, orang-orang di sana memang pada ramah, bahkan satu rangkulan dapat menambahkan beberapa rangkulan lagi bilamana mereka menjaga ikatan tali persaudaraannya di sana.


Mereka semua pulang dengan perasaan damai, walaupun tulang punggunya pada sakit semua, tapi tetap saja tawa itu masih terlihat utuh diraut wajah mereka.

__ADS_1


Canda pun masih bisa mereka rasakan, sampai nikmatnya rokok yang mereka hisap pun masih terasa nikmat, bahkan itu lebih nikmat dari jam-jam sebelumnya.


__ADS_2