Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 109 : Angin kebahagiaan


__ADS_3

Dengan seketika keringat dingin pun mulai bercucuran disekujur tubuhnya, dan semua itu terlihat seperti mimpi saja, namun tentunya itu sungguh nyata adanya, yang di mana rasa takut itu tengah dia rasakan sekarang di sana sendirian.


Ini semua bukan soal jabatan yang pernah dia pegang sebagai petugas Sweeper, atau semua orang bisa menyebutnya dengan istilah seseorang yang selalu berdiri dibarisan paling belakang dengan gagah dan bisa dibilang paling pemberani.


Sultan bukanlah seorang pendaki Solo, melainkan dia adalah pendaki Grup, yang di mana tentunya perbedaan itu bisa kita bedakan sendiri, dan artinya Sultan bukan seorang yang bisa menentang alamnya sendiri, dan bahkan ia sendiri pun masih membutuhkan sosok teman yang bisa saling mendampinginya juga.


Rasa takut memang ada, namun Sultan tengah berusaha melawan rasa takut itu agar supaya apa yang dia lihat sekarang itu tidaklah nyata.


"Kapan hadirnya cinta? dan kapan perginya cinta? semua itu adalah suatu masalah yang memang kita tak dapat menduganya, selagi bosan cinta itu akan menjauh pergi, dan selagi sepi cinta itu akan hadir kembali," ucap Sultan sembari menatap sosok wanita yang tengah duduk terdiam di atas batang pohon rindang itu.


Sosok itu tertawa nyaring kepada Sultan di atas batang pohon rindang itu di sana, hingga mana dia berpikir apakah kata-katanya itu telah membuat dirinya merasa sangat senang, dan entah apa dia merasa sangat tersinggung dengan ucapannya itu.


"Turun lu cewek jelek! gue lempar nih pake batu! beraninya cuma ke luar malem lu bolot! sini lawan gue kalau emang elu berani, kagak takut gue sama elu," ucap Sultan sembari melamparkan batu ke arah sosok wanita itu dengan keras.


Di dalam hatinya tak ada kata seperti itu, dan tentunya dia hanya sedang memberanikan dirinya saja, dikarenakan sosok seperti itu pasti akan takut kepada dirinya, bukan melainkan dia yang takut kepadanya.


Sikap itu memang harus tertanam di dalam dirinya sendiri, dan bahkan semua orang pun harus bisa berani untuk melawannya, dikarenakan semua ini bukanlah alamnya, melainkan ini adalah alam kita sebagai makhluk bumi yang asli.


"Ngilang kan lu! awas aja kalau lu tiba-tiba duduk di jok belakang motor gua! dan tentunya gue engga akan segan-segan untuk melenyapkan lu dengan kalimat suci Allah," ucap Sultan yang masih terlihat emosi, dikarenakan dia lah Sultan tak bisa menjawab panggilan telepon rindu dari kekasih aslinya itu.


Sosok makhluk yang tengah mencari perhatian itu, dengan seketika hilang begitu saja ketika Sultan melemparkan batu itu ke arahnya, dan tentunya dia tak sembarangan melempar batu itu dengan ucapan kosong tanpa membaca ayat suci terlebih dahulu.


Bukan hanya sampai di situ saja, yang di mana sosok wanita jelek itu mulai memberikan sifat menyebalkannya itu kembali kepada Sultan, dan yang pastinya dia pun lalu melempar batu kecil ke arah punggung Sultan, namun tentu saja batu itu adalah batu yang berbeda-beda, dikarenakan bila dia mengambil batu Sultan tersebut itu tadi, maka wanita itu akan berteriak kepanasan.

__ADS_1


"Sakit woii bolot! diam kenapa, kalau lu mau gue hajar! sini datang langsung ke hadapan gue! gue bunuh lu walaupun elu udah mati," ucapnya kembali sambil melajukan motor tuanya itu dengan tergesa-gesa.


....


Sementara itu dikediaman keluarga angkatnya, yang di mana waktu itu mereka tengah menunggu kehadiran Sultan di sana dengan sangat lama, dan janji yang dia berikan kepada kakaknya itu tidak sesuai waktu yang telah dia berikan kepadanya.


Seberapa cemas kakaknya itu mengkhawatirkan Sultan, namun bundanya tetap terdiam dengan santainya, dikarenakan beliau begitu sangat mempercayai anak angkatnya itu bahwa dia akan baik-baik saja.


Kakak angkatnya itu sempat menyuruh ketiga sahabat Sultan itu untuk mencarinya di sekeliling jalanan terdekat saja, namun mereka sama sekali tidak bisa mengikuti apa perkataan yang dia berikan, dikarenakan bunda menolaknya dan sebenarnya mereka bertiga pun takut.


"Sultan ke mana sih! ini udah jam enam lebih loh, tapi kenapa dia belum sampai juga, coba kalian cari di sekeliling jalan sini aja deh, teteh takutnya ban motor dia bocor," ucap kakaknya itu sembari menghampiri ketiga sahabat Sultan itu.


"Gimana ya, Teh, bukannya kita mau menolak ucapan teteh, tapi masalahnya kita juga engga tahu kalau Sultan akan datang apa engganya," ucap Agung yang membuat kakaknya itu merasa jengkel, namun kakaknya itu tidak bisa menyalahkan, dan tak ingin membahayakan keselamatan mereka juga.


"Benar kata Stevia Teh, Sultan bukan pria biasa, dan bahkan hantu seseram apa pun dia masih bisa menantangnya, contohnya Agung, ketika dia kerasukan setan dulu, Sultan yang mengobatinya dengan cara memukul keras punggung dia," ucap Robby yang membuat bunda, Stevia, Danar, dan juga Agung tertawa.


"Bener Rob, sakitnya memang masih terasa pada saat itu, dan tapikan waktu itu gue cuma pura-pura, dan tentunya kalian semua yang menyuruh gue untuk melakukan hal tersebut itu kepada Sultan," ucap Agung yang tak mau melakukan hal itu kembali kepada Sultan.


Grungg, grungg, grungg ....


Suara motor Sultan telah terdengar jelas, dan dengan seketika tatapan tajam serta semua kaki mereka pun dengan sendirinya bergerak maju menghampiri Sultan, namun tentunya bunda lah yang memeluk tubuh anaknya itu untuk yang pertama kalinya.


"Assalamu'alaikum bunda, bunda engga apa-apa kan? bunda sehat kan? Sultan khawatir sama bunda," ucap Sultan yang langsung membercandai bundanya itu, padahal hati dia masih terlihat was-was akan hadirnya sosok wanita jelek itu di hadapannya.

__ADS_1


"Kebalik! harusnya bunda yang ngomong kayak gitu, kamu engga apa-apa kan? kamu engga digodain sama kunti di sana kan?" ucap bundanya, yang di mana Sultan pun berpikir darimana beliau bisa mengetahui hal itu.


"Dari dulu dia emang engga berubah, pasti dia tahu semuanya, mata batinnya memang tak bisa dianggap remeh, dan kelebihan itu selalu menyangkut pautkan dengan semua hati anak asuhannya semua," ucap Sultan dalam hati sembari memeluk tubuh bundanya itu dengan begitu erat.


Stevia, Robby, Danar, dan Agung pun lalu tersenyum ke arah sahabatnya itu di sana, dan di mana kakak manjanya itu langsung menatap raut wajah Sultan dengan tajam, yang di mana setelah bundanya memeluk tubuh Sultan dengan erat, kakaknya itu pun juga memeluk tubuh Sultan hingga mana dia pun kesulitan untuk bernapas.


Sultan hanya bisa terdiam meresapi pelukan hangat yang tengah kakaknya itu berikan kepadanya, dan pelukan itu memiliki banyak arti yang berbeda-beda, yang di mana arti kata sayang, cinta, khawatir, takut akan kehilangan, semua itu adalah arti yang selalu dia berikan kepada Sultan dengan cara memeluk tubuh Sultan sekuat yang dia bisa.


"Rindu ya? maaf ya, kalau gue lama datangnya, dan malam ini tentunya gue mau nepatin janji yang pagi tadi gue ucapin ke elu Teh, seorang Sultan takan pernah ingkar janji, namun terkadang kata ingkar itu memang sulit untuk dihilangkan, tetapi kalau untukmu gue bisa melalukan semua hal, asalkan elu bahagia," ucap Sultan yang masih memeluk erat tubuh kakaknya itu juga.


"Badan elu kok, keringetan sih Tan, apa elu sedang gugup? mendingan elu cepet ganti baju dulu gih Tan, sebelum elu masuk angin, kalau perlu elu pakai baju gue sana," ucap kakaknya itu sembari melepaskan pelukannya perlahan.


"Otak gue masih normal Teh! jangan harap elu bakalan nyuruh gue untuk memakai pakaian terbuka elu di alam terbuka seperti ini," ucap Sultan sembari mencubit pelan pipi kanan kakaknya itu di sana.


"Ihh, bolot! gue bawa baju kaos cowok, dan lagian baju itu bukan pakaian terbuka, melainkan baju Eiger yang elu belikan buat gue."


"Kagak ah, nanti juga kering sendiri, lagian gue engga bau badan kan? jadi gue akan tetap memakai baju ini meskipun harus masuk angin."


"Kok, elu engga pakai jaket sih Tan?".


"Angin malam takan pernah membuat hati ini kedinginan Teh, angin malam adalah sahabat kala sepi gue, dan terlebih angin ini adalah angin puncak kebahagiaan, bagaimana bisa gue melawatkan semua hal ini."


Setelah itu, Sultan bersama dengan semua keluarganya pun, lalu pergi ke musala panggung untuk melaksanakan ibadah salat magribnya berjamaah, dan kebetulan pengurus perkemahan yang sering menjadi imam di sana sudah berada di dalam musala lebih dulu, dan jadi bundanya itu tak perlu lagi menunjuk Sultan untuk menjadi imam mereka sementara.

__ADS_1


__ADS_2