
Waktu terus berjalan tanpa henti, selepas itu pergi tanpa pamit, dan salam, yang di mana perbincangan itu hanya menyisihkan sedikit canda, serta tawa karena esok hari telah menyambut Sultan, untuk menuliskan kembali kisahnya ini bersama dengan sang kekasihnya, yaitu Rere Nuraeni.
Waktu telah menunjukan pukul setengah 10 pagi, yang di mana itu lah Sultan pergi berpamitan kepada kawannya semua di sana, dikarenakan ia tidak mau kalau harus mengganggu hari-hari Rere, yang di mana juga ia mengacaukannya tadi.
"Bro, gue pamit duluan ya," ucap Sultan.
"Hati-hati Tan, makasih atas semuanya ya," ucap semua kawannya di sana.
"Maafin gue ya, Re, karena gue udah mengacaukan hari kesenangan kamu di sana. Pokoknya kamu jangan khawatir Re, gue engga marah sama elu, dan maafin gue kalau gue ini udah selalu membuatmu resah dan risih," ucap Sultan dalam hati, yang di mana ia berbicara seperti itu ketika mana ia akan menjalankan motor tuanya tersebut itu di dalam kosan sana.
Grungg, grungg, grungg ... suara motor tua kembali dinyalakan oleh Sultan, dan yang di mana ia pun lalu meninggalkan kosan itu di sana.
Dan sebelum itu, ketika mana Sultan pergi meninggalkan kosan tersebut itu di sana, semua kawannya itu sempat membicarakan Sultan, yang di mana mereka merasa sangat heran! dia yang menyuruh semua temannya itu untuk berkumpul di sana, dan dia juga yang meninggalkan mereka lebih dulu di dalam sana.
"Kenapa kawan baik kita tiba-tiba pamitan begitu aja ya? elu semua merasa heran kagak sih sama dia belakangan ini?" ucap Iman kala itu.
"Kagak salah lah Men, karena dia juga punya banyak Job menulis, dan terlebih dia juga masih pacarnya Rere, mungkin dia mau membagi waktunya itu untuk kita dulu, sebelum dia membagi waktunya itu bersama dengan Rere di sana," ucap Yogi kala itu juga.
"Tapi gue salut sama dia karena dia mau meluangkan waktunya buat kita terlebih dahulu, sebelum dia memberikan waktunya itu kepada Rere," ucap Maulana kala itu juga di sana.
"Engga kayak elu ya? kalau elu mah lebih memilih mementingkan pacar elu dulu, sebelum bertemu sama kita di sini, benar kan Bro?" ucap Akbar kala itu, yang di mana ucapannya tersebut sudah membuat semua teman-temannya itu tertawa di dalam kosan sana.
Perbingan mereka yang tadi itu, sungguh membuat Sultan tak mengetahuinya, dan bilamana ia mengetahuinya lebih dahulu, mungkin ia akan merasa sangat senang memiliki teman-teman yang seperti mereka itu di sana.
Namun, di jalan sana Sultan hanya tersenyum, dan telinganya seperti bergerak-gerak, ketika mana semua kawannya itu di sana sedang membicarakan kebaikannya tersebut itu.
__ADS_1
Mungkin ia bukan seorang pria yang bisa membaca isi hati seseorang, namun justru ia sadar, bahwa apa yang sedang ia dengarkan itu memang nyata terasa dalam hatinya sendiri, entah apa itu adalah kekuatan, entah itu adalah kelebihan, dan entah apa itu semua hanyalah kebiasaan? Sultan tak pernah membayangkan hal itu terjadi, dan bahkan Sultan tak pernah ingin memilikinya karena ia hanya ingin memiliki Rere saja.
Suara telepon terus-menerus berbunyi, namun Sultan tak mengangkatnya karena jalan yang sedang ia lalui itu memang tepat berada di jalan yang menanjak, bilamana ia menepi ke jalan yang lebih datar, maka teleponya itu akan segera mati, dan bilamana ia memaksakan untuk berhenti, maka dia akan terjatuh.
....
Semua pilihan yang harus ia buat itu, memang selalu serba salah, dan terlebih bilamana ia sakit, maka Rere akan kembali bersedih, dan bukan hanya bersedih, melainkan Rere akan merasa menjadi wanita yang sangat ceroboh karena telah membuat prianya itu jatuh sakit di sana.
Katup gas motornya itu terus ia tarik, supaya motor yang sedang ia kenakan itu bisa melaju secepat mungkin, namun itu takan membuat apa-apa, dikarenakan setelah ini, Sultan akan pergi tertidur kembali sekejap saja, dikarenakan malam tadi, ia tidak tidur terlalu lelap.
"Ini si Sultan kemana sih! ditelepon dari tadi susah amat ngangkatnya! apa dia marah ya? mungkin zuhur nanti, gue mau coba untuk nelepon ibunya di sana, gue cuma ingin tahu keadaan dia aja," ucap Rere dalam hati.
"Kamu kenapa Re? sampai segitu fokusnya melihat handphonemu itu, apakah kamu lagi ada masalah sama Sultan di sana?" ucap Teh Fitri.
"Engga kok, Teh, hanya saja Rere lagi khawatir sama Sultan, kenapa dia engga menjawab panggilan dari Rere, padahalkan Rere hanya cuma ingin tahu aja dia lagi ngapain di sana? apakah dia pulang ke rumah langsung, ataupun main dulu sama temannya."
"Kenapa teteh bisa tahu?".
"Kamu lupa ya, Re? kalau teteh itu kerja di Apotek, masa masalah kayak gini teteh engga tahu sih Re! yaudah Re, engga usah khawatir, dia pasti baik-baik aja di sana."
Ucapan Teh Fitri tadi itu, sungguh membuat hati Rere merasa jauh lebih baik lagi, dan ini bukanlah waktunya untuk bersedih, dikarenakan Sultan di sana sedang menunggunya pulang, dan di sana Sultan pasti sedang menunggu dirinya untuk menuliskan kembali kisahnya ini bersama-sama, di Kota Sukabumi itu di sana.
Motor tua kembali dimatikan oleh Sultan, ketika mana ia telah tiba dirumahnya itu. Ia pun pergi masuk kembali ke dalam kamarnya tersebut, dan lalu ia pun memejamkan matanya itu dengan perlahan-lahan, sampai mana ia pun tertidur pulas dengan sendirinya.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar," panggilan suara azan salat zuhur, telah dikumandangkan oleh seorang Imam mesjid yang selalu mengimami salat wajib 5 waktu di sana.
__ADS_1
"Tan, bangun? salat zuhur dulu sana," ucap ibu Sultan.
"Udah zuhur ya, Mah?" ucap Sultan sambil menatap ibunya di sana dengan menggunakan nada suara yang nampaknya ia sedang merasa kelelahan.
"Udah Tan, cepet bangun dulu, udah itu makan, terus udah itu baru kamu boleh tidur lagi."
Sultan pun dengan seketika mengambil air wudu di kamar mandinya itu, dan ia pun lalu pergi masuk ke dalam mesjid bersama dengan ayahnya.
Kringg, kringg, kringg ... suara telepon ibu Sultan berbunyi, yang di mana waktu itu beliau akan melaksanakan salat zuhur di rumahnya, namun pada waktu itu, Rere sempat menelepon ibu Sultan di sana.
"Asalamu'alaikum, Mah, maaf kalau Rere udah lancang menelepon mamah di sana," ucap Rere.
"Iya Re, engga apa-apa kok, mamah juga lagi santai-santai aja di sini. Ada apa Re? kok, tiba-tiba Rere nelepon mamah, engga biasanya Rere kayak gini, apakah Rere lagi marahan sama Sultan ya?".
"Engga Mah, Rere sama Sultan baik-baik aja kok, Rere cuma mau tanya aja, apakah Sultan udah sampai di rumah? soalnya dari tadi Rere neleponin Sultan engga dia jawab-jawab."
"Ada kok, Re, pacarmu itu ada di rumah, baru aja dia bangun dari tidurnya, dan sekarang dia lagi salat di mesjid sama bapaknya di sana."
"Alhamdulillah, makasih ya, Mah, maaf kalau Rere udah ganggu waktu libur mamah di sana."
"Mamah senang kok, ditelepon sama Rere, kapan-kapan Rere harus main ke sini ya, mamah pengen ketemu sama kamu soalnya, entar kita masak bareng, katanya Rere pinter masak ya? soalnya Sultan bilang masakan kamu itu enaknya sama kayak masakan mamah."
"Sultan bilang begitu bukan sama mamah?".
"Setiap hari Re, ketika mana dia mau makan, pastinya dia akan selalu membanding-bandingkan masakan kamu sama masakan mamah di sini, katanya masakan kita sama-sama enak, dan selalu bikin nagih terus."
__ADS_1
Rere tersenyum dan tertawa bersama ibu Sultan di sana, dan setelah Rere mendengar ucapan dari ibu Sultan tadi, ia pun mulai merasa lega, dan ia pun mulai merasa terpanah karena ternyata Sultan selalu memikirkan Rere di sana, dan nyatanya masakan yang pernah Rere hidangkan kepada Sultan, masih selalu ia ingat-ingat saja rasanya itu seenak apa.