
Tak lama setelah Rere menyuruh Sultan untuk pergi kembali mengunjungi rumahnya itu di sana, dan Sultan pun lalu mengikuti kemauannya tersebut tanpa membantah sedikit pun karena ia akan melakukan segala cara, demi membuat wanitannya tersebut kembali mempercainya lagi.
Kringg, kringg, kringg ... suara telepon menyala.
"Re, aku udah di depan gang ni, jadi mau gimana? aku masuk ke dalam rumah, atau aku harus nunggu di sini?" ucap Sultan lewat telepon suara Whatsapp.
"Tunggu aja di sana, kamu jangan pernah masuk ke dalam rumah aku lagi untuk hari ke depannya," ucap Rere sembari melangkah maju menghampiri Sultan di depan sana.
"Iya," ucap Sultan singkat.
Rere pun lalu menghampiri Sultan di depan gang rumahnya itu di sana, dan Rere pun menatap tajam Sultan, seperti layaknya seorang singa yang mau menerkam mangsanya tersebut. Lantas Sultan pun hanya memandangi Rere kembali dengan memasang wajah, yang memang ia sudah memasrahinya dari awal-awal ia datang ke rumah Rere itu.
Plakk! tamparan keras seketika mendarat di sebelah kanan pipi Sultan, yang di mana ia pun lalu memegang pipinya itu setelah mana Rere memberikan tamparannya tersebut dengan sangat keras kepada Sultan di sana.
"Aww," gumam Sultan sembari mengelus-elus pipinya itu.
"Pulang lagi kamu sana Tan!" ucap Rere sembari meninggalkan Sultan dengan wajah yang tersenyum-senyum di sana.
"Nah kan, gue bilang juga apa! dia mah emang gitu orangnya, ninggalin engga jelas! udah itu tamparannya keras amat lagi! sampai sekarang pun ... masih berasa sakitnya," ucap Sultan yang masih memegang pipinya itu di sana.
Sultan pun masih berdiam diri di depan gang rumah Rere itu di sana sendirian, dan di sana Sultan pun masih sempat-sempatnya tersenyum karena ia melihat, bahwa Rere pun sempat tersenyum juga kepadanya, walaupun hanya beberapa detik ia melihat senyumannya itu, namun ia sadar, bahwa Rere telah mempercainya kembali di sana.
Sultan pun lalu menyalakan motor tuanya itu kembali, dan lantas ia pun merasa kalau ia sudah harus meninggalkan tempat tersebut karena ia telah melihat senyuman Rere yang begitu tulus dia berikan kepadanya di sana tadi.
Sementara itu, ibu Rere sempat memanggilnya karena beliau merasa sangat heran! kenapa anaknya itu tiba-tiba tertawa sendiri, ketika mana ia keluar tadi dari rumahnya tersebut.
__ADS_1
"Re, tunggu sebentar! kamu kenapa?" ucap ibu Rere.
"Sultan Mah, dia mau aja Rere jahilin tadi," ucap Rere sembari tertawa kepada ibunya itu.
"Punya pacar yang baik kayak gitu, masih aja kamu jahilin Re! emang kamu engga kasihan apa sama dia? baru aja kamu suruh pulang, udah itu kamu malah nyuruh dia balik lagi ke sini."
"Iya Mah, maaf, tapi jujur ya, Mah, dia itu orannya penurut, apapun yang Rere minta, dia pasti bakalan selalu nurutin kemauan Rere, dan terlebih Sultan itu orangnya engga akan mudah tersinggung, jadi mau Rere apain juga dia mah pasti biasa-biasa aja menanggapinya Mah."
"Terserah kamu lah Re, tapi jangan terlalu keseringan kayak gitu sama Sultan, kasihan dia Re."
"Iya Mah, ini yang terakhir ... insyaallah tapi ya."
"Udah makan belum dia tadi?".
"Kayaknya belum Mah, tapi besok Rere mau buatin dia sarapan karena Sultan itu orangnya paling susah kalau disuruh makan pagi-pagi, entah kenapa? tapi alasannya pasti bakalan sama, yaitu takut sakit perut secara tiba-tiba."
Ibu Rere sungguh bisa membuatnya tersenyum lepas, dan perkataannya itu tadi sungguh membuat Rere tak bisa menghindari rasa malu yang muncul dengan seketika itu di sana secara tiba-tiba.
....
Sementara itu, kembali lagi kepada Sultan, yang di mana ia tengah duduk di kursinya itu sembari mengelus-elus pipinya yang masih terasa sakit tersebut di sana.
"Aihh ... tamparan Rere masih terasa sakit gini! udah itu pipi gue memerah lagi, tega amat dah lu Re," ucap Sultan sambil mengelus-elus pipinya itu.
"Kenapa kamu Tan? berantem lagi bukan kamu? itu pipimu merah lebam kayak gitu," ucap ayah Sultan.
__ADS_1
"Emang bapak engga lihat apa? ada tanda cap lima jari yang namplok dipipi Sultan ini? masa kalau berantem sama cowok mainannya tampar-tamparan! kan engga mungkin," ucap Sultan yang masih mengelus-elus pipinya itu.
"Kuat benar ya, tenaga Rere? dan bahkan kayaknya itu lebih kuat daripada tonjokan seorang cowok."
"Mungkin kayaknya Beh," ucap Sultan sembari tertawa bersama dengan ayahnya itu di sana.
Kemudian itu, mereka berdua pun lalu masuk ke dalam rumahnya kembali. Dan sementara itu, di sana Sultan pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk menghilangkan bekas tamparan Rere di sana, namun itu memang sebuah tanda yang akan sulit dihilangkan begitu saja karena Rere menamparnya dengan sekuat tenaga waktu itu.
Ayahnya yang masih menertertawakan anaknya itu, beliau pun malah semakin meledeknya, yang di mana ia meledeknya bahwa tanda tamparan itu paling bisa hilang selama satu minggu, dan justru itu takan pernah membuat Sultan merasa malu, ataupun merasa takut karena ketika malam hari tiba, bekas tamparan itu akan menghilang dengan sendirinya.
"Besok kamu masuk sekolah bakalan malu loh Tan, sukurin! makanya jangan main-main sama Rere, bapak lihat dari kejauhan dia punya ilmu ghoib loh," ucap ayah Sultan.
"Mau itu ilmu ghoib, mau itu ilmu santet pun, itu engga akan membuat Sultan takut karena sebebarnya Sultan emang takut! tapi ya, sudahlah ... emang ini udah nasib kali, ngedapetin pacar yang galak kayak dia Pak," ucap Sultan sembari datang menghampiri ayahnya itu dengan wajah yang basah.
"Jangan bisanya hanya dijadiin pacar aja Tan, seorang lelaki harus bisa mengambil resiko yang lebih besar, yang di mana kamu juga harus bisa ngebahagiain dia dengan cara menikahinya, dan setelah itu kamu harus ngasih kita 11 cucu, soalnya bapak sama mamah udah engga sabar pengen gendong cucu-cucu kita nantinya."
"Mau bikin team sepak bola bukan Pak? engga sekalian aja minta tolong sama Allah untuk buatin 100 cucu, biar kita bikin panti asuhan aja sekalian."
"Boleh kalau kamu sanggup Tan."
"Ngomong sama bapak sendiri, serasa ngomong sama teman sendiri, engga ada habis-habisnya ngebahas soalan yang engga jelas seperti ini."
Mereka berdua pun kembali tertawa, dan di sana Sultan memang sangat-sangat bersyukur memiliki kedua orang tua yang sama-sama memiliki sifat seperti dirinya itu di sana.
Lantas Sultan pun lalu masuk ke dalam kamarnya itu kembali, untuk bersiap-siap melaksanakan salat magrib berjamaah di dalam mesjid yang berada dekat dengan rumahnya tersebut itu di sana.
__ADS_1
Sultan dan Rere, sejauh ini memang jarang berkomunikasi lewat panggilan apapun itu, sebelum waktu isya telah berlalu, dikarenakan mereka hanya takut kebersamaannya itu akan membuat mereka berdua lupa, bahwa yang mereka tinggalkan itu akan membuat mereka semakin terjerumus dan masuk ke dalam suatu masalah yang baru.
Mereka takan pernah melupakan kewajibannya itu di sana, dan maka dari itu mereka akan kembali bercerita, setelah mana mereka semua telah menyelesaikan perintah yang Tuhan berikan itu memang wajib untuk dilaksanakan, dan harus untuk didekatkan juga.