Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 437 : Kamu bisa


__ADS_3

Jam istirahat makan siang masih belum usai, mungkin waktu itu hanya tinggal 10 menitan lagi, lantas Sultan pun memanfaatkan waktu tersebut untuk melaksanakan salat zuhur berjamaah bersama dengan para karyawan di dalam sana.


Bilamana waktu istirahat itu masih ada, dia mungkin akan masuk ke dalam Perusahaan hanya untuk menelepon Rere.


Melampiaskan rasa rindu yang selalu datang menghampiri tanpa henti, mengulik sebuah belenggu yang tak habis ditelan sebuah arti, namun hati selalu saja menyuruhnya untuk tetap bangkit, dan juga menyuruhnya untuk cepat kembali.


Sebelumnya ia sempat berpisah dengan Aisyah dan juga bersama dengan Dimas, disaat Sultan akan pergi melaksanakan ibadahnya tersebut di dalam musala.


Sultan mungkin sudah mengetahui apa isi dalam pikiran Dimas untuk saat ini, dan bahkan Sultan pun sudah mengetahui bahwa Dimas akan pergi ke mana setelah ini.


Yang jelas dia pasti akan menghampiri teman-temannya di luar ruangan Perusahaan hanya untuk menghisap satu batang rokok di luar sana.


Sultan pun telah melaksanakan salat zuhurnya, ia pun tak langsung menghapiri semua temannya, dikarenakan jam istirahat hanya tersisa tinggal beberapa menit lagi.


Sementara Rere, duduk terdiam di kursi Perusahaan di tempat dia sekarang tengah melaksanakan tugas prakerinnya tersebut juga di sana.


Suara teleponya berbunyi, dengan sigapnya Rere mengangkat panggilan suara dari Sultan itu. Raut wajahnya pun mulai berubah menjadi lebih anggun untuk di pandangi kembali, hanya saja waktu itu Sultan menelepon Rere sesaat dan tak terlalu lama.


"Assalamu'alaikum Re, rindu kagak? kalau engga rindu gue matiin teleponnya ini ya," tanya Sultan yang membuat Rere tersenyum lebar.


"Wa'alaikum Salam, jawab aja dah, iya gue rindu, tapi lain kali kamu harus bersikap lebih manis di awal dulu ya, Tan, soalnya gue emang lagi rindu ini," kali ini Rere mengalah kepada Sultan dan lebih memilih untuk menjawab jujur pertanyaan dari Sultan saja.


Bila Sultan telah berucap kata seperti itu kepadanya, dan bilamana Rere tidak berkata jujur kepadanya untuk saat ini, mungkin Sultan akan langsung mematikan teleponnya itu.

__ADS_1


"Untung saja kamu menjawab jujur pertanyaan dari gue ini Re, sehingga gue engga sanggup untuk mematikan telepon ini," ucapannya itu sangat jelas, dan ia sama sekali tak ingin melihat Rere membohongi dirinya, walaupun masalahnya hanya sekedar rindu.


"Engga jadi deh, gue mau milih kagak rindu aja, apa mungkin kamu sanggup untuk mematikan teleponnya itu Tan, gue engga percaya."


Dengan seketika panggilan suara dimatikan oleh Sultan. Lantas Rere pun hanya bisa tersenyum, dan menunggu Sultan meneleponnya kembali.


"Ihh, ini anak emang engga pernah berbohong sama ucapannya itu ya, nyesel dah gue, tapi palingan nanti juga dia bakalan nelepon gue kembali," Rere merasa percaya diri dengan ucapannya itu, namun entah sampai kapan Sultan akan mendiamkan Rere seperti itu di sana.


Setelah Sultan mematikan panggilan suaranya, ia pun tak menelepon kembali wanitanya, ia berusaha menunggu waktu lebih lama lagi agar supaya Rere yang menelepon dirinya lebih dulu.


"Rasain kamu Re! suruh siapa elu mengubah jawabannya itu, jadikan gue menutup panggilan suaranya," Sultan memang tak ada niatan untuk menelepon Rere kembali, tapi bilamana Rere yang memghubunginya lebih dulu, mungkin dia akan menjawabnya.


Satu menit telah berlalu, hingga pada akhirnya Rere pun lebih memilih untuk menghubungi Sultan terlebih dahulu. Entah berapa kali dia mengalah untuk pria resenya itu, tapi yang terpenting bagi Rere adalah dia yang tidak pernah merubah sikap resenya itu sedikit pun kepadanya.


"Nyesel kan kamu Re? makanya jangan rese, udah tahu pacarmu ini lebih rese bila dibandingkan dengan sikap elu itu," ucap Sultan yang memang dia sengaja ingin meledek pacarnya itu.


Sebenarnya Sultan ingin melihat Rere bersikap lebih menyebalkan kepadanya, namun sepertinya Rere memang tak dapat melakukan hal yang sama dengan Sultan, dikarenakan Rere memang bukan ahlinya dalam melakukan hal yang seperti ini.


"Jahat beut dah elu Tan! gue benci sama lu, tapi sejujurnya gue seneng sih melihat sifat rese elu ini engga pernah berubah sama sekali."


Sedikit pun Rere tak dapat memarahi Sultan atas perlakuan yang telah dia perbuat itu kepadanya, lantaran kali ini Rere hanya ingin mendengarkan satu ucapan manis dari Sultan saja.


"Sabtu nanti gue pulang kok Re, dan nanti gue juga akan membawamu pergi kesuatu tempat yang memang dari dulu kamu ingin kunjungi itu."

__ADS_1


"Di mana ya, Tan?" ucap Rere salah paham.


Rere mengira bahwa Sultan memang sudah merencanakan tempat yang nantinya akan mereka singgahi itu, namun ternyata Rere salah paham, dan ternyata ucapan Sultan itu adalah sebuah pertanyaan yang mungkin harus Rere jawab.


Rere malah menanyakan balik pertanyaan Sultan, dan sebenarnya Sultan ingin mengajak Rere pergi ke tempat yang dia mau, tapi Sultan masih bingung ingin mengajaknya pergi ke mana, maka dari itu kenapa Sultan menanyakan hal tersebut kepadanya.


"Bolotnya engga pernah ilang dari dulu ya, sebenarnya tadi itu adalah pertanyaan Re, dan elu malah menjawabnya di mana, udah tahu gue itu nanya sama elu ingin pergi ke mana sama gue."


Sultan benar-benar membuat Rere tertawa lepas, dan bahkan Rere pun dibuat salah paham oleh pertanyaan yang telah Sultan berikan kepadanya itu.


"Elu yang bolot Tan! lagian elu rese sih! apa susahnya coba nanya langsung sama gue, dan lagian ucapanmu itu terlihat bukan seperti pertanyaan, maka engga heran kan kalau gue kebingungan?" tanya Rere yang membuat Sultan pun tertawa kepadanya.


"Iya juga sih ya, Be, sebenarnya gue juga bingung! entah kenapa disetiap gue ingin mengajak lu pergi main, perasaan gue ini jadi berbelit-belit, apa mungkin gue takut dibuat nyaman sama elu ya?".


Rere terdiam, akhirnya dia bisa mendengar ucapan yang selama ini dia tunggu-tunggu. Dia berbicara dalam hatinya, semoga saja Sultan bisa mendengar ucapannya yang sebelumnya.


Rere hanya perlu berbicara dengan hatinya saja, tak perlu berbicara langsung kepada Sultan, pada dasarnya Sultan pasti akan mengetahui apa yang sedang Rere pikirkan dan apa yang sedang dia inginkan.


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu Tan, kayaknya mulai dari sekarang apa pun yang aku inginkan, apa pun yang aku harapkan, dan apa pun yang ingin aku dengarkan dari kamu, sepertinya kali ini aku hanya perlu terdiam saja ya, Tan," ucap Rere sembari membunyikan suara tawa terheran-herannya itu dengan tipisnya.


Ucapan Rere sungguh membuat Sultan merasa sangat heran, kenapa dia berbicara seperti itu kepadanya, dan itu terjadi secara tiba-tiba, bahkan Sultan pun tidak mengerti sama sekali apa maksud dari ucapan Rere tersebut itu.


"Kenapa aku bisa berbicara seperti itu kepada kamu Tan, soalnya disetiap saat aku berbicara dalam hati ini, yang pastinya kamu akan dengan mudahnya mengungkapkan segala rasa yang ingin aku rasakan ini Tan, dan jadi untuk kali ini saja, aku hanya perlu terdiam menunggu kamu mengungkapkan semua perkataan yang telah aku ucapkan di dalam hati ini."

__ADS_1


Sekarang Sultan yang dibuat terdiam oleh Rere, sepertinya perkataan Rere tadi, memang sengaja dia ucapkan kepadanya agar supaya Sultan bisa berkata jujur kepadanya, bagaimana cara dia membaca isi yang berada dalam pikirannya itu.


__ADS_2