
Tak lama setelah Sultan pergi, hidangan makan pagi pun telah siap, berhubung waktu itu memang masih pagi, sekiranya ada pukul sembilanan tepat, kalau lebih pun palingan ada 5 menitan lebih.
Sultan menghirup dengan nikmatnya aroma wangi dari masakan ibunya itu, namun beliau berucap bahwa itu adalah masakan kekasihnya, yaitu Rere.
"Wihh, wangi bener masakan mamah gue, kayaknya enak nih, boleh Sultan makan sekarang Mah?" tanya Sultan dengan raut wajah kegirangan.
"Ini masakan Rere, mamah cuma bantuin anak mamah nyiapin beberapa bahan untuk makanan ini aja," ucap ibu Sultan yang tidak menyetujui ucapan dari anaknya itu di sana, dikarenakan masakan di depannya adalah masakan dari tangan lembut Rere
Sultan menatap tajam raut wajah Rere sembari tersenyum lebar ke arahnya. Ia duduk di sampingnya dan berpikir andai saja Rere selalu memasakan makanan untuknya di sana, mungkin semua temanya akan merasakan nikmat yang sama pada saat mereka semua menyantapnya.
"Wanginya sama dengan rasanya, enak dihirup dan enak untuk di makan juga. Gue punya saran nih Re, gimana kalau kamu ikut gue aja ke Tangerang," ajak Sultan yang mungkin Rere mau mengikutinya untuk pergi ke Tangerang bersamanya.
"Itu mah emang kemauan aku Tan, tapi kan kamu engga ngizinin aku untuk pergi ke sana," ucap Rere penuh harapan, namun harapan itu takan pernah terwujud semudah yang dia harapkan.
"Mau apa ikut sama Sultan Re, lebih baik Rere tetap tinggal di Kota Sukabumi aja soalnya kalau anak mamah dua-duanya pergi, entar siapa yang bakalan nemenin mamah di sini," ucap ibu Sultan memotong pembicaraan mereka.
"Emangnya Rere mau gitu Mah, kalau harus ketemu sama mamah di sini seorang diri tanpa Sultan yang menemaninya?" tanya Sultan dengan di tatapnya raut wajah Rere.
"Benarin kan Re? pokonya Rere harus sering datang ke sini walaupun engga ada Sultan juga, lagian Rere udah lama kenal mamah masa masih malu-malu aja."
"Insyaallah Mah, Rere berani kok, tapi sebelumnya Rere mau minta tolong sama mamah buat ngebujuk mamah Rere di sana nanti, biar dia ngizinin Rere datang ke sini lagi."
Ibu Sultan mengangguk, beliau mau menuruti apa ucapan yang dia berikan tadi kepadanya. Lantas setelah semuanya selesai menyantap makanan tersebut, Sultan pun lalu pergi ke luar ruangan.
Seperti biasa ia akan membakar serta menghisap rokoknya tanpa Rere ketahui, jadi ia kembali menemui semua teman sekampungnya di tempat perkumpulan para remaja di sana.
__ADS_1
Sementara Rere berdiam diri di dalam ruangan bersama dengan ibu Sultan. Sebelumnya Rere sempat ingin mendengarkan kisah semasa kecil Sultan seperti apa? apakah dia dulu senakal sekarang.
"Rere ingin tahu semua tentang Sultan Mah, soalnya waktu kemarin Rere belum sempat mendengarkan cerita mamah karena hari itu udah terlalu sore," ucap Rere yang masih penasaran, dikarenakan dia belum mendengarkan semua kisah tentang Sultan dari mulut ibunya itu.
"Sebenarnya engga ada cerita yang menarik dari Sultan Re, mungkin ada satu, kira-kira waktu Sultan baru aja lancar berjalan," ucap beliau setengah-setengah.
"Kayaknya asik nih Mah, lanjutin aja Mah, Rere mau dengar."
"Waktu itu kurang lebih umur Sultan ada dua tahunan Re, dia pernah kabur dari rumah gara-gara minta mainan engga dibeliin, sampai-sampai satu kampung nyariin dia, tapi engga ketemu juga, untung aja ada saudara mamah, dia engga sengaja liat Sultan lagi jalan-jalan sendiri di kampung orang."
....
"Emang Sultan engga takut gitu Mah?" tanya Rere penasaran.
"Kayaknya takut sih ada, tapi mamah engga tahu juga tuh Re, abisnya mamah kesel aja sama dia, sampai mamah marahin dia hingga nangis."
"Akhirnya mamah ngalah Re, mamah turutin tuh apa yang dia mau, abisnya kalau dia marah, ujung-ujungnya engga mau makan."
Rere tertawa lepas ketika dia mengetahui bahwa Sultan ternyata sudah nakal sejak kecil. Dia melihat-lihat kembali foto album Sultan yang kedua, dan tentunya foto album nostalagia Sultan yang pertama itu sudah diberikan kepada Rere.
Ibu Sultan pergi meninggalkan Rere seorang diri, beliau membiarkan Rere melihat semua kenangan Sultan dari foto album sampai mainan berupa boneka serigala kecilnya juga.
Rere memeluk boneka itu dengan penuh kehangatan rasa, dia membolak-balikan kembali foto yang tengah dia lihat itu di sana.
Sementara itu Sultan pun datang dan lalu duduk di samping Rere. Ia melihat boneka kecil yang tengah Rere peluk, rasanya Sultan sangat mengenali boneka tersebut, namun ia belum sadar bahwa boneka itu adalah miliknya.
__ADS_1
"Tunggu-tunggu, kayaknya gue kenal sama boneka ini Re, tapi gue lupa siapa pemiliknya," ucap Sultan sembari menatap tajam boneka tersebut.
Rere sengaja tak menjawab kebingungan Sultan itu, dikarenakan dia ingin tahu seberapa baik prianya dalam mengingat masalalunya itu.
Setelah Sultan menyandarkan kepalanya dibahu Rere, pada akhirnya ia baru bisa mengingatnya, yang di mana boneka itu ternyata adalah milik dirinya sendiri.
"Ohh, gue baru ingat Re, boneka inilah yang gue cari-cari dari dulu, tadinya gue mau ngasih boneka ini buat kamu, tapi gue udah terlanjur bikin boneka beruang yang sebelumnya pernah gue kasih sama kamu," ucap Sultan dengan terkejutnya, hingga pada akhirnya dia bisa melihat kembali boneka yang dia sayangi itu.
"Sultan cilik maksudnya bukan Tan?" tanya Rere singkat sembari menatap raut wajah Sultan.
"Iya Re, si Sultan cilik yang imut itu. Ngomong-ngomong kamu nemuin dia di mana Re? perasaan gue udah nyari dia sampai ke rumah-rumah tetangga."
"Kok, ke rumah tetangga sih Tan."
"Abisnya anak tetangga sebelah cantiknya minta ampun Re, siapa tahu dulu gue sempat ngasih ke dia, soalnya dari gue kecil, gue sering main dengan dia."
Rere dibuat penasaran oleh Sultan, hingga Rere menuntut Sultan untuk menceritakan teman cantiknya itu kepadanya.
Sultan mengulur waktu, ia pun masih mengingat-ngingat kenangannya tempo dulu, rasanya kenangan itu agak sedikit menghilang dari alam pikirannya.
"Sebenarnya dia warga baru Re, tapi sekarang dia udah engga tinggal di sini lagi, dan nama dia adalah Nazala. Orangnya cantik, sampai-sampai semua teman sekampung gue pada ngejar-ngejar dia," Sultan menjelaskan sedetail mungkin ceritanya itu kepada Rere agar dia tak salah tangkap dalam mencerna ucapan dari Sultan itu.
"Sekarang kamu masih berhubungan sama dia engga Tan? jawab jujur!" ucap Rere memaksa Sultan untuk menceritakan semua kenangan termanis yang pernah dia jalani semasa kecilnya di sini.
"Enggalah Re, gue kan udah punya elu, masa iya sih gue harus berhubungan sama dia, dan mungkin dia juga udah lupa kali sama gue di sini."
__ADS_1
"Secantik apa sih dia Tan?".
"Orangnya cantik, udah itu bule lagi, gue engga tahu lebih apakah dia keturunan orang Arab atau engganya, abisnya wajah dia seperti orang Arab."