
Setelah Sultan mengantarkan Aisyah pulang, ia pun lalu pergi pada saat Aisyah menyuruhnya untuk menunggu dirinya di depan sana sebentar, namun alangkah menyebalkan Sultan, ia malah pergi begitu saja.
Aisyah memanggil nama Sultan, tapi tak ada balasan darinya, lantas Aisyah pun masuk ke dalam kontrakannya untuk tidur.
"Dihh, itu anak emang rese ya! mau gue kasih rokok, tapi dianya malah pergi gitu aja, sayang deh jadinya, kalau tahu gini gue engga akan beli yang kayak beginian buat dia, mungkin besok malam gue balik lagi aja ke kontrakannya," ucap Aisyah sambil menggenggam satu bungkus rokok penuh di tangannya.
Aisyah masuk ke dalam kontrakannya kembali, namun tak lama setelah Aisyah masuk ke dalam sana, Sultan malah datang menghampirinya lagi.
Ternyata Sultan hanya ingin buang air kecil saja, ia pergi bukan untuk kembali ke kontrakannya, melainkan Sultan hanya pergi ke toilet umum yang berada tepat di depan kontrakan Aisyah itu berada.
"Aisyah lama banget dah sumpah! mungkin engga ada salahnya gue nungguin dia beberapa menit lagi, kalaupun dia masih belum nongol-nongol juga, palingan besok gue datang lagi aja ke sini," ucap Sultan sambil mengeluarkan rokoknya di dalam saku jaketnya.
Berhubung di depan kontrakan Aisyah juga ada saung, jadi ia pun lebih memilih untuk duduk di sana daripada duduk di depan teras kontrakan Aisyah.
Sultan melihat-lihat semua isi chatingan saat pertama kali ia berani mengenalkan dirinya kepada Rere, rasanya itu membuat hatinya merasa geli-geli sendiri, apa benar Sultan dulu selebay itu kepada Rere, makanya kenapa Sultan merasa geli pada saat ia melihat semua isi chatingannya itu dulu.
"Dari dulu hingga sampai sekarang sikapmu engga pernah berubah Be, dari awal gue mengenalmu, bahkan pada saat gue belum mengenalmu juga, gue udah suka sama lu, namun rasa sayang ini tertunda oleh waktu dan keadaan, andai saja dulu elu lebih memilih gue daripada kedua teman gue, mungkin sejarahnya akan berubah dengan cepat."
__ADS_1
Sultan berbicara dengan hatinya sendiri sambil melihat-lihat semua isi chatingannya itu dulu, tapi yang takan pernah bisa membuat Sultan melupakan kenangannya itu adalah seorang Rere yang selalu takut melihat kemarahan prianya itu, bahkan dia wanita penyabar, namun itu dulu, bukan sekarang.
Setelah Rere mengenal dekat seorang Sultan, sayangnya rasa sabar tersebut seolah-olah pergi menjauh, berlalu, dan menghilang begitu saja, hingga pada akhirnya dia yang sekarang sama aja seperti dengan Sultan, di mana mereka berdua adalah pasangan yang sangat keras kepala.
Tanpa sengaja Sultan melihat bilah status Whatsapp Rere sedang aktif, ia pun lalu meneleponnya, tapi dia malah menolak panggilan telepon suara tersebut dari Sultan.
"Sebegitu lupanya elu sama gue Re, untung aja lu jauh dari gue, kalau misalnya elu lagi deketan sama gue, mungkin gue akan melakukan hal yang sama dengan elu di sana," ucap Sultan masih berbicara seorang diri, sampai-sampai rokoknya lupa ia hisap hingga ia tak sadar kalau rokoknya telah padam dengan sendirinya.
Sultan pun memasukan putung rokoknya itu ke dalam bungkus rokok yang kosong, tak lama kemudian ia menelepon Aisyah dan ingin bilang bahwa ia masih ada di luar ruangan kontrakannya.
....
"Ihh, kirain aku kamu udah pergi Tan, abisnya tadi kamu ke mana sih, gue udah ke luar, tapi kamunya engga ada di luar sana, tunggu sebentar, kira-kira sampai jam dinding di dalam sini menunjukan pukul satu pagi," canda Aisyah membalikan candaan Sultan juga, di mana dia ingin membuat Sultan paham saja seberapa jengkel orang-orang yang mendengar candaan itu ketika mana mereka memang sengaja bertamu ke kontrakannya di sana, tapi tuan rumahnya malah berkata seperti itu sehingga tamunya merasa tak enak hati kepada tuan rumah.
Sultan tertawa, ternyata Aisyah bisa marah juga, lantas ia pun menyuruh Aisyah untuk cepat ke luar karena matanya sudah tak kuat menahan rasa ngantuknya di sana.
"Aihh ... cewe pendek ternyata bisa marah juga ya, cepetan ke luar, gue kedinginan ini, udah itu mata gue mulai berat lagi, emangnya elu engga kesian sama gue?" tanya Sultan dengan suara rendahnya.
__ADS_1
Pintu kontrakan di buka oleh Aisyah, dia menghampiri Sultan yang tengah asik duduk di saung itu. Aisyah duduk di samping Sultan, lantas ia terkejut ketika Aisyah memberikan rokok satu bungkus penuh kepadanya.
"Apaa ini Syah? kamu ngerokok juga bukan? kalau gitu kita ngerokok bareng aja di sini," tanya Sultan kebingungan, kenapa dia memberikan rokoknya kepada Sultan, apakah dia hanya ingin menawarkan rokoknya itu saja.
"Buatmu Tan, rasanya kalau hanya memberikan ucapan terima kasih saja belum cukup buat gue, makanya gue bela-belain beli ini untukmu Tan, sampai mereka mengira cewe polos seperti gue ternyata merokok juga," kata Aisyah membuat Sultan tercengang, bahkan Sultan sempat tertawa tipis melihat dia sebegitu yakin kalau Sultan akan menerima pemberiannya itu.
"Baru kali ini gue melihat ada cewe yang mau beliin gue rokok, padahal mereka semua tahu kalau rokok itu berbahaya, makanya jarang ada cewe yang mau ngasih rokok keseorang cowok, kurang lebih mereka takut membahayakan kesehatannya, tapi itu adalah contoh wanita yang perduli."
"Jadi kamu pikir aku itu engga perduli sama kamu Tan? yaudah deh kalau begitu gue buang aja rokonya, padahal ini adalah pertama kalinya gue mau membelikan rokok kepada teman gue sendiri, lagipula ya, Tan, asalkan kamu tahu, gue engga pernah mau beliin cowok gue rokok, pada dasarnya dia memang suka merokok juga, tapi anehnya kenapa bisa gue mau membelikan ini untukmu, tiba-tiba pikiran gue hanya ada pada ini, yakni membeli rokok ini untukmu Tan."
"Dih kesel dia! gue belum selesai ngomong, lagipula gue senang kok, kalau ada seseorang yang ngasih gue rokok secara tiba-tiba, mau pemberi itu seorang cowok, dan maupun pemberi itu seorang wanita, gue pasti akan tetap menerimanya dengan lapang dada."
Aisyah begitu mudah terpancing dengan ucapan Sultan, ternyata Aisyah memiliki kesamaan seperti pacarnya yang ada di Sukabumi, di mana mudah marahnya, sikap, serta tatapan matanya semua mencirikan kepribadian Rere.
Sultan tertawa, dan setelah itu ia pun menerima rokok darinya sambil berpamitan, dikarenakan hari sudah semakin larut malam saja.
"Kalau begitu makasih ya, gue pulang dulu, dan satu lagi Syah, itu wadah makanmu biar gue cuci dulu ya, besok malam gue balik lagi ke sini setelah gue selesai melaksanakan salat isya di dalam mesjid," ucapan Sultan dibalas hanya dengan anggukan Aisyah saja, kemudian Sultan pun memberikan lambaian tangannya kepada Aisyah.
__ADS_1