Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 152 : Dua pilihan


__ADS_3

Kringg, kringg, kringg ....


Suara panggilan telepon menyala. Sultan terkejut dan terbangun dengan seketika, dikarenakan ia meletakan ponselnya dekat dengan telinganya, yang di mana ia beranggapan bahwa itu adalah suara alarm dari ponselnya.


Rere membangunkan Sultan bukan di waktu yang telah ditentukan sebelumnya, bahkan dia membangunkan dirinya terlalu pagi, sekiranya pada jam 2 pagi.


Sebenarnya Rere tak ada niatan sama sekali untuk membangunkannya sepagi itu, tapi berhubung dia terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk, dan jadi dengan sangat terpaksa dia menghubungi Sultan sambil bergumam ketakutan.


Tentunya Sultan pun merasa sangat terkejut, ketika dia mendengar suara dari Rere gemetaran seperti itu. Lantas ia pun lalu menanyakan ada masalah apa sehingga dia merasa ketakutan seperti itu.


"Tan, sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu karena aku udah mengganggu waktu istirahat kamu malam-malam buta seperti ini," ucap Rere gemetaran.


"Ini udah pagi Re, lagian malam itu engga buta, melainkan kamu sendiri lah yang buta, masa udah pagi begini kamu masih aja bilang malam sih Re."


Ini adalah pertama kalinya Rere mendengar suara Sultan serendah itu. Sebenarnya dia pun tak mengherankan suara prianya itu, apalagi dia juga baru saja terbangun dari tidurnya di sana.


"Udah dong Tan, jangan mulai deh! emangnya elu engga merasakan sesuatu hal apa?" tanya Rere yang sempat tertawa tipis kepadanya.


Niat Rere menelepon Sultan ya, karena ini ... dia hanya ingin mendengarkan candaan darinya disaat rasa takut itu sekarang tengah melanda hidupnya.


"Nada suaramu kenapa dah Re? kok, gemetaran kayak begitu, emangnya toilet di rumah kamu kenapa? apa jangan-jangan orang di dalam rumah lagi pada ngantri ingin buang air ya?".


Disaat Rere tertawa, dan di sanalah dia ingin berbicara kepada Sultan, namun alangkah sulitnya dia menahan rasa ingi tertawanya itu, dikarenakan Sultan sama sekali tak membiarkan Rere berbicara.


Pada saat dia sudah tenang-tenangnya menahan rasa ingin tertawanya itu, Sultan pun malah menambah suasana menjadi sangat lucu saja.

__ADS_1


"Tapi, Tan, bukan gitu maksudnya," ucapan Rere terhenti, dikarenakan Sultan memotong pembicaraannya itu.


"Udahlah Re, kalau mau buang air kecil di depan rumah aja, bukannya di depan rumahmu ada sungai kecil ya? nah lebih baik kamu langsung pergi aja ke sana."


"Dengerin gue dulu kenapa sih Tan!".


"Masa soal masalah ingin buang air kecil pun elu harus curhat sama gue dulu sih Re," Sultan kembali memotong pembicaraan Rere.


Sultan mematikan panggilan telepon suara dari Rere, namun tak lama setelah itu Sultan pun lalu menghubungi wanitanya kembali.


Tapi sebelumnya, Rere sempat berbicara seorang diri di sana, dan lagi-lagi dia dibuat bingung olehnya, kenapa pacarnya itu sangat suka melakukan hal tersebut kepadanya.


"Pokonya kalau elu pulang gue bunuh lu Tan! emangnya elu engga bosan apa Tan, membuat gue terdiam berketerusan seperti ini berkali-kali," ucap Rere seorang diri sembari menatapi kontak Whatsapp dari Sultan.


Kringg, kringg, kringg ....


"Emangnya kamu engga ngantuk apa Re? lagian kenapa juga mimpi burukmu itu selalu datang disaat waktunya tidak tepat, atau jangan-jangan Allah sengaja menyuruh kita berdua berbincang kembali, dikarenakan elu mungkin masih rindu sama gue," nada suara Sultan mulai terdengar sedikit lebih mengasikan bila dibandingkan dengan awal tadi Rere meneleponnya.


....


"Kamu kenapa sih Tan! perasaan suka banget menutup panggilan suara dari gue gitu aja," Rere ingin mendengarkan penjelasan langsung dari dirinya, apa mungkin penjelasannya ini akan berubah, ataupun masih akan tetap sama dengan yang sebelumnya.


"Tadi gue abis cuci muka dulu Re, biar nanti gue sadar sepenuhnya, soalnya tadikan gue masih agak sedikit terbawa suasana khayalan," ucap Sultan beralaskan penjelasan yang berbeda dengan apa yang sebelumnya pernah dia ucapkan kepada Rere.


Sepertinya dia sudah bisa sepenuhnya melupakan mimpi buruknya yang tadi itu, dan semua ini karena ulah Sultan sendiri.

__ADS_1


Tapi, kali ini Sultan tak terlalu memberikan sifat manisnya itu kepada Rere, dikarenakan yang pagi ini dia butuhkan hanyalah candaan yang dapat membuatnya tertawa lepas.


Rere menanyakan kenapa Sultan tak bersikap manis kepadanya saat ini, dan bahkan ia memberikan dua pilihan untuknya, bahwa Rere ingin melihat Sultan bersikap manis atau bersikap lucu seperti biasanya saja.


Tentu saja Rere lebih memilih Sultan untuk bersikap lucu seperti biasanya saja. Sebenarnya ia pun sudah megiranya dari awal bahwa wanitanya itu hanya ingin tertawa menghilangkan sedikit rasa kegelisahanya itu di pagi hari yang sekarang ini.


"Mana sifat manismu Tan? biasanya kalau gue lagi terpukul seperti ini elu sering kali membuat gue tersenyum dengan lepasnya," tanya Rere kembali menguji sifat kepekan Sultan terhadapnya.


"Pasti sakit banget rasanya Ya, Re? emangnya elu dipukul sama siapa? makanya elu jangan sering buat ulah mulu dah," tanya Sultan kepada Rere sembari membercandainya kembali.


"Bukan dipukul sama orang bolot! tahu ah, gue mau tidur lagi aja dah Tan."


"Emangnya elu engga takut apa Re, bilamana nanti mimpi burukmu itu akan kembali hadir lagi?".


Tak ada batas pengakhir kalimat, Sultan terus-menerus membuat Rere tertawa lepas tanpa sanggup ia mengakhiri perbincangannya untuk saat ini.


Bukan hanya itu saja, bahkan Sultan pun menakut-nakuti Rere dengan mengungkit-ngungkit mimpi buruknya itu juga


Brukk ....


Tiba-tiba beberapa buku milik Rere terjatuh bersamaan dengan alat tulisnya itu juga. Lantas dia pun menoleh ke arah jatuhan benda tersebut sembari terheran-heran, padahal Rere menyimpan benda itu di atas mejanya dengan serapi mungkin, tapi kenapa semua benda itu bisa terjatuh ke bawah lantai.


Sultan pun mendengar suara tersebut, ia pun tersenyum jahat dan ingin menakut-nakuti wanitanya sampai mana dia meminta ibunya untuk menemaninya tertidur di dalam kamarnya.


"Tuh kan Tan, apa aku bilang! kamu jangan bilang kayak gitu, jadinya benar-benar terjadi kan," Rere semakin dibuat takut oleh keadaannya yang sekarang ini, apalagi posisi Sultan sekarang memang sengaja ingin menakut-nakuti wanitanya itu.

__ADS_1


"Bukan apa-apa Re, mungkin itu adalah gaya tarikan gravitasi bumi, jangan khawatir, gue akan selalu ada di sini menemanimu hingga kamu merasa aman dan nyaman," Sultan menarik kata-katanya untuk menakut-nakuti Rere, dikarenakan ia tak sanggup melihat pacarnya secemas itu sekarang.


Sultan tidak sempat memberikan kedua pilihan yang harus Rere pilih itu di sana, mungkin setelah Rere merasa tenang dan di situlah ia baru akan memberikan pilihannya tersebut kepada Rere.


__ADS_2