
Rere tertawa lepas ketika dia melihat Sultan terbawa arus ombak hingga ketepian pantai, dan prianya itu pun lalu terbatuk-batuk, dikarenakan Sultan meminum cukup banyak sekali air laut.
"Rasain kamu Tan! emang enak hah! gimana rasanya air laut itu Tan? enak kan Tan? makanya elu jangan rese sama gue, jadinya seluruh pakaianmu itu basah semua kan," ucap Rere sambil tertawa lepas ketika dia melihat Sultan terbatuk-batuk karena meminum air laut yang sangat asin itu.
Sultan pun masih terbatuk-batuk sambil membungkukan seluruh tubuhnya itu, hingga pada akhirnya Sultan pun tersenyum ketika mana dia melihat wanitanya itu tertawa dengan lepasnya untuk Sultan.
"Kejam amat dah elu Re! engga gitu juga caranya, gue pengap nih terlalu banyak menelan air laut, emangnya enak gitu! engga Re, asin!" ucap Sultan yang lansung duduk di tepi pantai bersama dengan wanitanya itu di sana.
"Lagian kamu juga sama kejamnya Tan! mentang-mentang tubuh gue engga terlalu berat buat digendong, dan kamu dengan mudahnya lempar gue gitu aja kayak boneka."
"Yang penting elu basah, dan jadi kita impas ya, sekarang, tapi menurut gue elu lebih parah sih bila dibandingkan dengan keusilan gue tadi!".
"Mau gimana sekarang jadinya hah?".
Dengan seketika Sultan pun mengangkat tubuh wanitanya itu kembali, dan dia pun lalu melempar kembali tubuh Rere hingga pada akhirnya dia pun meminum air laut itu juga.
Rere pun terbatuk-batuk sama hal nya dengan Sultan tadi, dan Sultan pun tertawa-tawa ketika dia melihat Rere pun akhirnya bisa menyamakan hal yang dia timpa tadi.
"Gila kamu Tan! gue pengap ini, untung aja gue engga kebawa arus ombak sampai ke tengah laut, gimana coba kalau hanyut! emang elu bakalan sanggup gitu ditinggal sama gue sendirian di sini," ucap Rere sembari menampar pipi Sultan.
"Tinggal cari yang baru aja sih Re, apa susahnya! tapi engga akan mungkin juga elu terbawa arus sampai ke tengah sana, dan terlebih tangang elu masih gue genggam juga kan ini Re."
Kebersamaan itu, yang membuat senyumannya takan pernah meredup dengan cepatnya, waktu juga takan mungkin mudah berlalu, sementara doa selalu mereka panjatkan disetiap hati berucap, apakah akan ada rindu yang akan datang kembali.
__ADS_1
Rere duduk terdiam di samping Sultan, dan dia pun menyandarkan kembali kepalanya itu dibahu pria resenya itu di sana, dan tak lupa Rere pun menggenggam erat tangan Sultan hingga pada akhirnya Sultan merangkul manis bahu Rere.
Panasnya sinar mentari di siang hari itu, cukup membuat pakaiannya yang basah itu tadi bisa kembali mengering, walaupun itu tak cukup kering, asalkan itu tak terlalu basah seperti awal tadi.
Kali ini mereka tak bisa menatap senja itu terbenam, dikarenakan pada jam 3 sore, tepatnya di waktu itu mereka berdua akan segera meninggalkan Pelabuhan Ratu.
Mungkin Rere mengetahui alasannya itu kenapa, dan di sana Sultan pun sangat yakin dengan perkataannya itu, dan terlebih Rere tahu semua cerita tentang Sultan, kelemahan Sultan, dan bahkan kelebihannya itu juga dia mengetahuinya.
"Sebelumnya gue mau minta maaf Re, dikarenakan gue engga bisa menemanimu menatap indahnya matahari terbenam di sore hari ini, kamu pastinya tahu kan alasannya kenapa?" ucap Sultan sembari menatap raut wajah Rere dengan sesaat.
"Makasih ya, Tan, aku engga keberatan kok, dan aku pun mau minta maaf juga sama kamu, gara-gara rinduku ini, kamu jadi membuang waktu istirahatmu ini demi aku Tan," ucap Rere sembari menatap raut wajah Sultan juga.
....
"Apa pun demi melihatmu tersenyum bahagia seperti ini, rasa lelah itu takan pernah ada, takan pernah bisa aku rasakan, kenapa bisa? tentunya itu bisa Re, bahkan disaat aku sedang sakit pun kamu selalu membuatku bangkit, kata kuat selalu menemaniku bilamana aku sedang bersamamu seperti ini."
"Disaat gue susah, disaat gue senang, kamu selalu ada buat gue, tanpa ada kata ragu kamu selalu hadir bersama dengan senyuman manismu itu."
"Menemani gue seperti layaknya akar dan batang pohon, yang di mana mereka juga sama seperti kita, tanpa akar apakah batang pohon itu akan tumbuh? apakah batang pohon itu akan sanggup berdiri kokoh dengan waktu yang cukup lama?".
"Kita sama seperti mereka Re, sama-sama membutuhkan pendamping hidup yang selalu bisa melengkapi kekurangannya sendiri, yang sama-sama bisa tumbuh bersama hingga pada akhirnya, kekuatan itu akan timbul dengan sendirinya."
Setiap dia berucap kata, Rere selalu tersenyum lebar untuknya, yang seolah-olah Sultan telah berhasil membuatnya bahagia, disaat waktu perpisahan akan segera tiba tak lama lagi.
__ADS_1
Setelah itu, Sultan dan Rere pun lalu duduk kembali di kursi warung gubuk sederhana itu, dan tentunya mereka sempat menitipkan barang bawaannya itu tadi di sana sebelum mereka pergi duduk di pinggir pantai.
Sebelum itu, Sultan bersama dengan Rere pun sempat mengganti semua pakaiannya itu terlebih dahulu, dan sesudah itu mereka pun lalu kembali ke warung tersebut untuk menikmati minuman serta makanan hangat.
Ini adalah waktu terakhirnya, tepatnya di jam 2 siang, mereka kembali duduk dipinggir pantai untuk terakhir kalinya.
"Jaga dirimu baik-baik di sana ya, Tan, aku ingin melihatmu pulang kembali ke Kotamu dengan keadaan yang seperti ini lagi," ucap Rere sembari menyantap mie hangat dalam kemasan cup itu.
"Asalkan lu tetap tersenyum seperti ini, dan pastinya gue di sana akan baik-baik saja kalau kamu di sini pun sama seperti gue di sana nantinya," ucap Sultan yang lalu mencubit pipi Rere dengan pelannya sembari menatap tajam raut wajahnya.
"Kita taruhan, kalau misalnya kamu sakit, gue bakalan pergi ke sana nanti, tapi kalau gue yang sakit berarti elu harus datang ke sini."
"Sakit kok, dijadiin bahan taruhan sih Re! kalau mau taruhan itu yang sehat-sehat aja, lagian elu itu aneh Re, siapa juga yang mau sakit, kalau nanti gue sakit, siapa yang akan membuatmu tersenyum seperti ini lagi?".
"Mau apa kagak? tinggal jawab iya apa susahnya, dan lagian gue cuma mau ngetes aja, apakah pikiranmu itu masih normal, atau elu emang benar-benar udah gila."
"Bilang aja kalau lu keceplosan, dasar bolot! tapi kalau emang elu masih tetap mau mendengar jawabannya, dengan sangat terpaksa gue engga mau mengikuti apa perkataanmu itu tadi."
"Yaudah sih engga apa-apa Tan."
"Cewe mah gitu ya! apa-apa selalu marah, apa-apa selalu ingin menang sendiri, emangnya engga cape apa sih Re? udahlah Re, elu lebih pantas bersikap manis, dan engga ada sikap yang terlihat lebih baik bila dibandingkan dengan sikap manismu itu."
Perbincangan itu adalah hari terakhir bagi mereka, dan sore itu tepatnya setelah mereka telah melaksanakan salat asar, yang di mana motor tua itu kembali di lajukan.
__ADS_1