Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 304 : Senyuman dalam kediaman


__ADS_3

"Hhe, waktu itu gue masih lugu dan polos, padalah kalau engga salah di hari itu gue juga lagi nunggu seseorang wanita, tapi sayangnya dia engga datang," ucap Sultan seorang diri sambil tersenyum seraya tertawa tipis tanpa teman-temannya ketahui.


Sultan terus saja melihat foto kenangan di masalalunya itu hingga mentok sampai ke bawah. Di bawah galeri terakhirnya memperlihatkan foto kenangannya semasa dia dulu masih duduk di bangku SMP.


Foto yang paling banyak itu memang foto ketika dia masih duduk di bangku sekolah SMP. Dan di sana memperlihatkan sosok Sultan yang tengah berfoto bersama dengan teman wanitanya. Bila dihitung jumlah wanita yang berfoto bersamanya kurang lebih berkisaran 15 orang wanita cantik.


Wanita tersebut merupakan teman satu kelas dengannya, dan tentunya Sultan sangat mengenal dekat sosok mereka apalagi sosok wanita yang dulunya sempat mencintai seorang Sultan, pastinya dia takan pernah melupakan siapa sosok wanita tersebut itu.


Tak lama kemudian setelah Sultan melihat foto kenangan terakhirnya itu, Dimas pun ke luar dari dalam ruangan, dan di sana Dimas melihat bahwa Sultan tengah tersenyum-senyum sendiri, lantas dia pun penasaran dengan apa yang tengah Sultan senyumi itu.


"Woii, lagi ngapain lu Tan, perasaan dari tadi gue lihatin sepertinya elu lagi bahagia dah," ucap Dimas sambil melemparkan kain handuknya tepat mengenai kepala Sultan.


"Gila lu! lagian elu ini jorok amat dah Dim, handuk lu udah bau juga bego, kenapa elu masih menggunakannya sih, mendingan sekarang elu cuci dulu sana," ucap Sultan sambil melemparkan handuk Dimas tepat mendarat di bawah tanah yang basah.


"Ehh, jangan Tan!".


Setelah Sultan melemparkan handuk Dimas, lalu Dimas pun mengambilnya kembali, namun disaat dia akan mengambil handuknya itu, tiba-tiba saja Dimas tergelincir karena tanpa sengaja dia menginjak kulit pisang yang entah milik siapa.


Hingga pada akhirnya Dimas pun tak tertolong lagi, sampai mana baju yang baru saja dia ganti pun kotor terkena tahan yang basah itu.


Alangkah menyebalkannya Sultan di sana, di mana dia hanya bisa menertawakan Dimas tanpa Sultan mau membantu temannya itu.


"Haha, mampus lu Dim! suruh siapa lari, jadinyakan elu jatuh Dim. Yaudahlah, engga usah bersedih gitu, tinggal mandi lagi aja kelar tuh semua urusan elu itu," ucap Sultan yang tak mau berhenti menertawakan Dimas.

__ADS_1


"Ahh, sial! kenapa ada kulit pisang segala sih, lagian elu juga sih Tan, kalau elu engga melempar haduk gue, mungkin sekarang gue engga akan terjatuh seperti ini," ucap Dimas sambil menepuk-nepuk tanah yang menempel di bajunya.


Dengan begitu polosnya Dimas menaruh handuknya itu di dekat Sultan, alhasil Sultan pun melemparkan kembali handuk milik Dimas itu tepat di arah posisi handuknya itu tergeletak tadi.


Duarr ....


Suara tubuh Dimas yang terjatuh kembali membuat Sultan malah semakin tertawa lepas saja. Dan begitu bodohnya Dimas, di mana dia malah menginjak kulit pisang itu lagi, hingga pada akhirnya Dimas terjatuh untuk kedua kalinya.


"Hadeuhh ... dasar bodoh! bukannya buang ke tempat sampah, tapi elu malah menginjaknya lagi. Udahlah Dim, mendingan elu mandi lagi aja sebelum teman-teman elu pada bangun semua."


"Kenapa elu engga ngingetin gue sih Tan!".


"Awas Dim! jangan sampai kulit pisangnya elu injak lagi."


....


Dimas pun pergi membersihkan dirinya kembali di dalam toilet, sementara Sultan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja seraya tertawa karena tingkah laku Dimas yang begitu bodoh itu.


Seharusnya Dimas berpikir untuk menjauhi serta menjaga dirinya dari hal yang telah dia alami barusan, namun begitu bodohnya Dimas, dia malah menginjak kembali jebakan yang telah membuat dirinya jatuh untuk yang kedua kalinya.


"Dasar bego! seharusnya elu engga boleh gegabah dalam mengambil langkah yang telah salah elu pijak sendiri, jadi kesihan gue sama dia, semoga saja kecerobohannya ini takan pernah dia alami pada saat dia sedang bersama dengan pacarnya itu," ucap Sultan seorang diri, di mana dia pun lalu memanggil Dimas agar dia menggunakan handuk miliknya terlebih dahulu selagi handuknya belum bersih.


Waktu telah menunjukan pukul 03:55 pagi, di mana waktu Sultan sudah mengiranya dari awal bahwa Rere pasti akan mengabarinya sebelum salat subuh.

__ADS_1


Tepat dengan dugaan Sultan, setelah dia menunggu waktu itu tiba, Rere pun langsung memvideocallnya. Mengingat kondisi Sultan yang sekarang belum begitu pulih, Rere pun menjadi khawatir, makanya pagi itu dia lebih memilih untuk memvideocall Sultan daripada dia menelepon Sultan lewat panggilan telepon suara saja.


Kringg, kringg, kringg ....


Suara handphone Sultan menyala, dan di sana Sultan dapat mengetahui siapa penelepon itu tanpa dia melihatnya langsung, dikarenakan nada suara dring tersebut sengaja dia bedakan dengan yang lain, tidak lain agar dia bisa membedakannya dengan mudah antara Rere dan orang lain.


"Idihh ... udah main videocall aja, ada apa nih, jangan bilang kalau elu mau menanyakan kesehatan gue udah sepulih apa sekarang, benarkan Be?" ucap Sultan dengan begitu pedenya, hingga mana ucapannya itu membuat Rere merasa lega bahwa sekarang kondisi Sultan sudah pulih, walaupun belum pulih seutuhnya, tapi Rere terlihat begitu sangat senang sekali di sana.


Pada dasarnya Rere sangat ingin sekali melihat Sultan serewel seperti sekarang ini, namun tentunya Rere pun takan pernah melarang Sultan memaksakan dirinya untuk tetap mempertahankan sikapnya yang sekarang ini.


"Ciee, udah bisa bawel lagi ya, tapi gue engga mau memaksakan elu tetap terlihat kuat seperti ini, bila perlu tunjukanlah rasa lemahmu itu kepada gue sekarang."


"Wanitanya aja bisa sekuat ini, masa gue sebagai cowoknya engga bisa meniru semua kekuatan pacarnya ini sih, emangnya gue cowok apaan hhe," ucapan Sultan semakin membuat Rere tersenyum lebar.


"Tuhkan Re, apa gue bilang, kondisi gue ini hanya akan pulih disaat gue melihat senyuman manismu itu, terus aja seperti ini ya, dikarenakan hati gue yang memerintahkannya agar elu tetap mempertahankan senyumannya."


"Rasanya engga adil deh, setiap saat elu selalu saja menyalahkan hati kecil elu itu, padahal apa susahnya sih tinggal bilang aja kalau sebenarnya sekarang elu lah yang menginginkannya, bukan hati kecil elu itu."


"Kalau gue engga menyangkut pautkan sosok seperti dia, mau sampai kapan pun elu engga akan pernah mengerti rasa sayang gue terhadap elu itu sebesar apa dan sedalam apa."


"Lagian dia engga pernah keberatan tuh Re, bilamana gue selalu menuduhnya yang tidak-tidak asalkan dengan alasan perkataan itu dapat membuat senyumanmu bertambah semakin lebar saja."


"Senyuman gue akan selalu ada disetiap kamu membutuhkannya Tan, jangankan disaat seperti itu Tan, disaat elu melupakannya pun gue akan selalu memberikannya dalam diam."

__ADS_1


__ADS_2