
Pukul 04:00 pagi, entah kenapa Rere mengabari Sultan sepagi itu, untung saja waktu itu Sultan sempat menyalakan nada suara di handphonenya sebelum dia tertidur pulas, dan jadi ia dapat mendengarkan jelas bahwa Rere meneleponnya di sana.
Sultan sempat tak sadar ketika mendengar suara panggilan telepon pertama dari Rere, lalu setelah itu dia pun menelepon Sultan yang kedua kalinya, dan di sanalah ia baru bisa mendengar suara telepon dari Rere.
"Bangun sayang, gue mau minta alamat kontrakan elu nih, share lokasinya sekarang juga ke Whatsapp gue, nanti setelah salat subuh gue mau langsung berangkat ke sana, jangan lupa jemput di stasiun ya," ucap Rere dengan seketika membuat Sultan terkejut, padahal semalam sikap dia begitu dingin, apa mungkin dia memang sengaja bersikap seperti itu kepadanya, dikarenakan dia ingin mengejutkan Sultan di sana.
Sultan sempat mengira kalau ini adalah sebuah mimpi yang tak nyata, lantas ia menyuruh Rere untuk menunggunya beberapa menit saja karena ia ingin mencuci wajahnya terlebih dahulu di dalam toilet kontrakannya itu.
Beberapa menit telah berlalu, ia menghabiskan 2 menit waktu di dalam toilet, dan setelah ia sadar bahwa ternyata ini bukanlah mimpi, melainkan ini nyata adanya.
Sultan menyeduh susu hangat untuk ia minum di luar ruangan kontrakan, rasanya pagi itu cukup gerah saja, maka dari itu ia berdiam diri di luar ruangan kontrakan untuk merasakan angin pagi yang berhembus keseluruh anggota tubuhnya.
"Udah belum Tan? perasaan elu lama beut dah ngilangnya, emangnya elu ngapain aja sih di dalam toilet? heran dah gue Tan," ucap Rere dengan perasaan terheran-herannya.
"Elu ngomong aja sendiri ya, Be, sama sekalian tolong jelasin juga tuh kenapa malam kemarin elu menolak panggilan telepon suara dari gue itu, gue mau makan dulu sebentar ya, soalnya gue udah engga kuat menahan rasa lapar ini," ucap Sultan sambil membuka kotak makan pemberian Aisyah yang semalam belum ia makan karena terlalu mengantuk.
"Vc aja ya, Tan, gue pengen liat reaksi wajah elu ketika mana gue telepon sepagi ini di sana, gue curiga deh sama elu Tan! apa jangan-jangan elu masih belum sepenuhnya sadar dari tidurmu itu."
"Terserah lu dah Re, pokonya gue tetap mau makan, jangan sampai gue yang makan elu nanti Re."
__ADS_1
Rere tersenyum ketika melihat Sultan tidak marah kepadanya, lalu dia mengubah telepon panggilan suara tersebut ke panggilan video.
Ternyata memang benar, bahwa Sultan tengah makan di sana, lantas dia melihat kesegala arah, yang di mana permandangannya sungguh berbeda, dan nampaknya semua teman-teman Sultan telah pulang ke Sukabumi, dia tak begitu mengherankan kepergiran mereka, makanya dia berani mengunjungi kontrakan Sultan seorang diri.
Rere menjelaskan semua alasan kenapa semalam sikapnya itu begitu dingin, dan alasannya ternyata masih tetap sama, yakni disengaja karena dia hanya ingin mengejutkan seorang pria menyebalkan seperti Sultan.
Sultan mengernyitkan dahinya sambil tertwa tipis setelah ia mendengarkan penjelasan yang cukup panjang dari wanitanya itu.
"Malah cengengesan lagi! bukannya marah, kesal, benci, atau apa kek sama gue, tapi kenapa elu malah senang-senang sendiri seperti itu sih Tan, dasar samyang," ucap Rere memang sengaja memberikan kata tersebut agar Sultan bertanya arti dari kata panggilan itu adalah apa.
....
"Gue udah tahu niat lu apa, dan gue juga udah tahu arti dari ucapanmu itu adalah apa, jadi sekarang gue mau pura-pura terlihat seperti orang bingung aja deh, samyang apaan Re, setahu gue sih itu makanan dah," canda Sultan dengan seketika membuat senyuman Rere menghilang.
"Aihh ... sabarlah Be, gue mau simpan dulu kotak makan ini ke dapur, lagian kenapa sih buru-buru amat? emangnya elu mau ke mana Be? dasar ranting."
"Ranting apaan lagi sih Tan, udah deh jangan rese, gue tahu bahwa kata-kata tersebut hanya akan menjatuhkan senyuman gue."
"Iya ranting, Rere sinting," ucapan Sultan membuat dirinya tertawa-tawa sendiri, bahkan tawanya itu terdengar lebih lepas dari tawa yang sebelumnya.
__ADS_1
Rere mengkerutkan wajahnya, dia nampak kesal, namun lama-kelamaan dia pun ikut tersenyum juga seperti Sultan, apalagi tawa Sultan membuat Rere sadar bahwa bahagia ternyata tak selalu datang dari harta, melainkan dari sebuah candaan pun bahagia itu sudah dapat dirasakan oleh hatinya sendiri.
Setelah Sultan menyimpan kotak makan itu di dapur, ia pun lalu mengirimkan alamat kontrakannya kepada Rere, pada saat itu juga Rere dibuat terkejut, ternyata kontrakan Sultan sangat jauh.
Rere beranggapan apakah dia bisa sampai di sana, dan terlebih dia berangkat dari Sukabumi seorang diri tanpa ada yang menemaninya.
Suara azan telah berkumandang, Rere mematikan panggilan videonya untuk melaksanakan ibadah salat subuhnya di dalam rumah, sementara Sultan pergi ke mesjid untuk melaksanakan ibadahnya itu di dalam sana bersama dengan jamaah yang lainnya.
Sebelumnya Rere sudah diberikan izin oleh ibunya untuk pergi melihat keadaan Sultan di sana, jadi beliau tak perlu lagi mengkhawatirkan jam berapa anaknya itu akan pulang, dikarenakan beliau tahu perjalanan menuju ke Tangerang itu cukup jauh.
Setelah mereka berdua selesai melaksanakan ibadah salat subuhnya disetiap masing-masing tempatnya itu, Sultan menyuruh Rere untuk tetap menyalakan videocallnya sampai dia tiba di setasiun Tangerang Serpong.
Beberapa jam telah berlalu, hingga mana pukul 13:20 Rere telah tiba di stasiun Tangerang Serpong, Sultan mulai menyalakan motor tuanya, tanpa menunggu waktu banyak ia pun pergi untuk menjemput Rere.
"Cepe juga ternyata ya, berangkat pagi dari Sukabumi hingga sampai ke Tangerang, gue merasa engga enak sama dia, apa mungkin selama ini gue salah ya, selalu menagih rindu kepadanya?" tanya Rere kepada hatinya sendiri sambil merundukan pandangannya itu juga.
Sultan menjemput Rere hingga masuk ke dalam stasiun, dikarenakan dia sama sekali tak melihat keberadaan Rere di luar ruangan stasiun, maka dari itu ia masuk ke dalam sana untuk memastikan keberadaan Rere.
Panggilan videonya sempat terputus pada saat Rere berada di dalam gerbong kereta, dia tak tahu kenapa panggilan videonya itu terputus dengan seketika, apa mungkin jaringan di dalam sana memang down dan buruk.
__ADS_1
Sultan melihat Rere begitu fokus menatap ponselnya di sana, dan sepertinya dia tengah berusaha menelepon Sultan, namun tak ada satu pun panggilan yang masuk ke dalam ponsel Sultan.
Untung saja pesan Whatsapp Rere sempat terkirim, jadi ia bisa mengetahui bahwa dia telah sampai di stasiun Tangerang Serpong.