
Sore itu, di mana Sultan dan Rere tengah beristirahat dan duduk di kursi samping jalanan yang cukup ramai, namun tidak terlalu ramai-ramai juga seperti waktu sebelumnya.
Sultan disuruh oleh Rere untuk berhenti sejenak, dikarenakan dia sangat penasaran dengan jalanan yang pernah Sultan sebut-sebut itu kepadanya.
Ketika mana Sultan melihat raut wajah Rere sedamai itu, rasanya tak tega juga bilamana ia harus memberikan waktu yang singkat untuk dia di sana, maka dari itu ia memesan dua susu hangat dipedagang asongan untuk mereka nikmati di malam hari yang dingin itu.
Sebenarnya perjalanan mereka berdua itu masih cukup panjang, apabila mereka menunda-nunda waktu singkatnya itu sekarang, kemungkinan besar mereka akan tiba di Sukabumi tepatnya pada pukul 12 larut malam.
Sebelumnya Sultan memang sempat menghitung waktu perjalanannya yang sekarang ini, maka tak heran kenapa ia dapat mengetahui jelas pukul berapa ia akan tiba di Sukabumi.
Rere baru ingat, dia ingin bertanya kepada Sultan tentang wanita yang bernama Selvita, entah kenapa prianya itu tidak pernah menceritakan puisi yang pernah dia buat di buku catatan hariannya itu untuk Selvita kepadanya.
"Emm, Be, aku mau tanya sama kamu bolehkan? tapi kamu harus janji ya, jangan marah, siapa sosok wanita yang bernama Selvita itu, maaf kalau aku lancang, abisnya aku cuma bingung aja kenapa ada puisi yang bertentangan dengan raut wajah dia di dalam buku catatan harianmu itu Be."
Ucapan Rere terdengar seperti ancaman bagi Sultan, sampai-sampai ia terkejut dan terbatuk-batuk sendiri pada saat Rere mengucapkan nama Selvita.
Selvita itu adalah orang yang pernah Sultan cintai, dia sama seperti Sultan, sama-sama mengikuti Organisasi Pramuka di sekolahnya sendiri.
Sultan menghela napas, dan lalu ia pun menyeruput kembali air susu hangatnya yang sempat terlepehkan itu karena batuknya.
"Perasaan puisi itu udah lama aku hapus dah Be, kurang lebih semenjak aku mengenal dirimu, apa mungkin pacar gue ini salah lihat aja kali," ucap Sultan nampak heran, kenapa puisi lawas itu masih ada di dalam buku catatan hariannya.
__ADS_1
Demi melihat Sultan berkata jujur kepadanya, dengan seketika dia menyandarkan kepalanya dibahu Sultan. Padahal Rere tak perlu melakukan hal itu, dikarenakan apa pun yang ingin dia dengarkan, Sultan pasti akan selalu berkata jujur kepadanya.
Namun, sekarang entah kenapa Sultan terlihat bingung-bingung sendiri, bukannya puisi tentang Selvita sudah lama ia hapus dari dulu di dalam buku cacatannya itu, tapi ternyata Rere baru saja mengingatkannya bahwa nama temannya itu masih tertulis jelas di buku catatannya.
"Aku engga akan marah kok, kamu tinggal jawab jujur aja, lagian itu kan udah lama berlalu, dan aku engga mau mengungkitnya lebih dalam lagi agar pacar gue ini engga terlalu memikirkan hal itu sampai kamu menginginkan hidup bersama dengannya lagi," ucap Rere begitu rendah hati sambil menyandarkan kepalanya dibahu Sultan.
"Selama ini aku baru sadar loh Be, dan aku sama sekali engga tahu kalau ternyata puisi tentang dia masih ada dan tertulis di dalam buku catatan aku itu," ucap Sultan jujur, dikarenakan ia memang baru menyadari hal tersebut setelah Rere memberitahuinya.
"Sesepesial apa dia dulu Be? aku mau tahu."
"Bukannya gue udah pernah cerita sama kamu ya, Be? dia itu siapa dan rupanya dia juga adalah teman lama kamu sewaktu kamu masih sekolah di SMP."
Entah apa yang membuat Rere menginginkan Sultan bercerita tentang kisah cintanya dulu, apa mungkin dia sengaja ingin menirukan gaya lembut dari seorang Selvita, padahal sikap mereka berdua tak jauh berbeda.
"Iya Be, aku tahu kalau dia itu memang teman aku dulu, tapikan kita berbeda kelas Be, setahu aku dia itu wanita yang sama polosnya seperti aku, namun yang membedakan dia dengan aku itu adalah dia yang selalu dicintai oleh banyaknya cowok di sekolahan aku dulu," ujar Rere sudah dapat Sultan tebak, di mana dia pasti ingin bertanya mengapa Sultan selalu bisa mendapatkan hati wanita secantik dia.
"Bilang jujur aja kenapa sih Be, aku tahu kok, kalau kamu cuma mau menanyakan kenapa aku bisa mendapatkan hatinya semudah seperti aku mengkedipkan mata, abisnya raut wajahmu tak mencerminkan kalau kamu itu ingin bertanya hal yang lain selain ini," ucapan Sultan dengan seketika membuat Rere mencubit pipinya.
Hari sudah terlalu sore, ia menunda ucapannya dan lebih memilih berbincang di motor saja sambil mempersingkat waktunya yang sekarang ini.
Rere mengangguk, dan kemudian Sultan menyalakan motor tuanya kembali. Sultan mulai menjelaskan ucapan yang ingin Rere dengarkan sebelumnya.
__ADS_1
Rere tak habis-habis memeluk tubuh Sultan tanpa dia mau melepaskan pelukannya itu. Jalanan yang dipenuhi oleh indahnya cahaya lampu kini benar-benar menyatu dengan perasaan nyaman mereka berdua.
"Masa iya kamu lupa sih Be, pacar kamu ini kan memiliki sifat manis semanis, dan selembut permen kapas, jadi jangan heran kenapa bisa aku mendapatkan hatinya, walapun pada dasarnya aku sendiri yang menyuruhnya untuk tetap milih pria yang memang sudah terlanjur cinta padanya, dan terlebih aku adalah pria yang paling tidak suka merusak hubungan orang lain hanya karena dia bingung harus memilih siapa."
Penjelasan itu belum cukup panjang, ia menjeda ucapannya selagi Rere tersenyum, lantas Rere menunggu lama kenapa prianya itu masih belum bersuara lagi.
"Kok, diem sih! lanjutin dong Be, gue udah terlanjur nyaman dengernya nih, jangan setengah-setengah coba Be, perasaan kalau semakin lama aku diemin, kamu malah semakin bertingkah aja," ucap Rere terlihat bingung, dia pun membangkitkan sandarannya hanya untuk memastikan apakah Sultan masih sadar.
"udah ah, nanti elu malah semakin terbawa perasaan lagi, aku engga mau membuatmu cemburu gara-gara masalalu yang pernah aku alamin tak semanis saat bersamamu."
Rere mencubit tubuh Sultan, dan ternyata selama ini prianya itu tak pernah merasakan kebahagiaan sebahagia pada saat dia berkenalan dengan Selvita.
"Ihhh ... dasar bego! perasaan kenapa sih elu itu jahat banget sama pacar sendiri! tahu ah, gue bete! seharusnya bilang dari awal kalau niat elu itu cuma mau manas-manasin gue aja, lebih baik gue pulang sendiri aja tadi, siapa tahu nanti aku ketemu sama cowok yang lebih ganteng dari dirimu Tan."
"Cowok seganteng apa pun engga ada yang bisa ngalahin rasa sayang gue ke kamu itu seperti apa Be, lagian niat gue yang sebenarnya itu adalah mengantarkanmu sampai ke rumahmu, sama satu lagi, aku juga ingin memastikan pacar gue ini aman dari para preman terminal itu."
Sultan tertawa lepas ketika mana dirinya melihat raut wajah Rere memerah seperti itu, apa mungkin dia terlalu terbawa suasana, dikarenakan dia telah mengucapkan ucapan tersebut kepada prianya itu di sana, dan jadi sekarang dia tengah merasa malu kepada Sultan.
Rere menjauhkan pandangannya sampai Sultan melihat bahwa Rere telah menepikan wajahnya itu ke arah pandangan sebelah kanan.
Sultan hanya bisa menatap raut Rere di balik kaca spionnya itu saja, rasanya Sultan ingin memberhentikan sejenak lajuan motornya yang sekarang ini hanya untuk mencubit pipi Rere beberapa detik saja.
__ADS_1