Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 395 : Dia pernah menangis karena terkharu


__ADS_3

Waktu itu, yang di mana Sultan pun kembali meninggalkan sekolah, dan sebelum itu ia pun sempat dipanggil oleh Kang Azis, yang di mana Kang Azis sedang bolos sekolah, dikarenakan dia pun sedang sakit juga, namun itu hanya sebuah penyakit malas untuk pergi masuk ke dalam sekolah saja, bukan melainkan sakit seperti Rere.


Dan tentunya Sultan pun telah membuat rencana, yang di mana rencana itu adalah untuk menakut-nakuti kakak kelasnya yang pemalas itu di sana.


Dan di sana Sultan pun memulai sandiwaranya itu, yang di mana waktu itu ia berbicara kepadanya bahwa akan ada seorang guru kesiswaan yang akan datang menghampirinya di dalam kosan itu, dan tentunya guru itu adalah Pak, Maki.


"Mau ke mana lu Tan? sekolah bebas bukan?" ucap Kang Azis, yang di mana dia tengah berbaring santai di sebuah rak kasur yang sering anak-anak kosan itu gunakan untuk duduk.


"Bebas dari mananya Bang! elu lagi dicariin sama guru kesiswaan juga," ucap Sultan terlihat tegang, namun di sana hatinya sedang tertawa puas melihat muka kakak kelasnya itu mulai terlihat khawatir.


"Serius lu Tan?".


"Dikasih tahu lu mah malah ngeyel Bang! gue serius ini? kalau misalnya gue engga sayang sama elu, udah gue diemin dari tadi."


"Kalau ada dia ke sini bilangin, di dalam kosan engga ada siapa-siapa, atau elu bisa bilangin kalau gue lagi balik kampung karena ada urusan keluarga," ucap Kang Azis sembari berlari masuk ke dalam kamarnya itu, dan tentunya dia tidak lupa untuk mengunci pintu kamarnya itu rapat-rapat di dalam sana.


"Mampus lu Bang! suruh siapa bolos mulu! akhirnya gue bisa ngerjain elu juga kan Bang, sorry Bang, gue emang suka jahil sama siapa pun, dan jadi elu jangan heran kalau gue suka melakukan hal tersebut itu," ucap Sultan dalam hati sembari menertawakan kakak kelasnya itu di luar kosan.


Motor tua kembali ia nyalakan, dan kemudian itu ia pun lalu menjalankan motornya tersebut dengan secepat mungkin, dikarenakan ia harus segera menjemput dan mengantarkan Rere untuk pergi berobat.

__ADS_1


Dan tentu saja, itu semua adalah janji Sultan, yang di mana janjinya tersebut itu ia ucapkan kepada ibu Rere sebelumnya di sana. Dan pada saat itu, dengan tegasnya Sultan menyuruh ibu Rere untuk tetap berdiam diri di dalam rumah saja, dikarenakan ia hanya merasa takut bilamana ibunya itu akan jatuh sakit juga.


Salam, serta sapa pun kembali ia berikan untuk menyapa orang yang berada di dalam rumah. Dan seperti biasa, beliau pun tengah menunggu kedatangan Sultan di dalam rumahnya itu bersama dengan Rere.


Sultan pun lalu duduk di samping Rere, dan di sana Rere pun terlihat sedang menjauhkan wajahnya itu dari pandangan Sultan.


Dan waktu itu, Rere pun menutupi wajahnya itu dengan menggunakan masker, yang di mana topi dari jaket parkanya itu juga menjadi suatu pelengkap, dan tentunya pelengkap itu adalah cara Rere untuk menyembunyikan wajahnya yang ancur itu gara-gara terkena cacar air.


"Dan lagi-lagi, mamah ngeropotin Sultan, emang Sultan engga akan dimarahin sama gurunya? kalau nanti Sultan dimarahin! Sultan bisa langsung kasih tahu mamah aja ya, biar nanti mamah yang akan ngomong langsung sama guru kamu," ucap ibu Rere sembari menatap Sultan langsung di dalam ruang tamu itu.


"Sultan udah bilang sama guru Sultan sendiri Mah, dan jadi mamah engga usah takut kalau nanti Sultan dimarahin sama guru Sultan sendiri," ucap Sultan dengan penuh rasa percaya diri.


"Udah berapa kali mamah ucapkan kata-kata itu kepada Sultan? dan menurut Sultan, itu engga perlu mamah ucapkan kembali, dikarenakan Sultan telah mendengarnya dari awal," ucapan Sultan itu, sungguh membuat Rere menatap wajah prianya itu kembali, walaupun di sana Rere tengah menggunakan masker, akan tetapi kecantikannya itu masih akan tetap sama terlihat seperti biasanya.


....


Suara isak tangis yang di keluarkan dari mulut anak bungsunya itu, seketika membuat perbincangan menjadi terpotong, dan yang di mana beliau pun lalu pergi meninggalkan Sultan bersama dengan Rere di dalam ruangan itu di sana.


Tatapan itu, adalah tatapan rasa sayang, yang di mana Sultan memberikan itu semua untuk membuat Rere paham, bahwa paras wajahnya yang sekarang itu, takan pernah mungkin bisa membuatnya pergi menjauhi dirinya itu di sana sekarang, dan tentunya Sultan akan selalu menemaninya di sana hingga mana penyakit yang sedang menimpa Rere itu menghilang.

__ADS_1


"Pacar gue ini aneh ya! bilangnya rindu, tapi malah membelenggu terdiam diri seperti ini, engga jelas banget emang elu Re! dasar bolot!" ucap Sultan yang tak langsung menatapi Rere, dikarenakan ia hanya ingin membuat Rere menatap dirinya di sana.


"Kamu bilang aneh Tan! kamu engga salah bilang kayak gitu sama aku? padahal aku hanya malu aja Tan, dikarenakan wajah aku saat ini sedang tidak baik-baik saja, dan terlebih aku hanya takut kalau kamu makin menjauhi aku di sini," ucap Rere yang mulai menatap wajah Sultan di sana sedikit demi sedikit.


"Menjauh itu untuk apa Re? karena sebagaimanapun ini adalah penyakit yang hanya sementara, dan bahkan raut wajahmu masih tetap terlihat cantik seperti biasanya kok, dan itu semua takan pernah membuatku minder untuk menjauhimu."


"Penyakit ini mudah menular Tan! dan aku cuma takut kamu bakalan pergi menjauhi gue untuk saat ini, dan terlebih bukan hanya kamu aja, melainkan orang lain pun akan sepemikiran sama dengan gue juga."


"Mana coba sini? biar penyakitnya ini nular juga ke gue, dan jadi kita bisa sama-sama sakit, biar elu ada yang nemenin juga, dan lagian kalau elu merasa malu, kalau elu merasa minder sama penyakit ini? gue rela kok, buat menggantikan rasa sakit ini demi elu Re," ucap Sultan sembari memeluk bahu Rere, serta mencolek hidung Rere juga di dalam sana.


"Kamu ini kok, rese sih Tan! aku bilang jangan deket-deket sama gue! gue takut kalau penyakit ini nular juga sama elu," ucap Rere, yang padahal ia begitu nyaman ketika mana Sultan merangkul bahunya kembali di dalam sana.


"Elu takut kan Re, kalau semua orang pergi menjauhi diri elu di sini? dan maka dari itu di sini, gue engga akan mau dan engga akan pernah takut untuk tetap terus mendekati dan menemani elu di sini, bila kamu melawannya! maka gue akan pergi menjauhi elu, dan bilamana elu menerima gue seperti ini, maka gue akan selalu terus berada disisimu."


"Seberapa lama gue mencintai elu? dan seberapa lama gue ingin memiliki elu? hingga pada akhirnya mimpi yang gue inginkan ini terkabul juga."


"Dan bila kamu pikirkan, hanya dengan masalah penyakit ini kita pun berdebat! dan tentunya itu engga akan ada gunanya Re, dan bahkan elu sudah mengetahui sikap gue itu seperti apa kan? dan jadi udah ya, kalau gue akan tetap cinta sama elu."


"Dan yang harus elu ketahui itu, bahwa penyakit ini takan pernah menular lagi kepada orang-orang yang sudah mengalaminya pada saat usia dini," ucap Sultan panjang lebar, yang di mana perkataannya itu membuat Rere menangis kharu.

__ADS_1


__ADS_2