
Sultan dan Rere berdiri di atas bangunan tembok yang di dalamnya berisikan air asli dari pegunungan, orang sana sering menyebutnya dengan istilah Toren Biru, dikarenakan warna dari tembok itu memang berwana biru air laut.
Rere menatap indah permandangan di atas bukit sana, walaupun ketinggiannya bisa dibilang rendah, akan tetapi panoramanya terasa sama seperti Sultan dan Rere menaiki gunung-gunung yang berada di Jawa Barat.
Rere mengambil beberapa potretan foto untuk dikirimkan ke dalam story Whatsappnya. Sultan membiarkan Rere mengabadikan momennya terlebih dahulu, dan sesudah itu ia baru bisa mengajak Rere berbincang bersama dengannya kembali.
Rere pun lalu duduk di samping Sultan setelah dia selesai mengabadikan momen langkanya di atas sana. Dia mulai mengajak Sultan berbincang sembari terkagum-kagum melihat keindahan alam yang sedang dia lihat itu.
"Enak banget udara di atas sini Tan, kenapa kamu bisa tahu kalau ada bangunan indah seperti ini di sini?" tanya Rere yang masih menatap keindahan alam di atas sana.
"Gue lahir dan besar di Kota ini Re, waktu kecil semasa gue masih sekolah SD, gue sering berkelana ke mana-mana, apalagi ke hutan seperti ini Re, semua ini sudah tidak asing bagi gue menatapnya," ucap Sultan menjelaskan semua pengalamannya kepada Rere.
"Pantas aja lu suka mendaki Tan, ternyata ini sudah menjadi hobby lu dari kecil."
"Gue udah pernah bilang sama kamu kan Re, bahwa hobby gue bukan itu, melainkan menatap raut wajah kamu ini Re," ucap Sultan yang membuat Rere memandangi raut wajahnya sekarang.
"Jangan gombal!" ucap Rere sembari menepikan raut wajah Sultan dengan tangan kanannya.
Sultan tertawa tipis, ia pun lalu merangkul bahu Rere dan menyuruh Rere untuk menyandarkan kepalanya itu di atas bahu Sultan dengan waktu yang cukup lama, dikarenakan esok hari Sultan sudah harus pergi berangkat ke Tangerang kembali.
Rere menyetujui ucapan Sultan, dia terdiam dengan waktu yang cukup lama, seperti yang Sultan ucapkan tadi sebelumnya kepada Rere bahwa dia harus menyandarkan kepalanya dibahu Sultan selama mungkin.
__ADS_1
Cuaca di pagi hari ini cukup cerah, awan putih pun sepertinya takan merubah warnanya mejadi abu-abu gelap pekat, dan mungkin hujan pun takan turun di pagi hari ini soalnya langit biru tak memperlihatkan tanda-tandanya kepada mereka berdua.
"Kamu besok berangkat jam berapa Tan? mau mampir ke rumah gue dulu kagak?" tanya Rere dengan harapan bahwa Sultan akan kembali menemuinya di hari terakhirnya esok pagi.
"Jangan terlalu berharap, soalnya gue besok pasti akan datang ke rumah elu kembali," ucap Sultan dengan tatapan tajamnya.
"Serius kamu Tan? gue engga percaya sama lu ah! abisnya lu palingan cuma mau liat gue senyum aja kan, atau lu sengaja ingin buat gue senang aja," ucap Rere yang masih tidak mempercayai ucapannya itu selagi Sultan belum menunjukan bukti apa pun kepadanya.
Sultan memperlihatkan semua pembahasan yang mereka bahas sebelumnya di sebuah grup Whatsapp, dan yang di mana mereka semua telah menentukan waktu keberangkatannya, serta pukul berapa mereka semua akan pergi berangkat ke Tangerang kembali.
Pukul 12 siang, itu adalah waktu yang mereka tentukan, hingga mana Sultan masih memiliki cukup banyak waktu untuk menemui Rere di rumahnya.
Tapi, sebenarnya Sultan telah merencanakan waktunya kepada Rere bahwa ia akan mengajak Rere jalan santai esok pagi.
Tempat itu adalah tempat yang pernah mereka singgahi disetiap Minggunya, di mana lagi kalau bukan Lapang Merdeka.
"Sebenarnya besok gue mau ngajakin elu lari pagi Re, elu mau kan?" tanya Sultan singkat, dikarenakan ia hanya ingin mendengarkan jawaban dari Rere saja.
"Gimana ya, Tan, sebenarnya gue mau, tapi ... ," ucapan tapi itu dengan seketika dipotong oleh Sultan.
"Berarti kamu setuju kan Re? yaudah besok gue jemput kamu ke rumah ya, kamu jangan takut, nanti biar gue yang bilang sama ibumu itu di sana."
__ADS_1
Sultan sudah mengetahui apa yang sedang Rere pikirkan di sana, dan itu sebabnya kenapa ia memotong ucapan tapi Rere yang sangat panjang itu, dikarenakan lontaran tersebut adalah ucapan ketidak jelasan, ataupun ucapan ketidak pastian yang dia berikan kepada Sultan.
"Kamu punya banyak teman hidup Be, jadi kamu engga perlu menakuti kemarah ibumu nanti soalnya teman hidupmu itu akan selalu berdiri di sampingmu setiap saat dan takan pernah meninggalkanmu sampai kapan pun itu waktu berjalan," ucap Sultan yang membuat Rere begitu memahami dekat ucapan Sultan itu.
Teman hidup Rere adalah Sultan, dan ibu Sultan sendiri, mereka adalah sosok yang takan pernah meninggalkannya selagi Tuhan masih merestui hubungannya di bumi ini.
"Ibu gue selalu sayang sama kamu Re, dan gue pun sama, tapi sayangnya beliau kepadamu lebih besar dari pada rasa sayang gue, entah kenapa gue selalu merasa kalah saing oleh beliau, tapi di sini gue selalu sadar, bahwa hal yang paling penting itu adalah menghilangkan rasa ragu dan jangan sampai membuat keraguan itu membisu," Sultan menjeda ucapannya.
"Sama seperti aku mendekatimu dulu Re, rasa ragu itu memang ada, tapi itu untuk apa? hingga pada akhirnya keraguan di hati gue itu mulai pudar, sampai pada saat semuanya terungkap, bahwa seorang Sultan dapat menyaingi semua orang yang tengah mempejuangkan hatinya untuk memliki hatimu di sini," ucapan jujur Sultan benar-benar membuat Rere memeluk tubuhnya.
Akhirnya kali ini Rere bisa mendengarkan ucapan tulus dari mulut Sultan itu. Dia tercengang, dia tersipu malu, dan dia terdiam, tapi itu sama saja dengan dia mengabaikan ucapan Sultan tadi, yang di mana Rere harus bisa menghilangkan keraguannya itu untuk dirinya sendiri, bukan melainkan untuk Sultan.
Mengapa? karena Sultan telah memilikinya, apa yang harus dia harapkan sekarang selain melihat wanitanya mempercayai hati prianya seutuhnya.
Sultan mengajak Rere untuk turun dari bukit, dikarenakan angin di atas sana sangat kencang sekali, ia hanya takut bila nanti Rere akan jatuh sakit karena telah mengikuti kemauannya untuk pergi ke atas bukit ini.
Sebelumnya Rere sempat berucap kata terima kasih kepada Sultan dengan sangat manis, bahkan kelembutan suaranya itu berbeda dengan ucapan manisnya yang dulu.
"Terima kasih Tan," ucapan singkat yang penuh makna itu tak membuat Sultan terdiam, bahkan Sultan semakin membuat hati Rere benar-benar luluh.
"Terima kasih kembali Re, sebenarnya aku engga mengharapkan kata-kata itu, tapi bilamana kamu sudah mengucapkannya, maka aku hanya bisa berkata sama-sama," ucap Sultan sembari mengeluarkan gaya aslinya, yang di mana tertawa tipis itu adalah cara Sultan memahami ucapan dari Rere.
__ADS_1
Mereka mulai meninggalkan tempat indah tersebut. Sultan benar-benar merangkul bahu Rere sampai saat ini tanpa mau melepaskan rangkulannya sebelum situasi berpihak kepadanya.