
"Oke, berhubung ini udah masuk jam waktu tidur kita, lebih baik sekarang kita istirahat aja, soalnya gue kesihan tuh sama dia dari tadi matanya udah merem dan melek aja terus," ucap Alamsyah sembari menoleh ke arah Dimas.
"Matanya dijaga ya, Lam, perasaan dari tadi gue perhatiin elu ngelirikin gue terus dah, gue tampan ya, Lam, sebenarnya gimana ya, kalau dibilang tampan gue memang tampan sih," candaan Dimas membuat Alam melemparkan bungkus rokok kosongnya tepat mengenai wajah Dimas.
"Hhee, apa-apa tampan! tampan dari mananya, dari dengkulnya atau dari perutnya! mendingan elu ngomong aja tuh sama bungkus rokok kosong gue ini, kesel beut gue dengerinya sumpah dah," ucap Alam sembari melemparkan bungkus rokok kosong miliknya itu ke arah wajah Dimas.
Tak lama setelah mereka tertawa di depan teras sana, hingga pada akhirnya mereka pun tertidur di dalam ruangan kontrakan dengan keadaan gerah seperti biasanya.
Entah mengapa di malam hari ini suhu di dalam ruangan terasa begitu panas sekali, sampai-sampai mereka saling berebutan satu kipas angin yang berada di dalam ruangan tersebut.
Perselisihan soal kipas angin itu takan lama lagi akan segera usai, dikarenakan teman-teman Sultan hanya akan sadar ketika mata mereka masih terbuka lebar, lalu setelah itu mereka pun akan tertidur dengan sendirinya tanpa perintah.
Dan seperti biasa ketika mereka semua sudah tertidur dengan begitu nikmatnya di dalam sana, Sultan pasti akan selalu mengubah arah posisi dari kipas angin tersebut agar angin yang dihasilkan selalu mengarah serta memberikan anginnya itu ke arahnya saja.
Kadang kala Alam, Azmi, serta Wildan sering kali terbangun dari tidurnya karena angin yang dihasilkan dari kipas tersebut tak dapat mereka rasakan, sehingga orang-orang gila itu mengubah dan mengatur angin dari kipas itu hanya untuk diri mereka yang menyadarinya lebih dulu.
Dikarenakan malam di hari ini cukup panas sekali, sampai-sampai Wildan terbangun dari tidurnya, dan di sana dia telah menyadari bahwa ada sesuatu hal yang ganjal di dalam sana, yang di mana tadinya kipas angin itu bergerak secara otomatis, tapi entah kenapa sekarang kipas angin tersebut itu malah menetap di arah Alamsyah saja.
__ADS_1
"Wihh, gerah beut dah, perasaan ini kipas tadi malam bergerak seperti biasanya, tapi kenapa sekarang kipas ini hanya diam di posisi Alam, dasar serakah!" ucap Wildan sembari mengatur posisi kipas angin ke arah yang sebelumnya lagi.
Sementara itu disuatu sisi, yang di mana Sultan menoleh ke arah Wildan, untung saja arah kipas angin sempat dia posisikan ke arah Alam sebelum Wildan mengetahuinya di sama, jadi sekarang dia aman dari tuduhan Wildan.
"Hihi, untung saja gue sempat menyadari pergerakannya bahwa si bego itu pasti bakalan terbangun dari tidur terlelapnya karena kepanasan, jadi untuk sementara waktu ini posisi gue aman, lagipula dia juga engga akan mungkin tahu kalau gue adalah orang yang mengubah posisi itu," ucap Sultan sambil menahan rasa ingin tertawanya di sana.
Ternyata bukan hanya hawa panas saja yang dapat mereka rasakan di dalam sana, entah kenapa setelah hujan berhenti dengan seketika di dalam ruangan pun dipenuhi oleh banyak nyamuk yang berdatangan.
Sebenarnya bukan dari gigitannya itu yang mengganggu waktu tidur mereka di sana, namun suara dari nyamuk yang berterbangan itulah yang sebenarnya mengganggu waktu tidur mereka semua di sana.
....
"Ahh ... sial! kenapa malam ini begitu sulit bagi gue untuk tertidur pulas seperti biasanya lagi sih, udah itu hawa panas, gigitan serta suara nyamuk sangat menganggu hari-hari gue untuk bermimpi indah saja," ucap Azmi sambil sesekali mengusap-ngusap telinganya yang agak sedikit gatal.
Plakk, Plakk ....
Seisi ruangan sekarang dipenuhi oleh suara tepukan tangan yang berlomba-lomba dalam memenangi siapa orang yang paling banyak mendapatkan nyamuk yang berterbangan di dalam ruangan kontrakan.
__ADS_1
"Ahh ... sial! kenapa malam ini begitu panas sekali! udah itu suara nyamuk dan gigitannya mangganggu waktu tidur terlelap gue aja! padahal tadi itu mimpi gue lagi indah-indahnya tuh," ucap Azmi sambil menepuk nyamuk yang berada di atas telinganya.
"Perasaan dari tadi gue lihatin yang paling nyenyak tidurnya itu cuma si Dimas seorang dah, mendengkur dengan begitu lepasnya sampai suhu panas di dalam ruangan serta suara dari nyamuk dan gigitan dari nyamuk pun dia abaikan begitu saja," ucap Alam, di mana tatapannya yang sekarang sudah mulai terlihat bahwa dia sudah merasa tak nyaman lagi bila dia harus berdiam diri di dalam sana dengan waktu yang lebih lama lagi.
Sementara itu di dalam sana sebagaimana sikap dari teman-teman Sultan yang begitu menyebalkan, dan tentunya mereka semua takan pernah bisa membiarkan salah satu dari temannya masih ada yang tertidur sepulas itu di dalam sana.
Sebenarnya pikiran jahil tersebut hanya terlintas di dalam otak Alam saja, sementara teman-temannya yang lain hanya bisa memikirkan bagaimana caranya agar mereka yang berada di dalam sana dapat kembali tertidur seperti biasanya lagi.
Di sana Alamsyah berhasil menghipnotis pikiran teman-temannya itu agar mereka semua mau mengikuti dirinya untuk menjahili sosok Dimas yang tengah tertidur begitu terlelapnya di dalam sana.
"Gangguin si Dimas kayaknya asik ya," ucap Alam singkat sambil tersenyum jahat ke arah Dimas.
"Boleh juga tuh Lam, lagian suruh siapa dia tidur sepulas itu, sementara kita aja di sini engga bisa tidur sama sekali," ucap Rizki dengan begitu cepatnya dia terhasut oleh omongan dari Alamsyah.
Azmi yang biasanya terlihat sangat bersemangat sekali bila dia mendengarkan hal ini, namun entah kenapa malam sekarang dia terlihat begitu murung dengan dihadirkan tatapan kosongnya.
Saking banyaknya nyamuk yang berterbangan di dalam ruangan kontrakan mereka, ditambah lagi dengan suhu di dalam ruangan yang begitu panas sekali, sampai Azmi pun tak dapat memejamkan matanya itu dengan waktu yang cukup lama, bahkan ketika Azmi akan menutup matanya itu, dia pun harus dibuat terbangun lagi oleh suara nyamuk yang hampir masuk ke dalam telinganya itu.
__ADS_1
"Gue kagak mau ikut-ikutan dah Bre, mendingan gue cari angin di luar sana aja, siapa tahu panasnya suhu yang ada di dalam ruangan ini engga akan terasa panas lagi jika gue pergi dari dalam ruangan ini," ucap Sultan mulai bangkit dari duduk terdiamnya.
Azmi pun mengikuti Sultan dikarenakan dia merasakan suhu panas yang sama dengan Sultan sekarang, apalagi nyamuk yang berada di dalam ruangan begitu sulit untuk dimusnahkan hanya dengan menggunakan tangan kosong saja.