
Singkat cerita, yang di mana kini Sultan telah tiba di dalam rumahnya. Ia pun lalu segera melaksanakan ibadah salat wajibnya di dalam mesjid.
Tak seperti biasanya, entah kenapa kali ini Sultan tak langsung pulang ke rumahnya lagi, melainkan ia lebih memilih untuk berdiam diri di dalam mesjid bersama dengan para anak-anak yang sedang belajar mengaji di dalam sana.
Ketika mana Sultan melihat anak-anak itu sepertinya ia megingat satu hal kenangan manis di dalam sana. Sultan pun dulu sama seperti mereka, sering menghabiskan waktu magribnya di dalam mesjid sampai waktu isya menyapanya.
Setelah pulang dari mesjid, ia pun lalu menghubungi Rere untuk membahas masalah pertemuan terakhirnya esok di pagi hari.
Mungkin esok adalah hari terakhir bagi Rere melihat raut wajah Sultan lagi di Kota kecilnya sebelum Sultan pergi kembali ke Tangerang.
"Assalamu'alaikum," ucap salam Sultan.
"Wa'alaikum Salam, gimana mata kamu Tan, udah sembuh belum? maafin gue ya," tanya Rere penuh perhatian.
"Aduhh ... mata gue masih perih Re," canda Sultan hanya ingin memastikan dan melihat seberapa perdulinya Rere terhadap Sultan.
"Jangan bercanda deh Tan! gue lagi engga mau diajak bercanda kalau soal urusan yang beginian."
"Galak amat lu Re! gue engga apa-apa kok, Re, elu engga usah sekhawatir itu sama gue."
Rere merasa lega telah mendengar kabar baik dari Sultan. Ini adalah pengalaman buruk baginya karena telah membuat Sultan dalam bahaya besar.
Sebenarnya Rere sempat berpikir bahwa dia akan melukai mata Sultan lebih dari apa yang tengah dia pikirkan sekarang, dan terlebih Sultan memang memiliki beberapa masalah dalam melihat hurup dari jarak jauh mau pun itu dari jarak dekat.
Tapi, anehnya kenapa ia masih dapat menatap raut wajah cantik Rere seperti apa? dan manis dari senyumannya sebagai mana.
Malam itu adalah malam yang sungguh melelahkan, mereka berdua hanya bisa menunggu waktu esok saja. Perbincangan pun tak berlangsung lama, sehingga mana mereka berdua mulai memejamkan matanya dan mulai masuk ke alam mimpi malamnya masing-masing.
__ADS_1
Lagi-lagi Sultan dibangunkan dari tidur lelapnya oleh mimpi buruk yang sering kali datang menghampirinya di mana pun ia berada.
Ia terbangun dengan baju yang agak sedikit basah, dikarenakan mungkin itu sebab dari keringat dingin yang bercucuran ke luar dari dalam tubuhnya.
Tak hanya itu, wajahnya pun agak sedikit pucat, disertai dengan hawa kegelisahan yang tak kunjung menghilang dari alam khayalannya.
Sepertinya mimpi itu benar-benar menghantui alam pikirannya sekarang, suara napasnya pun terdengar tak beraturan, detak jantungnya berdebar kencang, namun itu tak terlalu lama.
"Astaghfirullah! itu tadi Rere lagi dikejar sama hantu apaan ya? kok, bisa-bisanya gue lari duluan dan ninggalin dia di belakang sana sendirian," ucap Sultan yang tengah menghibur dirinya sendiri.
Huhhh ....
Sultan menghela napas panjang-panjang, ia masih tak mempercayai mimpinya akan benar-benar terjadi lagi yang kesekian kalinya.
Jam dinding di dalam kamarnya telah menunjukan pukul 02:00 pagi. Sultan tak dapat memejamkan matanya kembali seperti terakhir kalinya ia berbincang bersama dengan Rere.
....
Sultan tak dapat melawan mimpi buruknya, bahkan membentaknya pun ia tak bisa, mungkin insomnianya akan menemaninya melamun di luar sana sekarang.
Sultan mulai membaca semua isi buku tulisannya, ia pun lalu menuliskan hal terburuknya di dalam buku catatan tersebut, siapa tahu tujuannya untuk menulis novel itu dapat tercapai.
Semenjak Rere hadir, dan semenjak Rere menemani Sultan di Kota kecilnya ini semua hal yang tak pernah ia alami sebelumnya satu-persatu mulai muncul.
Satu jam telah berlalu, ia menghabiskan waktu itu tanpa ditemani oleh Rere, ia hanya duduk di kursi lawas kayu jati saja dengan ditemaninya inspirasi yang selalu dijadikan tempat pelampiasan para kaum pria, yaitu rokok.
Huhh ....
__ADS_1
Hembusan suara rokok dengan nikmatnya ia ke luarkan tanpa perintah. Buku catatan yang terbuka pun ia tutup kembali karena ia telah usai menceritakan mimpi buruknya itu di dalam buku tersebut.
Tanpa ia sadari, lamunannya itu sudah memakan waktu kurang lebih 2 jam, sampai-sampai lantunan suara azan telah dikumandangkan.
Ia segera mengambil air wudu dan langsung melaksanakan salat subuhnya di dalam masjid bersama dengan ayahnya dan juga para jamaah yang lain.
Sementara Rere dengan seketika terbangun dari alam tidurnya karena dia pun bermimpi hal yang sama dengan Sultan.
Suara nafasnya sama tak beraturan, keringatnya pun dengan seketika mengucur deras, raut wajahnya masih tak mempercayai hal yang telah terjadi kepadanya pagi ini.
"Astaghfirullah! kok, tiba-tiba perasaan gue jadi engga enak kayak begini ya, setelah gue memimpikan Sultan. Semoga aja ini bukan pertanda yang buruk untuk gue dan juga untuk Sultan," ucap Rere gemetaran.
Rere pun segera mengambil air wudu untuk melaksanakan ibadah salat subuh di dalam kamarnya sendiri.
Ibu Rere sempat melihat langkah kaki anaknya gemetaran, raut wajahnya pun ditundukan pada saat beliau menyapanya.
Dia tak mendengar panggilan suara dari ibunya, beliau pun semakin bingung, apakah Rere sedang bertengkar dengan Sultan, tapi beliau menyangkal hal itu, dikarenakan sepertinya Rere memiliki masalah lain, sampai-sampai panggilan darinya dia abaikan.
"Rere kenapa ya! apa dia lagi bertengkar sama Sultan! perasaan waktu Sultan mengantarkan Rere pulang sepertinya Rere bahagia-bahagia aja, tapi sekarang ... ah, mungkin Rere pusing sama tugas yang tengah dia jalankan sekarang ini aja kali ya," ucap ibu Rere tak mau banyak menanyakan hal yang dapat membuat hati anaknya gelisah.
Itu hanya kebetulan saja beliau melihat Rere ke luar dari dalam toilet. Dan lantas beliau pun lalu melihat Rere di balik pintu kamaranya hanya untuk memastikan keadaan anaknya setelah waktu berjalan lima menitan.
Beliau melihat Rere berdoa sekhusyuk itu, sepertinya dia memang memiliki masalah yang rumit untuk dijalani. Beliau sempat akan masuk ke dalam kamar anak wanitanya itu, namun Rere sudah terlanjur membereskan semua alat salatnya di dalam sana.
Tanpa Rere duga ia pun tertidur kembali tanpa mengabari Sultan, mungkin ia lupa ataupun mungkin dia masih trauma dengan mimpinya itu.
Ibu Rere sempat melihat anaknya kembali, dan ternyata dia sudah tertidur pulas. Beliau berpikir lebih baik dia membangunkan Rere dan mengingatkan pertemuan Rere bersama dengan Sultan nanti setelah kondisi anaknya membaik.
__ADS_1