
Sementara itu, di depan gang rumah Rere, dan tentunya waktu itu Rere menyuruh Sultan untuk masuk terlebih dahulu ke dalam rumahnya, dikarenakan ibunya sedang tidak ada di sana, dan Rere bilangnya beliau tengah berada di dalam rumah saudaranya, maka dari itu tak ada salahnya Sultan menemani Rere terlebih dahulu sampai bila ibunya datang kembali.
"Tan, jangan dulu pulang ya, temenin gue dulu di rumah sampai mamah gue pulang dari rumah bibi gue, dan kalau besok kamu ada waktu buat gue, bisa engga elu temenin gue ke mana aja, asalkan pergi ke luar," ucap Rere sembari menatap raut wajah Sultan di depan gang rumahnya tersebut itu di sana.
"Oke, siapa takut! besok kita jalan-jalan berdua ya, dan nanti jam delapan pagi gue bakalan datang ke sini untuk jemput lu," ucap Sultan sembari mencubit pipi kanan wanitanya itu dengan manis.
Rere pun lalu tersenyum lebar kepadanya, lantaran dia begitu peka terhadap keinginan kekasihnya itu, dan terlebih Sultan pun takan bisa berlama-lama lagi bersinggah di Kota kecilnya ini, dikarenakan ada suatu urusan yang memang harus dia kerjakan di Tanggerang.
Apalagi kalau bukan PKL, dan lantas besok adalah hari terakhir bagi Sultan bertemu dengan Rere, mungkin bila ada waktu libur, dia pun akan pulang kembali walaupun waktu itu diberikan hanya beberapa hari saja.
Rere pun masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu, dan sementara Sultan duduk dengan manisnya di kursi sofa sembari menatap foto dirinya dan juga Rere, namun waktu itu bunda angkatnya sempat menelepon dia, dan beliau hanya ingin berkata bahwa beliau telah tiba di Bandung.
Kringg, kringg, kringg ....
Suara teleponnya menyala, dan dengan seketika Sultan pun lalu menjawab panggilan itu, hingga mana Rere datang dengan dibawakannya segelas air berikut dengan makanan ringan yang sempat dia beli untuk Sultan bawa pergi ke Tanggerang Sabtu nanti.
"Assalamu'alaikum Tan, bunda udah sampai di Bandung ya, dan bunda mau bilang terima kasih karena kalian udah mau meluangkan waktunya buat bunda," ucap bunda dengan lembutnya.
"Wa'alaikum Salam bunda, syukur kalau bunda udah sampai di sana, sehat selalu ya, bunda, kapan-kapan Sultan main deh ke sana," ucap Sultan dengan lembut juga, sampai-sampai ucapannya itu terdengar oleh Rere, yang di mana Rere pun merasa ingin menemui bunda Sultan itu di Bandung sana.
__ADS_1
"Bunda tunggu ya, kalau begitu bunda mau istirahat dulu, nanti bunda telepon lagi ya, Tan, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum Salam bunda."
Panggilan suara pun di tutup, dan lalu Rere pun duduk di samping Sultan sembari menatap raut wajahnya, namun waktu itu dia sempat mengambil handphone milik Sultan, yang memang dia begitu ingin melihat foto-foto disaat dia sedang berkemah bersama dengan keluarga angkatnya itu di sana tadi.
Rere mengira bahwa di dalam galeri handphone Sultan itu akan banyak foto-foto disaat dia sedang bersama dengan Teh Mawar, namun tentunya foto itu hanya sebagian, dan bila Rere ingin melihat lebih banyak lagi, dia memang harus meminjam handphone kakak angkatnya itu di sana.
"Teh Mawar itu cantik banget ya, Tan? tapi kenapa elu engga pernah suka sama dia? padahal kalau kamu deketin dia terus, bisa jadi ... ," ucap Rere, namun waktu itu Sultan memotong ucapannya itu dengan seketika.
"Mulai dah elu mah Re! tapi kalau emang elu ngerestuin hubungan gue sama dia, gue siap kok," ucap Sultan yang membuat Rere menampar wajah Sultan hingga pipi Sultan memerah.
Yang saat ini ada dipikiran Sultan itu hanyalah kata aneh! tidak ada kata yang lain selain itu, padahal bukannya tadi dia yang menyuruhnya untuk mencoba mendekati kakaknya itu di sana, namun kenapa sekarang dia malah menampar pipi Sultan begitu saja.
Tamparan keras dipipinya itu membuat Sultan terdiam tanpa kata, dan waktu itu dia pun sempat mengelus-elus wajahnya yang memang wajahnya itu memerah bukan disebabkan karena dia malu bertemu dengan Rere, melainkan itu adalah bekas tamparan keras dari wanita gilanya itu di sana.
"Tega banget dah elu bolot sama pacar sendiri! lagian caranya engga gitu-gitu amat dah! kalau emang elu mau nampar gue boleh aja, asalkan elu kasih gue kode singkat dulu bisa kan?" ucap Sultan yang masih memegang kedua pipinya itu, lantaran ia takut Rere akan menampar pipinya itu kembali.
Dengan seketika suara pintu rumah terdengar dari dalam ruang tamu, yang di mana ibu Rere membuka pintu depan rumah dan langsung menghampiri Sultan di dalam sana, dan terlebih sebelumnya beliau memang sempat melihat sepasang sepatu Sultan, namun ketika ibunya itu masuk, beliau sempat dibuat heran, dikarenakan Sultan di sana tengah memegang kedua pipinya itu, dan Rere tengah menatap tajam Sultan, yang seolah-olah mereka berdua sedang bertengkar.
__ADS_1
"Ehh, ada Sultan, tapi kenapa pipi Sultan merah? apa jangan-jangan kamu abis berantem lagi sama orang ya, di luar sana?" ucap beliau sembari duduk di kursi sofanya bersama dengan mereka berdua.
"Ini karena ulah Rere Mah! tadi dia ... ," ucap Sultan, namun dengan seketika Rere menutup mulutnya, dikarenakan beliau pernah bilang kepada anaknya itu untuk menyayangi Sultan seutuhnya.
"Jangan bilang sama mamah! nanti gue dimarahin sama mamah gue bolot! yaudah gue minta maaf kalau gue salah," ucapnya sembari membisiki telinga Sultan.
Ibunya hanya tersenyum, dan beliau pun lalu pergi meninggalkan mereka berdua di sana, namun waktu itu Sultan memang akan pergi dari rumah beliau, dikarenakan Rere hanya menyuruhnya untuk menemaninya sesaat, dan sesudah ibunya pulang dari rumah saudaranya.
Salam pamit pun diucapkan oleh Sultan untuk ibunya itu di sana, hingga pada akhirnya dia pun melajukan motornya dan lalu pergi dari rumahnya, tetapi waktu itu Sultan sempat bilang kepada Rere, bilamana dia tidak mengangkat teleponnya itu nanti, berarti dia sudah masuk ke alam mimpi.
Rere pun waktu itu hanya tertawa, dan sebenarnya itu adalah jawaban Rere juga, yang di mana Rere membolehkannya karena sikap pengertiannya itu takan pernah hilang untuk memperhatikan Sultan, walaupun bisa dibilang dia itu wanita kasar, namun akan tetapi Sultan tetap menyayanginya sepenuhnya.
Waktu itu, ketika Sultan tengah mengendarai motornya itu di jalanan yang lumayan sepi, dan dengan seketika dia pun sempat melihat uang sebesar 20 ribu rupiah, namun dia tidak berani mengambilnya dan terlebih jalanan itu letaknya tak cukup jauh dari pemakaman umum agama konghucu.
"Ehh, itu uang bukan ya? kagak dah, palingan ini kerjaan bocah-bocah nakal, dan pastinya uang itu udah dikasih tali pengikat seperti hal nya tali benang," ucap Sultan waktu itu yang sudah melihat kepala anak-anak nakal yang kerjaannya itu hanya bisa menyusahkan orang lain.
Sepertinya mereka mau bermain-main dengan Sultan, dan tentunya dia takan membiarkan itu terjadi kepada orang lain, dan lalu dia pun mengambil satu batu berukuran sedang, yang di mana batu itu ia lemparkan tepat mengenai semak-semak belukar, hingga pada akhirnya anak-anak nakal itu berlari ketakutan.
Dan lucunya anak-anak itu melupakan uangnya, hingga pada akhirnya Sultan pun mengambilnya dan dia pun lalu memasukannya ke dalam kotak amal, itung-itung uang itu bisa menjadi pahala bagi semua bocah-bocah nakal tersebut itu di sana.
__ADS_1