Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 119 : Menikmati indahnya lautan biru


__ADS_3

Setelah Sultan bermain bersama dengan adiknya di depan teras rumah, kemudian ia pun masuk ke dalam rumah bersama dengan Rere, Sultan pun lalu berbicara kepadanya bahwa dia akan mengajaknya pergi ke Pelabuhan Ratu, dikarenakan Rere sangat ingin mengunjungi tempat itu dari awal.


Namun, sebelum itu Sultan sempat menyuruh Rere untuk membawa pakaian ganti terlebih dahulu, dan mungkin mereka pun akan pergi sarapan sebelum berangkat pergi ke tempat itu.


"Kamu udah makan belum Re? kalau emang kamu belum makan gue saranin elu makan dulu sana, soalnya gue mau bawa lu pergi ke Pelabuhan Ratu."


"Kamu serius Tan? emangnya kalau berangkat jam delapan engga terlalu siang?".


"Pelabuhan Ratu masih di Sukabumi Re, palingan hanya membutuhkan waktu satu jam lebihan saja kita udah sampai di sana."


"Kalau emang itu mau kamu, kita makannya setelah sampai di sana aja Tan, dan lagian gue belum mau makan, lebih baik kita berangkat sekarang aja."


"Kagak salah lu bilang gitu Re? bukannya dulu elu pengen banget ya, pergi ke tempat itu? jangan suka nuduh gue yang engga-engga dah! yaudah sana siap-siap dulu, jangan lupa bawa baju ganti."


Jam setengah 8 tepat mereka pun pergi dari rumah tersebut itu, dan sebelumnya Sultan pun sempat meminta izin kepada ibunya, agar supaya perjalanan mereka bisa dilancarkan oleh Tuhan.


Sultan pun menyuruh Rere untuk berdoa bersamanya terlebih dahulu di atas motor yang sudah mereka naiki itu, dan setelah mereka melantunkan doanya, kemudian motor tua kembali dinyalakan dan di jalankan perlahan.


Tubuh Sultan merupakan sebuah tempat yang memang Rere sering memeluknya, entah kenapa bila dia memeluk tubuh prianya itu dia sering merasakan arti sebuah kenyamanan yang sesungguhnya.


Senyumannya merupakan sebuah keindahan, dan tentunya senyuman itu akan menjadi pelengkap bagi Sultan untuk menyandingkan keindahan alam tersebut bersama dengan keindahan senyuman manisnya itu di sana nantinya.


Jalanan yang sepi mulai sedikit agak ramai, kebanyakan orang lebih memilih menaiki mobil pikap, namun tentunya itu hanya sebagian, dan justru pengendara motor jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan orang-orang yang lebih memilih untuk menaiki mobil pikap.

__ADS_1


Satu jam telah berlalu, dan mungkin bisa jadi perjalanannya yang sekarang ini akan jauh terasa lebih cepat lagi bila ia bandingkan dengan perjalanan yang dulu pernah ia lewati sebelumnya bersama dengan kawan lamanya yang lain.


Gemuruh suara ombak sudah mulai terdengar, dan birunya air laut sudah mulai memanjakan mata mereka berdua, yang di mana Citepus lah tempat yang akan mereka berdua singgahi, dan terlebih di tempat itulah Sultan dan Rere bisa menemukan bangunan mesjid yang berdekatan langsung dengan pantai.


"Di sini enak kayaknya Re, dan di tempat ini kita bisa melaksanakan salat zuhur lebih awal, dikarenkan di tempat ini kita bisa langsung melihat bangunan mesjid yang jaraknya emang engga jauh dari pantai," ucap Sultan sembari menatap manisnya raut wajah Rere.


"Iya Tan, di sini aja, lagian tempatnya engga terlalu sepi, dan panoramanya engga kalah jauh indahnya bila dibandingkan dengan Karang Hau," ucap Rere yang langsung berjalan pergi menuju pantai.


"Oyy, makan dulu! jalan-jalannya nanti aja sehabis makan, soalnya masih banyak waktu ini," ucap Sultan yang langsung menarik lengan Rere.


....


Dengan menyebalkannya, Sultan pun menarik tangan Rere hingga dia tidak jadi menginjakan kakinya itu dipasir pantai, Rere pun sempat memukul tangan Sultan karena dia merasa terkejut ketika prianya itu menarik tangannya.


"Bukan gitu maksudnya Re, gue cuma ingin ngajak elu makan dulu, dan setelah itu lu mau berenang di tengah laut sama ikan hiu pun boleh, asalkan elu makan terlebih dahulu," ucap Sultan yang langsung duduk di sebuah warung gubuk di tempat itu juga.


Menyantap makanan sederhana di warung gubuk sederhana, apalagi minumnya ditemani dengan air kepala yang langsung diminum dari buahnya, dan itu memang suatu hal yang Sultan inginkan dari dulu bersama dengan Rere.


Dan setelah itu Sultan pun menggenggam tangan wanita cantiknya itu, dan langsung membawanya pergi dari warung gubuk sederhana itu, untuk mengajaknya pergi bersama-sama menikmati indahnya lautan Pelabuhan Ratu.


"Coba kamu diam di sana Re, mau sambil duduk ataupun elu mau sambil berdiri juga engga apa-apa, gue mau foto lu, cepetan!" ucap Sultan yang langsung mendorong punggung Rere dengan pelannya.


"Ihh, apaan sih dorong-dorong! malu ah, kalau lu yang nemenin gue di sana, baru gue engga malu Tan, ayo sini temenin gue."

__ADS_1


Satu foto telah dia ambil, dan wajahnya memang sangat menyatu dengan indahnya air laut itu, dan terlebih cuaca hari ini begitu cerah, tak ada tanda-tanda akan turun hujan diwaktu itu.


"Lihat nih pacar gue, cantik kan? makanya Re, cepetan berdiri lagi di sana, biar nanti gue kirim ke mamah gue, dia pasti bakalan seneng kalau melihat elu bahagia seperti ini di sini," ucapnya yang langsung menunjukan foto hasil jepretannya itu sendiri kepada Rere, wanita cantiknya itu.


"Gue emang cantik dari lahir Tan, tapi gue engga mau foto-foto sendiri kalau bukan elu yang nemenin gue di sini, kita kan datang ke sini barengan, dan jadi berfoto pun harus barengan juga."


Sultan pun menggendong tubuh Rere dan membawanya ke pinggir laut, hingga mana Rere berpikir bahwa pria rese itu akan menjatuhkannya hingga seluruh pakaiannya terbasahi.


Namun Sultan takan pernah bisa membuat wanitanya itu masuk ke dalam bahaya, dan jadi dia hanya menggendongnya saja tanpa menurunkannya dengan begitu cepatnya.


Air ombak dengan seketika membasahi celana jeans hitam yang tengah digunakan oleh Sultan, dan Rere pun hanya melingkarkan tangannya itu digendongan Sultan dengan eratnya tanpa melepaskannya.


"kalau setiap hari kayak begini, rasanya asik juga iyakan Re, mungkin kapan-kapan kita bakalan main ke tempat ini lagi, tapi dengan banyak orang, kalau berdua rasanya beda juga, gue takutnya kalau ada apa-apa di jalan, jadi kita juga bisa minta tolong sama mereka nantinya," ucap Sultan yang masih menggendong tubuh Rere dengan manisnya tanpa mau melepaskannya begitu saja.


"Terserah kamu Tan, gue hanya bisa mengikuti kemauan elu aja, asalkan kamu juga ikut nantinya," ucap Rere yang masih berada digendongan Sultan sembari menyandarkan kepalanya itu bersebelahan dengan wajah Sultan.


"Lama-lama berat juga ya, elu turun kenapa sih Re! perasaan betah amat kalau gue gendong."


"Elu Tan! bukan gue, dasar bolot!".


Sultan dan Rere pun kembali ke pinggir pantai, mereka pun duduk berdua dengan damainya sambil menikmati indahnya lautan biru ciptaan Tuhan.


Angin berhembus kencang, gemuruh suara air ombak yang jatuh itu membuat mata tak ingin berkedip lebih lama lagi, sampai-sampai rangkulan itu bergerak dengan sendirinya tanpa perintah, dan bahkan Rere pun kembali menyandarkan kepalanya itu dibahu Sultan sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2