
Rere terdiam cukup lama, tapi setelah itu adiknya tiba-tiba datang menghampirinya kembali sambil membawa buku tugasnya yang masih belum dia kerjakan.
"Teteh udah ngantuk belum? tugas adek belum beres, kata ibu guru tugas ini udah harus dikumpulin besok, bantuin adek sebentar ya, Teh," pinta adiknya itu sambil menaruh buku tugasnya di atas meja ruang tamu.
"Kenapa baru bilang sekarang sih Dek, kalau tugas adek sebanyak ini, emangnya kemarin adek ke mana aja sih! lagian bukannya besok itu hari Minggu ya," ucap Rere terlihat bingung, apa adiknya itu lupa bahwa besok adalah hari Minggu.
"Adek kesian sama teteh, soalnya dua hari kemarin teteh baru aja pulang menjenguk A'a Sultan, sebenarnya barusan adek juga mau minta tolong sama teteh di sini, tapi adek engga enak sama A'a Sultan."
Rere menghela napas panjang, dia merasa kasihan kepada adiknya itu di sana, dikarenakan selama ini dia memang terlalu sering menghabiskan waktunya bersama dengan Sultan.
Rere menyuruh adiknya untuk memahami isi soalnya itu terlebih dahulu sebelum dia benar-benar menjawab pertanyaan dari soal tersebut itu apa.
Ucapan adiknya membuat Rere sadar, ternyata dia juga perduli terhadap kakanya sendiri, dan sedangkan Sultan telah menyadarkan dia arti dari kata sabar yang sesungguhnya itu adalah apa.
Sultan pun ikut membantu Rere dengan cara menemaninya sampai semua tugas adiknya itu terselesaikan. Andai saja besok Sultan masih punya waktu banyak, mungkin dialah yang akan mengantarkan adik Rere menemui gurunya.
"Gue bilang juga apa! adikmu aja bisa sesabar itu loh Be, dan dia rela menunggu kakaknya memberikan sedikit waktunya untuk dia, tapi masa kamu sebagai kakak yang paling dituakan di sana sama sekali engga bisa memahami perasaan dia sedikit pun," ledek Sultan, namun sebenarnya dia hanya sedang membuka pintu hati Rere saja agar dia selalu menganggap adiknya itu ada di dekatnya juga.
"Berisik! mendingan sekarang kamu diam aja! jangan sampai aku merubah niat baik gue ini dan meninggalkan dia hanya gara-gara kamu selalu membuat gue pusing," ujar Rere membuat adiknya berpikir bahwa kakaknya tengah berbicara dengannya.
__ADS_1
"Dari tadi adek diem kok, Teh, teteh sakit ya?" tanya adiknya begitu polos, sampai-sampai dia membuat Sultan tertawa lepas.
Sultan berpikir bahwa ternyata adiknya memiliki sifat yang sama dengannya, yakni sama-sama handal dalam membuat sosok seperti Rere merasakan kekesalan yang sering datang tiada ada habisnya melanda hatinya.
"Kamu juga sama lagi! udah deh diam! cepat selesain tugasmu itu, kalau mamah tahu kamu bergadang, pasti teteh juga yang akan dimarahin sama mamah," ujar Rere sudah tak tahan mendengar semua ocehan dari mereka berdua di sana.
"Teteh lebih galak dari mamah! kenapa sih teteh segalak ini sama adek? padahal adek sayang sama teteh, adek engga jahat sama teteh, malahan A'a Sultan sering bilang kalau adek udah besar nanti, adek harus bisa jagain teteh sebagaimana A'a Sultan menjaga teteh," ucap adiknya dengan seketika membuat senyuman diraut wajahnya itu terlintas dipikiran Sultan.
Ternyata memang benar, dia adalah adik Sultan segaligus pewaris sikap Sultan yang selanjutnya. Sultan pun sama seperti adiknya itu, dia sering membuat Rere kesal, namun ujung-ujungnya Sultan juga yang membuat wanitanya itu tersenyum kembali.
....
"Sebenarnya si Sultan bolot itu udah ngajarin apa aja sama kamu sih Dek? teteh bingung, kenapa kamu bisa semenyebalkan ini sama teteh," tanya Rere penasaran, dan baru kali ini dia mencubit pipi adiknya sebegitu lembutnya.
"Pacar teteh baik kok, engga bolot! lagian teteh kenapa bisa manggil A'a Sultan bolot, padahal A'a Sultan lebih pinter dari teteh," ucap adiknya tanpa henti membuat seorang Sultan tertawa lepas.
"Ihh ... kamu kok, rese sih! awas aja ya! teteh engga mau lagi bantuin adek ngerjain semua tugas adek."
Ancaman Rere tak membuat adiknya takut, selama masih ada Sultan, dia merasa aman, dan terlebih Sultan sangat suka mengajarkan adiknya belajar, walaupun pada dasarnya Sultan adalah pria nakal yang kerjaannya sering bolos sekolah, tapi ternyata setelah Sultan masuk dikehidupan Rere, semuanya berubah.
__ADS_1
Adiknya dulu adalah anak yang pendiam, dan setelah Sultan dekat dengannya, sekarang dia menjadi anak yang lebih rajin, pola pikirnya mulai berubah, bahkan Sultan juga pernah mengajarkan dia bagaimana caranya mencintai seorang wanita dengan baik dan benar, tapi wanita yang dia maksud-maksud itu tidak lain adalah ibunya.
"Waktu itu A'a Sultan pernah bilang sama adek, katanya adek harus mencintai ibu lebih dulu, dan katanya adek jangan sampai mencintai teteh karena yang mencintai teteh adalah A'a Sultan."
Adik Rere sekarang menjadi lebih bawel, tapi itu ada baiknya juga, lantaran Rere nampak senang mendengarkan ucapan polos dari adiknya, dan itu menandakan kalau Sultan bersungguh-sungguh mencintainya.
"Udah deh, jangan bawel ah! cepet selesain tugasnya, pokoknya adek dengerin omongan teteh ini ya, kalau sampai adek menyebut-nyebut nama Sultan lagi, teteh marah."
Lagi-lagi Rere mengancam adiknya, tapi dia tetap kukuh ingin memastikan kenapa kakaknya itu selalu minder bilamana dia membahas tentang Sultan.
"Teteh lagi marahan sama A'a Sultan bukan? awas loh, nanti menyesal!."
"Adek ini ya! bisa diam engga, teteh marah nih! rasain-rasain nih, biar ngompol sekalian!" ucap Rere sembari menggelitiki tubuh adiknya itu tanpa henti.
Adiknya tertawa lepas, bahkan Rere pun ikut tertawa lepas juga di sana, baru kali ini dia sedekat itu dengan adiknya, padahal dulu dia jarang sekali meluangkan waktunya untuk dia, adiknya sendiri.
Beberapa jam telah Sultan habiskan hanya untuk menemani orang-orang yang dia anggap spesial dihidupnya. Sementara anggota keluarga yang lain sudah pada tertidur pulas, namun tidak dengan mereka bertiga.
Setelah tugas adiknya selesai, Rere pun lalu menyuruhnya untuk tertidur, tapi pada saat itu ternyata adiknya sudah tertidur di kursi sofa.
__ADS_1
Rere tak tega membangunkan adiknya itu di sana, apalagi sampai dia meninggalkannya tertidur di sana seorang diri. Tak ada pilihan lain untuk Rere, dia pun menemaninya di sana entah sampai pagi, entah sampai dia terbangun dari tidur terlelapnya.