
Satu minggu kemudian ....
Waktu itu tepatnya pada hari sabtu pagi, di mana semua rekan dari berbagai sekolah sekarang tengah berdiam diri di depan teras kontrakan Sultan untuk membahas persoalan yang belum tuntas sembari menikmati beberapa batang rokok beserta dengan kopi hangatnya.
Kali ini Sultan berencana ingin mengambil alih pertempuran bersama dengan semua rekan sekolahnya, sementara untuk rekan-rekan dari sekolah Aisyah akan menjadi team bayangan yang nantinya akan Sultan butuhkan disaat situasi sedang genting.
"Saya tidak akan melibatkan rekan-rekan Aisyah, namun bila situasinya sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh kita, maka semua rekan Aisyah bisa ikut serta untuk membantu semua rekan saya."
"Seperti yang sudah saya bahas, semua rekan Aisyah akan bersembunyi di tempat yang sebelumnya sudah saya tentukan, dan tempat tersebut merupakan tempat sepi yang terdapat banyak sekali semak belukar."
"Saya rasa tempat tersebut sudah cukup aman bagi kalian, dan semoga saja para musuh takan mengetahui keberadaan kalian semua walapun pada dasarnya para musuh akan mengetahui beberapa kejanggalan mengapa kalian tidak ada di sana."
Sultan menjelaskan semua tugas yang rekan-rekan Aisyah ambil sedetail mungkin, Sultan rasa para rekannya dapat mengerti bahwa dia berucap kata seperti itu dikarenakan Sultan tidak ingin melihat satu pun diantara rekan Aisyah terluka, dan terlebih Aisyah beserta dengan seluruh rekannya takan lama lagi akan segera pergi dari Kota Tangeran.
Seperti yang sudah Sultan duga, ternyata rekan Aisyah tidak setuju dengan usul dari Sultan. Mereka bilang Sultan terlalu egosi, namun di sana Sultan sedang berusaha mengalihkan perhatian mereka agar mereka semua mengerti dengan apa yang tengah dia pikirkan saat ini.
"Izin menyela sebentar, sebenarnya saya tidak setuju dengan usul dari Sultan itu! mengapa kalian selalu saja menganggap kita tidak berguna, padahal kita semua ingin ikut serta dalam perkelahian itu," ucap Aisyah yang terlihat begitu kesal sekali dikarenakan Sultan menaruh semua rekannya dalam team bayangan.
Sultan tersenyum tipis, kali ini dia tidak ingin berdebat dengan temannya itu. Lantas Sultan pun menjelaskan alasan mengapa dia memberikan tugas tersebut kepada rekan Aisyah.
"Saya tidak ingin membuat perselisihan dalam pertemuan ini, jadi begini ya, Syah, mengingat takan lama lagi kalian semua akan segera pergi dari Kota Tangerang, bukankah alangkah baiknya kalian semua menyimpan tenaga kalian."
__ADS_1
"Saya tidak ingin melihat kalian semua pulang dengan wajah yang dipenuhi oleh luka memar, kalian bisa melihatnya sendirikan, mereka bukan orang biasa bahkan pada saat rencana penyamaran pun mereka masih berani mengepung kita berdua."
"Mereka takan segan-segan memukul wajah kalian, hal tersebut tentunya akan dipertanyakan oleh kedua orang tua kalian di sana nanti, memangnya kalian ingin membohongi mereka semua? pastinya kalian tidak maukan."
"Berbeda hal nya dengan kita, sementara bila kita nanti memperlihatkan luka ini kepada orang tua kita, maka respon yang akan mereka berikan pasti akan terlihat biasa-biasa saja dikarenakan hal yang kita lakukan sudah sering terjadi."
"Tolong percaya sama kita, lagipula kita tidak akan apa-apa, semua masalah ini pasti akan terselesaikan malam ini juga."
Sultan berbicara blak-blakan di hadapan mereka semua, dan akhirnya Aisyah beserta dengan semua rekannya mau memahami alasan yang telah Sultan jelaskan itu.
Sisanya tinggal mengatur waktu saja, sementara kali ini Azmi dan Dimas tidak ikut hadir di sana dikarenakan mereka berdua sedang berada di lokasi yang nantinya akan mereka jadikan sebagai tempat perkelahian terakhirnya.
....
Dimas dan Azmi tak memberikan kabar apa pun selain memberikan informasi bahwa tempat tersebut terlihat sepi seperti biasanya.
"Huuhh, gue dan Dimas engga mendapatkan informasi sedikit pun tentang keberadaan mereka Tan. Tempat yang akan kita jadikan sebagai tempat pertemuan nanti terlihat sepi seperti biasanya," ucap Azmi dengan wajah tanpa dosanya, di mana dia pun dengan sengaja menyeruput air kopi milik Rizki.
"Woii, enak beut ya, lu Mi, main minum sisa-sisa kenikmatan yang berada di dalam gelas itu tanpa izin dulu sama gue. Pergi ambil sendirilah bego!" ucap Rizki yang terlihat begitu sewot sekali ketika dia melihat Azmi meminum sisa-sisa air kopi terakhir miliknya itu.
Pletukk ....
__ADS_1
Rizki menoyor kepala Azmi dengan begitu lepasnya seraya mengambil kembali kopi miliknya yang tersisa tinggal beberapa legukan lagi.
Sementara itu di sisi lain Dimas bertanya kepada Sultan, dan dia pun menanyakan apakah kondisinya sudah mulai membaik soalnya di malam penyamaran waktu itu kondisi Sultan terlihat begitu lemas sekali. Sebagai salah satu teman yang baik Dimas tidak mau melihat problem yang lalu menimpa Sultan kembali.
"Ohh, iya Tan, kondisi lu sekarang bagaimana, apakah elu udah pulih sepenuhnya?" tanya Dimas sambil membakar satu batang rokok yang tergeletak tepat di hadapannya.
"Ya, bisa dibilang kondisi fisik gue udah pulih Dim, namun itu belum pulih sepenuhnya, dan gue rasa ada beberapa hal yang dapat membuat semuanya kembali pulih, diantaranya yakni bertemu serta pulang terlebih dahulu untuk mengucapkan salam rindu kepada sosok yang menyimpan semua senyuman itu berada," ucap Sultan dengan wajah datarnya.
Dengan seketika keramaian itu pun mulai menghilang pada saat seluruh rekannya tak sengaja mendengar ucapan yang keluar dari mulut Sultan.
Mereka merasakan hal yang sama, namun tetap saja mereka semua harus bersikap sebagaimana menjadi seorang lelaki sejati. Di masalah kali ini mereka tidak bisa menjadikan rindu sebagai tempat pelampiasan terbaiknya dikarenakan masalah ini mungkin dapat menjadi suatu kabar buruk bagi pendengarnya.
Keadaan sudah tak dapat dikendalikan lagi, namun di sana Dimas sempat-sempatnya mengalihkan pembicaraan sehingga Dimas dapat mengendalikan semua keraguan mereka.
"Ohh, iya Tan, gue hampir lupa! ngomong-ngomong lampu jalan yang ada di tempat itu kayaknya rusak dah, soalnya waktu gue perhatiin penerangan dari lampu jalanan itu udah mulai meredup dan mulai berkedip-kedip sendiri," ucap Dimas sambil menghisap rokoknya yang hampir habis itu.
"Yaelahh ... , gue kira apa, tapi tahu-tahunya cuma masalah lampu aja. Hadeuh ... , engga ada kerjaan lu Dim, lagian buat apa elu merhatiin lampu jalanan sampai segitunya," ucap Alam dengan tawa lepasnya.
"Sepertinya gue bakalan kewalahan dah Dut! tapi, engga apa-apalah," ucap Sultan membuat semua temannya terheran-heran.
"Lu takut gelap Tan?" tanya Wildan begitu lepas meledek Sultan.
__ADS_1
"Dasar Wildan bego! emangnya elu engga sadar apa, seharusnya elu dapat mengetahui seberapa buruk penglihatan Sultan bila dia berkeliaran di tengah malam yang kelam."
Ucapan Dimas membuat semua temannya sadar bahwa Sultan tidak takut dengan malam, melainkan dia takut bila pandangannya yang buruk itu dapat menghambat pergerakannya.