
Teh Mawar terbangun disaat dia mendengar suara teriakan Robby, dan juga suara canda tawa dari Danar, serta Agung di luar tenda. Dia pun lalu berbicara kepada Sultan, bahwa di luar sana ada suara ribut-ribut apa? dan lantas mereka berdua pun lalu pergi ke luar dari dalam tenda.
"Di luar sana ada ribut-ribut apa sih Tan? kayaknya seru! kita pergi ke luar juga yu," ucapnya yang langsung terbangun dari tidurnya.
"Haii, selamat pagi kakak manja gue yang cantik, maaf ya, gara-gara ulah mereka, elu jadi kebangun kayak begini deh jadinya," ucap Sultan yang langsung menatap raut wajah kakaknya dengan dihadirkannya senyuman tulusnya itu di dalam sana.
"Gue minta maaf Tan, dan gue tahu kalau elu pastinya engga tidur kan malam itu? dan ini semua pastinya gara-gara semalam gue tertidur di atas pahamu ya?".
"Santai aja lah Teh, lagian gue lebih suka mengelus-elus rambutmu yang lembut ini, bila dibandingkan dengan gue mengikuti elu tertidur di dalam tenda ini."
Mereka berdua pun lalu pergi ke luar dari dalam tenda sembari tersenyum dan tertawa bersama-sama, hingga mana Sultan menuntun kakaknya itu berjalan dengan cara merangkul bahunya dengan manis.
Setelah itu, bundanya dan juga Stevia menghampiri anak wanita pertamanya itu dan juga anak angkatnya di sana, dan lantas bundanya berbicara kepada Sultan, apakah dia tidak tertidur malam itu, dan tentunya Sultan menjawab bahwa ia memang tidak tertidur sama sekali malam itu.
Wajah serta tubuhnya masih terlihat segar bugar, seperti layaknya seseorang yang baru saja bangun dari tidur malamnya, namun dia memang tidak bisa tertidur waktu itu, dan entah kenapa hingga sekarang pun rasa ngantuknya itu masih saja belum ia rasakan.
Sebelum itu, Sultan pun lalu pergi ke dalam tendanya untuk mengambil jaketnya terlebih dahulu, dan bisa dibilang dinginnya angin di pagi hari itu masih tetap terasa sama, dengan dingin malam yang sebelumnya pernah dia lewati di sana.
Bunda Nur, pun lalu memeluk kedua tubuh anak wanitanya itu dengan lembutnya sembari duduk kembali di dekat api unggun, yang di mana semalam api unggun itu memang masih menyala, dikarenakan Sultan lah yang membuat api unggun itu menjadi semakin lebih besar lagi, bilamana dibandingkan dengan api unggun yang dibuat oleh Agung semalam.
Sultan pun lalu kembali kekediaman mereka di sana sembari menggunakan jaket gunung berwarna merah, namun sebelum itu Danar dan juga Agung dengan seketika bersembunyi di belakang tubuh Sultan, dikarenakan mereka takut bahwa Robby akan membuat wajah mereka berdua menjadi hitam sama seperti dia.
__ADS_1
Sultan pun lalu memegang tangan dari kedua sahabatnya itu di sana, dan dia pun membiarkan Robby untuk melukis diwajah mereka berdua juga, dan alhasil wajah ketiga sahabatnya itu pun semuanya sama-sama menghitam karena arang.
"Semalam Sultan tidur engga Kak? bunda lihat dari wajahnya sih, kayaknya dia engga tidur, tapi wajahnya sama sekali engga jauh berbeda, dengan dia tidak tertidur, sama dengan dia tertidur," ucap bunda.
"Semalam kakak tidur di atas paha Sultan Bun, dan tadi dia bilangnya sih engga tidur malam itu," ucap Mawar.
"Sultan mah emang begitu orangnya dari dulu, dia mah memang engga pernah berubah, dan bahkan demi menjaga kita, dia lebih memilih diri sendiri yang jatuh sakit, daripada dia melihat kita yang sakit," ucap Stevia yang tengah menyandarkan kepalanya itu di atas bahu bundanya.
....
Ketiga wanita itu duduk terdiam di depan api unggun, yang di mana Sultan pun lalu menghampiri mereka bersama dengan ketiga kawannya itu, dan Sultan pun tak langsung duduk di dekat wanita manja itu, dikarenakan sebelum itu Sultan sempat memeluk tubuh bundanya dari arah belakang dengan manis.
Danar pun mulai memainkan alunan nada gitar, dan sehingga semua anggota keluarganya itu pun dibuat bernyanyi olehnya dengan seksama, yang di mana sebenarnya mereka tengah menunggu waktu salat subuh tiba, maka dari itu mereka semua bernyanyi bersama-sama untuk menunggu hal itu telah hadir nantinya.
Tak lama setelah itu, suara azan pun telah dikumandangkan oleh seorang imam yang memang malam itu beliau sempat mengimami salat magrib dan juga salat isya untuk mereka.
Salat subuh telah berlalu, mereka pun semua kembali berdiam diri di hadapan api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka masing-masing, dan lalu bunda pun seperti biasa membuatkan semua anaknya segelas air bandrek kembali, namun Robby, Danar, dan juga Agung meminum segelas air kopi hitam bersama dengan menghisap rokoknya itu masing-masing di sana.
"Ini Tan, buat ganti rugi waktu semalam, ini bandrek buatan tangan bunda sendiri, siapa tahu kamu bakalan suka sama bandrek buatan dia ini," ucap kakaknya sembari memberikan bandrek buatan bundanya itu.
"Woww, makasih ya, pasti enak nih, lagian apa pun yang bunda buatin untuk gue, pastinya bakalan enak, dan terus ucapan elu itu tadi apa? gue kagak ngerti sedikit pun Teh, sumpah," ucap Sultan yang lansung mencubit pipi kakaknya, serta menatap tajam raut wajahnya.
__ADS_1
"Semalam elu engga tidur demi gue kan? dan gue harap elu engga akan pernah benci gara-gara tingkah prilaku gue di sini kepada elu."
"Gue lebih memilih memiliki, dan mencintai, daripada gue harus memilih untuk membenci, ataupun melukai seseorang seperti lu."
Ucapannya itu kembali menghantui pikiran kakaknya, dan dia pun tanpa henti menatap raut wajah Sultan sembari sesekali tersenyum ke arahnya, namun adik angkatnya itu sama sekali tak menatap wajah kakaknya yang tengah tersenyum kepadanya kembali, dikarenakan dia tengah memikirkan ucapanya itu apakah akan membuat kakaknya menjadi mencintai dirinya di sana.
"Elu engga ngerokok Tan? biasanya elu juga suka kan sama itu? tapi sekarang gue kok, engga pernah melihat elu ngerokok lagi, kenapa?".
"Gue masih sering merokok kok, Teh, tapi kalau sekarang, mana mungkin gue bisa memberikan penyakit kepada elu di sini, lu bisa bayangin seberapa bahayanya merokok di samping orang yang memang dia engga pernah merokok sama sekali."
"Kalau tahu bahaya! kenapa elu masih merokok bolot! udahlah Tan, sekarang mah elu berhenti aja, dan lagian itu cuma membakar uang lu aja."
"Rere udah pernah bilang seperti itu sama gue, dan dia pernah memaksa gue untuk berhenti merokok demi kesehatan gue juga, namun nyatanya itu sulit Teh, mungkin suatu saat nanti gue bakalan bisa dan engga akan pernah mau mengenal apa yang namanya merokok."
"Gue harap itu engga akan lama, dan gue ingin melihat elu emang bakalan bisa berhenti demi dia dan elu juga ya, Tan."
"Mungkin tiga puluh tahun kedepan Teh, dan di situlah gue bakalan berhenti merokok."
"Lama itu mah bolot! rese ya, lu!".
Kakaknya tertawa lepas bersama dengan Sultan, dan wanita manja itu sempat mencubit keras tubuh Sultan, dikarenakan sikap dia memang begitu menyebalkan, dan sikap itu dia berikan ketika perpisahan itu akan datang dan akan menghampirinya tak lama lagi.
__ADS_1