Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 308 : Kebaikan mereka


__ADS_3

"Oke, jadi begini Bre, lebih baik nanti elu semua pada ke sini aja dah, sama sekalian tuh elu semua pasti lagi merindukan suasana nikmatnya masak serta makan bersama dengan para rekan-rekan sekalian, apalagi semua hidangannya disuguhkan secara gratis, elu semua pasti sangat menyukai hal ituka?".


"Dan Berhubung Jumat sekarang adalah tanggal merah, jadi elu semua bisa tuh tinggal untuk sementara waktu di tempat ternyaman yang sekarang tengah gue singgahi bersama dengan rekan-rekan gue di sini."


"Pokoknya soal masalah transit jemputan, kalian semua engga usah khawatir dah, nanti gue beserta rekan-rekan gue bakalan jemput kalian semua di stasiun Tengerang Serpong, tenang aja," ucap Sultan sembari mematikan bara api rokoknya.


Berhubung pagi itu rekan-rekan Sultan masih harus menjemput semua teman Aisyah, jadi dia lebih memilih untuk berbicara to the point kepada semua temannya bahwa dia ingin mengajak mereka makan bersama di sana.


Mereka semua setuju, dan Jumat pagi mereka pun akan pergi beriringan mengunjugi tempat persinggahan Sultan yang hanya sementara itu di Tangerang.


Sebenarnya Sultan sudah tahu bahwa mereka datang ke tempat singgahnya sekarang bukan karena mereka mengharapkan suguhan darinya, hanya saja mereka ingin berkelahi saja sekaligus mereka pun ingin membalaskan dendam Sultan juga.


Tak lama kemudian Sultan dan rekan-rekannya tiba di tempat singgah Aisyah. Setelah itu mereka pun akhirnya pergi dari tempat tersebut dikarenakan waktu sudah mulai menandakan, di mana mereka semua sudah harus melaksanakan apel pagi.


Seperti biasa Sultan menurunkan Aisyah bersama dengan teman-temannya tepat di depan area lapangan Perusahaan, sementara Sultan dan rekan-rekannya pergi sejenak ke belakang area Perusahaan untuk memarkirkan motornya di sana.


Hari ini Sultan tak menjadi pemimpin apel lagi, biasanya tanpa diperintah sekali pun oleh pimpinan Perusahaan, seorang Sultan akan selalu maju dibarisan paling depan bersama dengan Aisyah.


Namun, entah kenapa sekarang Pak Rizki menyuruh Sultan dan Aisyah masuk ke dalam barisan kembali sambil memberikan senyumannya itu kepada mereka berdua.


Mungkin Pak Rizki hanya ingin melihat perkembangan para siswa yang sedang melaksanakan Praktek Kerja Lapangannya di sana sudah berkembanh sejauh mana.


Makanya beliau menyuruh Sultan dan Aisyah agar mereka berdua pergi kembali ke barisannya saja. Di sana Pak Rizki sempat membisiki telinga Sultan, di mana beliau berkata kepadanya tentang masalah mengapa raut wajah Sultan dipenuhi oleh banyak luka memar.

__ADS_1


Beliau pun sempat melihat sebuah perban yang melekat didahi Sultan. Lantas beliau menanyakan luka di balik perban tersebut itu adalah luka memar ataupun luka goresan.


"Kamu kenapa Tan? bapak lihat raut wajah mulusmu engga seperti biasanya, udah itu di balik perbanmu itu ada luka apa saja, luka memar atau luka goresan," bisik beliau dengan begitu lembutnya terdengar ditelinga Sultan.


"Biasalah Pak, malam kemarin saya terlalu gegabah, alhasil wajah saya terkena lemparan dari batu krikil yang berada di sekitaran jalanan tempat saya tinggal."


"Masalah wajah memar ini dampaknya sama Pak, terkena lemparan dari batu krikil juga, sementara luka-luka goresan kecil ditangan saya ini adalah dampak tubuh saya terjatuh dari atas motor hingga sampai kulit saya menyentuh jalan aspal."


"Bapak engga usah khawatir, dikarenakan hal ini memang sudah sering terjadi dikehidupan saya, malahan luka ini tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan luka di Tahun lalu."


....


Percakapan Sultan bersama Pak Rizki tak cukup panjang, dan sepertinya beliau mempercayai alasan dari Sultan dikarenakan dia berbicara dengan begitu lepasnya tanpa ada satu patah kata yang terdengar samar-samar ditelinga sosok pimpinan yang baik hati itu.


Seperti yang sudah Sultan duga, seluruh karyawan di dalam sana pasti akan menanyakan raut wajahnya yang sekarang dipenuhi oleh lukar memar dan luka goresan-goresan kecilnya itu dikarenakan sebab apa.


Sultan menjawab hal yang sama seperti apa yang telah dia bicarakan dengan Pak Rizki. Seluruh karyawan di sana percaya, dan terlebih teman-temannya pun pasti akan menutupi kejadian yang sebenarnya itu dikarenakan oleh sebab apa.


Mereka tak mau masalah ini sampai terdengar jelas ditelinga para karyawan, bukan karena mereka akan memarahi Sultan dan teman-temannya, hanya saja yang mereka takutkan itu tidak lain adalah masalah ini akan bertambah semakin panjang saja lantaran karyawan di sana pasti akan ikut membantu Sultan untuk melawan para brandalan jalanan yang memang hobbynya selalu membuat onar, sehingga para warga di sekitarnya merasa risih, dan terlebih bagi para wanita.


Bila Sultan mengingat penuh kebaikan mereka semua di sana seperti apa, para karyawan yang berada di dekatnya dan berada di dekat rekan-rekannya sekarang, bila dirasakan rasa keperduliannya itu semakin hari semakin bertambah kuat saja.


Bahkan jam istirahat makan siang, Bang Boa pun masih belum sepenuhnya percaya bahwa luka Sultan disebabkan karena dia jatuh dari motornya.

__ADS_1


Maka tak heran dia mengajak semua rekan Sultan untuk berkumpul di halaman belakang area Perusahaan, dikarenakan sebabnya dia ingin menanyakan masalah yang sebernanya itu apa dan karena apa.


"Oke, jadi begini, mendingan kita to the point aja, elu semua udah tahukan kenapa sekarang gue mengajak kalian pergi ke halaman belakang? ya, karena gue ingin menakan masalah yang sedang melanda kegelisahan anak-anak asuhan gue di sini."


"Sebenarnya elu engga usah bohong sama gue, dikarenakan gue udah tahu bahwa luka memar diwajah Sultan itu bukan disebabkan oleh hantaman dari salah satu batu krikil yang berada di jalanan."


"Dulu gue pun sama seperti kalian Brader, bahkan pengalaman gue jauh lebih banyak dan lebih buruk bila dibandingkan dengan kenalakan kalian yang sekarang."


"Luka memar Sultan sudah sama seperti luka memar bekas dari pukulan seseorang, dan gue pernah memilikinya dulu, pokoknya kalian engga usah sungkan membicarakan semua masalah yang tengah kalian hadapi sekarang ini kepada gue, kepada sosok abang-abangan elu di sini."


Ungkapan yang begitu panjang dari Bang Boa. Sepertinya dia bersungguh-sungguh ingin membatu mereka semua, namun sekarang mereka tak ingin merepotkannya.


Sebagaimana mungkin masalah ini hanya hanya ada diantara para brandalan itu dan juga seluruh rekan seperjuangan Sultan.


"Malam kemarin ketika kita mengantarkan teman-teman kenalan Sultan, tanpa sengaja kita pulang lebih dulu, dan sementara Sultan masih ada di sana seorang diri."


"Sampai mana setelah hujan turun, tiba-tiba kita semua dibuat khawatir sama dia, kenapa Sultan masih belum balik-balik juga, biasanya dia selalu bilang sama kita Bang, bila dia mau berpergian ke mana pun itu tempatnya dia pasti akan selalu bilang sama kita terlebih dahulu."


"Namun, malam kemarin udah hampir satu jaman lebih dia masih belum ngabarin kita. Akhirnya kita semua memilih untuk pergi mencari Sultan di jalanan sepi, yang di mana jalanan tersebut merupakan salah satu jalan terakhir yang sebelumnya kita lalui di malam hari itu."


"Dan benar, apa yang kita pikirkan itu benar-benar terjadi, ternyata Sultan ada di sana, tergeletak seorang diri tanpa ada yang mengetahui keberadaannya selain kita."


Penjelasan Alamsyah membuat Bang Boa berpikir, mungkin masalah yang Sultan hadapi sekarang ini jauh lebih rumit bila dibandingkan dengan kenangan terburuk yang pernah dialami olehnya dulu.

__ADS_1


__ADS_2