Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 42 : Kebersamaan hidup


__ADS_3

"Ternyata pacar gue cantiknya udah dari lahir ya, hehe," ucap Sultan waktu itu sembari menatap foto Rere waktu kecilnya.


Tak lama kemudian, Rere pun datang menghampirinya. Dia pun lantas duduk di samping Sultan sembari menemaninya melihat foto Rere selagi ia masih kecil itu.


"Cantik kan Tan? itu foto gue sewaktu SD kalau engga salah," ucap Rere sembari menatap fotonya tersebut.


"Hmm, iya pacar gue cantik."


"Oh, iya Re, kenapa elu engga nelepon gue pagi tadi?".


"Kouta internet gue habis Tan, makanya gue engga sempet nelepon elu, maaf ya."


"Yaudah, ayo kita beli kuota dulu buat elu," ajak Sultan sembari berdiri dan memegang tangan Rere.


Sultan pun kemudian meminta izin kepada mamah Rere untuk mengantar anaknya itu pergi ke konter depan. Lantas ibu Rere pun menyuruh Sultan untuk tidak pergi kemana-mana dari sana karena ibu Rere akan membuatkan masakan untuk Sultan sebagai tanda terimakasih, karena 1 minggu kemarin ia sudah menjaga anaknya itu.


"Jangan ke mana-mana Tan! mamah mau masak, dan pokoknya kamu harus ikut makan," ucap ibu Rere.


"Kita engga akan ke mana-mana Mah, kita cuma mau ke konter aja buat beli pulsa," ucap Rere.


"Yaudah kalau gitu, jangan lama-lama ya," ucap ibu Rere kembali.


Tak lama setelah ibunya itu memberikan mereka izin ke luar rumah sebentar, kedua anaknya itu lalu mengecup tangan ibunya tersebut dengan manis.


Sultan pun berjalan keluar rumah sembari menahan rasa sakitnya yang tak seberapa itu, Rere pun tak cukup banyak memperhatikan langkah kaki Sultan karena ia hanya terfokus kepada dirinya saja, yang di mana waktu itu Sultan sedang merangkul bahu dari Rere tersebut di sana.

__ADS_1


Sultan tak begitu merasa hancur dengan keadaannya yang sekarang, dan justru Rere lah yang akan merasa hancur, ketika mana ia melihat pacarnya tersebut sedang menahan rasa sakitnya itu, ketika mana ia sedang berpura-pura kuat di hadapan Rere, sang pujaan hatinya tersebut.


Sultan pun lalu menyalakan motor tuanya itu kembali, dan dengan perlahan ia membawa motor tuanya itu di jalan sana, dan terlebih kaki Sultan belum merasa pulih seutuhnya.


Tak silam beberapa menit, mereka pun lalu turun di sebuah konter yang letaknya tak cukup jauh dari rumah Rere. Dan setelah itu, Sultan pun lalu mampir ke toko kue, yang di mana ia ingin membawakan buah tangan kepada ibu Rere di sana.


Setelah mampir ke toko kue, mereka berdua pun lalu pergi kembali ke rumah Rere. Mereka pun di sana masuk kembali ke dalam rumah, dan duduk di kursi sofa ruang tamu itu dengan damai kembali.


"Re, bantuin ibu kamu masak sana," ucap Sultan.


"Elu engga apa-apa gue tinggal sendiri?".


"Engga apa-apalah Re, sana bantuin ibu elu masak dulu."


Rere pun lalu pergi ke dapur rumah untuk membantu ibunya itu memasak di sana. Dan ditatap kembali lah foto-foto Rere oleh Sultan di sana. Ia pun menatapnya dengan tajam, sembari tersenyum manis di dalam ruang tamu itu, ketika mana ia menatap kembali foto Rere sewaktu ia masih kecil di sana.


....


Ibu Rere pun lalu datang menghampiri mereka berdua di sana, sembari membawakan begitu banyak masakan yang beliau buat di dapur rumahnya tadi. Sultan pun di sana merasa tidak enak hati kepada ibu Rere karena beliau sudah bersikap baik kepada dirinya selama ini.


Itu adalah suatu poin penting bagi Sultan, dan juga itu adalah suatu inspirasi hidup bagi dirinya, untuk tetap terus menjaga Rere, serta menebus kebaikan yang telah keluarga Rere berikan itu kepadanya sungguh sangat besar.


Kebersamaan yang takan pernah membuat Sultan lupa, bahwa semua permandangan itu sungguh sangat langka, dan terlebih ia pun tak bisa berpaling dari hadapan mereka sekarang.


Rumah itu telah menjadikan Sultan seperti keluarganya sendiri di sana, ia tertawa lepas bersama dengan keluarga Rere, bercanda seolah-olah mereka tak memiliki beban hidupnya masing-masing di sana.

__ADS_1


"Sakit takan pernah membuatku menjadi sesat, luka takan pernah membakar habis duka, sunyi takan pernah hidup kekal abadi dalam diri, dan maka dari itu sunyi ini akan kembali berbunyi, kembali mengiringi, dan kembali menerangi langkah-langkah yang telah lama mati, ditelan rasa iri dan benci," ucap Sultan waktu itu sembari menatap tajam keluarga Rere di dalam rumah sana, yang penuh akan kenangannya yang indahnya itu.


Makan bersama pun telah usai dilaksanakan. Lantas Sultan pun di sana ingin membantu Rere bersama dengan ibunya itu mencuci piring-piring yang kotor tersebut, namun di sana ibu Rere melarang Sultan melakukan itu.


"Biar Sultan sama Rere aja Mah, yang nyuci piringnya."


"Masa tamu nyuci piring sih Tan! baik banget kamu hehe, engga usah Tan, ini biar jadi urusan mamah sama Rere, kamu duduk aja di kursi sana," ucap ibu Rere pada waktu itu kepada Sultan.


Sultan pun berisi keras ingin membantu ibunya itu di sana, namun berkali-kali pun ia minta, ibu Rere masih tak memberikan Sultan izin untuk itu.


Sultan pun lalu duduk kembali di sana, dan ia pun mengira bahwa Rere takan secepat itu mengahmpirinya di sana, dan lantas Sultan pun mulai memijat-mijat kakinya yang masih terasa sakit itu.


"Tan, lagi ngapain kamu?" ucap Rere yang seketika mengejutkan Sultan di sana.


Sultan pun lantas memberhentikan pijatannya itu karena ia merasa bahwa Rere tak harus tahu, seberapa sakit ia menahan rasa sakit dikakinya itu.


Rere pun datang dan duduk di samping Sultan, dan dengan seketika Rere pun menepuk paha Sultan, yang di mana titik tepukannya itu tepat mendarat dan mengenai bagian kaki Sultan yang masih terasa sakit itu.


"Aihh ... kenapa kamu Tan? padahal kan aku nepuk paha elunya pelan deh, ada yang sakit kah Tan?" ucap Rere.


"Aduh ... Re, Re! sakit Re! untung gue sayang sama elu, kalau engga sayang udah gue banting balik lu hehe," ucap Sultan dalam hati sembari bersikap tenang-tenang saja waktu itu.


"Kamu kenapa Tan? kok, diam aja?" ucap Rere kembali terlihat bingung dengan sikap Sultan tadi itu.


"Engga kenapa-kenapa Re, gue cuma kaget aja. Lagian kenapa sih elu engga permisi dulu kalau mau nyamperin gue."

__ADS_1


"Maaf ya, lagian engga biasanya elu sekaget ini sama gue."


"Maaf juga ya, Re, karena gue engga bisa jujur sama elu. Bukannya gue mau bohongin elu, tapi gue di sini engga mau membuat elu khawatir," ucap Sultan kembali berbicara dalam hati sembari menatap tajam Rere dengan senyuman.


__ADS_2