Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 282 : Terbaring lemas


__ADS_3

Sebelumnya Sultan harus menghajar habis-habisan musuh yang baru saja dia lumpuhkan itu agar musuh tersebut tak dapat bangkit lagi dari baringan lemasnya.


Sementara itu handphone Sultan tiba-tiba berdering, entah itu panggilan telepon dari siapa, dan sekarang yang bisa Sultan lakukan hanyalah melawan mereka.


Musuhnya begitu banyak, dan mungkin Sultan takan pernah bisa melawan mereka hanya dengan bermodalkan tenaganya sendiri saja, di sana dia membutuhkan seseorang, namun tempat tersebut sangatlah sepi, jadi Sultan hanya bisa terus melawan mereka hingga kayu baloknya patah.


"Kayu balok lu udah patah, dan sekarang elu mau menyerah apa tetap mau melawan? bila elu tetap mau melawan, maka jangan salahkan kami yang akan menghabisi elu sekarang, apakah ada ucapan terakhir yang ingin elu lontarkan Bro?" ucap salah satu musuh yang terlihat begitu meremehkan seorang Sultan.


"Menyerah! itu bukan cara gue Bro, sampai kapan pun gue engga akan pernah sudi menyerah kepada orang lemah seperti kalian semua," ucap Sultan dengan lantangnya sambil mengacungkan jari tengahnya kepada mereka.


Gemuruh angin hadir kembali, dan kini semangatnya mulai bergema, bila bukan temannya yang membantu, maka sang angin pun tidak masalah, asalkan sang angin tetap bergemuruh seperti ini saja, dan itu sudah cukup bagi seorang Sultan untuk tampil lebih percaya diri lagi.


"Gue engga akan pernah mati di sini, dan ini bukan cara gue untuk mati, andai saja gue bisa memakai ilmu yang pernah diwarisi oleh kedua kakek gue, mungkin sekarang gue engga akan terlihat lemah seperti ini," ucap Sultan dalam hati sembari mengarahkan tinjunya itu ke arah semua lawannya yang berada di hadapannya sekarang.


Untung saja sang angin sempat bergemuruh di belakang tubuh Sultan, sehingga dia mengetahui jelas bahwa di belakannya ternyata masih ada satu orang brandalan yang hampir menikam kepala Sultan dengan tongkat baseball.


Namun, musuh di sana terlalu banyak, walaupun Sultan sempat memukul wajah lawannya yang tadi, tapi tetap saja dia tidak bisa menghindar dari serangan yang lainnya.


Bukk ....


Suara hantaman dari kayu balok musuh tepat mengenai punggung Sultan, tapi hantaman itu bukan apa-apa sehingga mana Sultan mulai kehilangan konsentrasinya sampai dia lupa bahwa kepalanya tidak dia lindungi.

__ADS_1


Setelah Sultan terjatuh, para brandalan itu lalu memukul tubuh Sultan secara bersamaan, dan untung saja setelah dia mengingat kejadian yang sebelumnya, Sultan pun dengan seketika melindungi kepalanya meskipun dalam posisi terjatuh sekali pun.


Duarr ....


Setelah mereka puas menghajar Sultan, suara gemuruh petir pun mengejutkan mereka. Air hujan yang berjatuhan dari atas sana kini menghentikan perkelahian itu.


Sultan terbaring lemas, namun dia masih bisa tersenyum tipis seraya tertawa tipis juga. Sultan mengangkat kedua tangannya dan melihat tangannya yang dipenuhi dengan banyak luka bekas dari pukulan kayu balok yang dia tahan.


Raut wajahnya dan tangannya berlumuran darah, walaupun tak cukup banyak, hanya saja perihnya sungguh terasa pada saat guyuran air hujan membasahi seluruh tubuhnya.


"Mampus lu! makanya elu jangan pernah mau berurusan dengan orang-orang seperti kita, jadi sekarang elu tahu sendirikan resiko yang harus elu hadapi itu akan seperti apa! seharusnya elu tetap diam di rumah, dan seharunya elu juga engga usah mencampuri urusan kita," ucap salah satu musuh yang masih belum puas melihat Sultan hanya tergeletak seperti itu saja di sana.


....


"Dasar keras kepala! rasain nih pukulan gue!" ucap salah satu musuh yang langsung memberikan hantaman diraut wajah Sultan kembali.


"Cuihh, rasain tuh! haha," ucap Sultan sembari membuang air ludahnya dan tepat mengenai wajah brandalan yang sempat memukul wajahnya tadi.


"Engga tahu diuntung lu! gue habisin lu."


Sultan tertawa lepas, sementara brandalan itu masih belum puas juga memukul wajah Sultan, namun salah satu teman dari para brandalannya itu dengan seketika menguruhnya untuk berhenti memukul wajah Sultan, dikarenakan mereka takut bila nanti rekan-rekan Sultan semuanya pada datang.

__ADS_1


"Cukup bego! elu engga lihat apa kalau dia udah lemas seperti itu, mau sampai kapan pun elu engga akan pernah bisa menghabisinya, elu engga sadar apa bahwa semua hal yang telah kita perbuat ini akan memanggil para teman-temannya, dia bukan lawan elu bego, cepat pulang!" ujar teman brandalanya sambil menarik kerah baju temannya agar dia berhenti memukuli Sultan.


Mereka semua akhirnya pergi, dan di sana hanya ada Sultan seorang diri. Sekarang Sultan tidak bisa menggerakan semua tubunya, yang hanya bisa dia lakukan adalah berbaring sambil meresapi rintik air hujan yang jatuh di atas wajahnya.


Sultan mengambil satu batang rokok dari dalam tas slempangnya, lalu dia membakarnya dan menghembuskan perlahan asapnya ke atas langit-langit malam.


Huuhh ....


Hembusan asap rokok yang ke luar membuat Sultan tersenyum lebar, ternyata disaat banyaknya luka memar disekujur tubuhnya itu tak menghilangkan rasa nikmat dari rokok yang dia bakar itu, meskipun rokoknya agak sedikit basah, namun rasanya masih tetap sama.


"Hadeuhh ... mau sampai kapan gue harus terbaring lemas di tempat seperti ini terus, lagipula ini handphone dari tadi bergetar mulu dah, gue engga tahu itu siapa, bila si penelepon itu adalah teman-teman gue, apa susahnya coba tinggal jemput gue di sini, dan bila itu pacar gue Rere, gue ingin mengucapkan kata-kata maaf kepadanya."


Kali ini Sultan hanya bisa berbicara seorang diri seperti orang gila saja. Apa yang dia tunggu-tunggu itu masih belum datang juga, namun apa yang dia tunggu itu pastinya akan datang menjemputnya.


Bukan siapa-siapa, mereka hanya temannya saja, Sultan pernah berkata kepada mereka, dan tentunya mereka semua tahu ucapan Sultan itu adalah apa.


Makanya Sultan begitu percaya diri bahwa teman-temannya akan datang, dikarenakan teman yang baik takan pernah meninggalkan temannya sendiri dalam kondisi sesulit apa pun itu.


"Satu, dua, tiga ... ternyata masih belum datang juga! lebih baik gue hitung mundur lagi dari angka seratus, siapa tahu mereka akan datang nanti."


Sultan terus saja mengoceh di sana, sampai-sampai rokoknya itu habis hingga ke puntungnya. Lalu setelah itu dia pun membakar rokoknya yang kedua dikarenakan dia belum merasa puas melihat hebusan asap rokoknya itu ternyata tak setebal seperti biasanya.

__ADS_1


Lagi-lagi Sultan mengoceh seorang diri, dan tanpa dia sadari ternyata dengan cara mengoceh seperti itu sedikit demi sedikit rasa sakitnya mulai menghilang.


Sultan pun terus-menerus mengulangi hitungan mudurnya itu agar rasa sakit dan perihnya menghilang bagaikan ditiup oleh sang angin.


__ADS_2