Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 139 : Rasa malu


__ADS_3

Sultan mulai kembali memasuki Perusahaan setelah dia melaksanakan salat zuhur berjamaah di dalam musala yang telah disediakan oleh pihak Perusahaan sebelumnya.


Waktu hanya tersisa tinggal beberapa menit lagi, lantas ia pun mencoba menelpon Rere lewat panggilan video.


Videocall berdering, namun Rere tak menjawabnya, apa mungkin dia sedang beristirahat, ataupun dia sedang melaksanakan ibadahnya juga.


Tapi, Sultan tetap teguh dalam pendiriannya untuk menunggu Rere, sosok wanita cantik disegala arah, maupun itu disaat ia menatapnya dari depan, ataupun menatapnya dari belakang, kecantikannya masih akan tetap sama dan takan pernah berubah, meskipun umur yang akan mengkeriputkan seluruh anggota bagian tubuhnya.


Sultan mencoba menghubungkan kembali panggilan videonya yang sempat terputus karena sinyal di dalam Perusahaan sangat buruk.


Suara itu mulai terdengar, dan raut wajah itu mulai terlihat, serta bibir itu mulai tersenyum. Entah berapa lama ia menelepon Rere, hingga pada akhirnya dia menjawab panggilan videocall darinya.


"Haii, assalamu'alaikum, kamu sehat kan Re? raut wajahmu kok, makin ke sini makin cantik aja ya, bilamana elu ... ehh, maksudnya bilamana kamu tersenyum lebar seperti ini," Sultan menyapanya dengan penuh kehangatan rasa, serta ia memberikan sikap manisnya itu kepada Rere.


"Wa'alaikum Salam, ihh ... kenapa sih harus bersikap manis seperti ini sama gue Tan?" tanya Rere, yang di mana pipi Rere memerah.


"Apa salahnya saya bersikap manis di depan pacar saya sendiri! lagian gue sengaja ingin membuat rindumu itu bertambah lebih berat lagi."


"Udah tahu gue itu lagi kangen sama lu Tan, tapi kenapa elu malah bilang kayak gitu sih! dasar nyebelin," Rere menjauhkan pandangannya dari pria yang sangat menyebalkan itu, dikarenakan dia merasa malu terhadap sikap yang Sultan berikan kepadanya.


Sultan terus merayu Rere tanpa henti, sehingga ia membuat wanita itu tak kuasa menahan rasa malunya yang tak kunjung berlabuh-labuh.


Rere terdiam tanpa suara, dia membisu entah sampai kapan dirinya akan kembali menatap raut wajah Sultan, yang memang ia pun sama-sama tengah merindukan kekasihnya itu di sana.


Kringg, kringg, kringg ....

__ADS_1


Suara alarm pemberitahuan telah berbunyi. Berarti itu menandakan bahwa semua karyawan harus siap untuk mulai bekerja kembali.


Sultan berpamitan kepada Rere, dikarenakan pintu gerbang untuk masuk ke dalam ruangan tempat dia melaksanakan prakerinnya itu telah dibuka oleh petugas.


"Alarm di Perusahaan gue udah berbunyi Re, gue masuk dulu ya, nanti malam, atau nanti sore setelah gue pulang dari sini, gue bakalan telepon lu lagi," ucap Sultan yang membuat Rere mematikan panggilan video itu.


Mungkin Rere sudah mengetahuinya, kenapa Sultan masih belum mematikan panggilan videonya itu, ya, karena dia memang tidak pernah mematikan telepon dari Rere sebelum dia yang mematikannya lebih dulu dari dirinya.


Seperti biasa Sultan melaksanakan tugasnya dengan baik bersama dengan Bang Falah, Bang Boa, dan juga Bang Udin.


Hari pertama ia bekerja di sana alhamdulillah bersajalan dengan lancar, tanpa adanya suatu masalah yang menghambat pergerakannya di sana.


Sultan hanya bekerja sesuai waktu yang telah ditentukan oleh pihak Perusahaan, yakni hanya berkerja separuh waktu saja, dan bilamana ada kerja lemburan, ia tak dapat mengambilnya, dikarenakan dia hanya siswa sekolahan, bukan melainkan karyawan asli di sana.


Tapi, bilamana ada yang menyuruhnya untuk bekerja lembur, pastinya ia akan mengambilnya sebagai catatan bayarannya sama dengan para karyawan yang bekerja di sana.


Sore telah menyapanya, dan alarm Perusahaan kembali berbunyi, berarti itu menandakan semua karyawan sudah boleh pulang ke rumahnya masing-masing, terkecuali untuk yang kerja lembur, mereka akan berdiam diri di sana hingga waktu yang sudah ditentukan telah usai.


Sultan mengabari Rere setelah ia sampai di kosannya. Tanpa basa-basi ia pun langsung menelepon Rere.


"Haii, selamat berbincang kembali Re, kamu udah makan belum? kalau belum makan dulu ya, biar nanti ada energi yang masuk ke dalam tubuhmu, dan jadi nanti kita bisa berbincang lama," ucapnya yang masih berbicara dengan nada manisnya.


Panggilan itu hanya berupa suara saja, bukan melainkan panggilan video. Entah kenapa disaat dia memvideocallnya, Rere malah menolaknya, mungkin dia malu kalau Sultan harus melihat wajahnya sampai tersenyum kembali pada dirinya.


"Jangan videocall, gue malu!" ucapan Rere memang sudah bisa Sultan tebak.

__ADS_1


Sultan tersenyum di depan teras kosan, ia merasa bahwa pemikiran Rere takan jauh terlintas sama seperti dirinya, yang di mana ketika Rere memikirkan sesuatu hal yang bertentangan dengan perasaannya, dia pasti bisa dengan mudahnya menebak pemirikannya tersebut itu.


"Udah gue tebak dari awal dah, pastinya lu malu karena priamu ini selalu membuatmu masuk ke dalam perasaan yang tak karuan kan?" tanya Sultan sangat menyebalkan.


"Apaan sih kamu Tan! engga jelas! udah kenapa Tan, mendingan sekarang lu pulang, terus udah itu ajakin gue main ke mana kek," dia memang selalu berharap Sultan akan pulang secepat mungkin.


Ia berbicara kepada Rere, bahwa ia akan pulang sebentar hanya untuk membawa motor, agar supaya dirinya tak terlalu banyak mengeluarkan biaya terlalu besar, dan terlebih belum juga ia membayar uang sewa kosan serta uang ongkos untuk pergi ke Tangerang sana.


"Iya Re, nanti sabtu gue pulang ke Sukabumi, sekalian teman-teman gue katanya mau bawa motor sendiri, biar nanti uang buat ongkos pergi ke sana masih tetap utuh," ucapan Sultan membuat Rere merasa sangat senang.


"Serius kamu Tan? ahh kamu mah tukang bohong! aku engga percaya sama kamu," dia terkejut mendengar Sultan akan pulang secepat itu.


"Aku serius Re, nanti gue ke rumah kamu dah, supaya kamu percaya kalau gue bakalan pulang."


Sultan pun merasa sangat senang, dan akhirnya wanitanya itu menerima panggilan videocall dari pria menyebalkan itu. Sudah sekian lamanya Sultan membujuk Rere, hingga mana dia pun mau menjawab pangilan videocall darinya.


Rere langsung tersenyum di hadapan Sultan, dan mestinya ia akan membuat wanitanya itu merasakan arti dari kata rasa malu yang sesungguhnya, tapi bukan berarti ia akan membongkar aib Rere begitu saja, melainkan ia hanya akan membongkar kerinduannya terhadapnya, sampai dia mau mengakuinya bahwa sekarang dia tengah merindukan sosok Sultan.


"Gini kan enak Re, gue bisa melihat wajahmu langsung tanpa harus menunggu malam itu tiba."


"Jangan mulai deh Tan!".


"Apaan sih Re, elu mah baperan! padahal gue engga bilang apa-apa juga dih bego!".


Pipi Rere masih memerah, dan bahkan pipinya itu semakin memerah merona saja, entah kenapa belakangan ini dia selalu memberikan sifat yang dapat membuat Sultan berharap akan adanya suatu keajaiban rasa yang datang menghampirinya dengan seketika cepatnya.

__ADS_1


"Kamu yang baperan mah Tan, bukan gue!" ucapnya dengan nada suara yang agak sedikit tinggi.


"Jangan marah-marah gitu ah! nanti cantiknya ilang loh Re," Sultan mulai memaikan permainan gilanya, yang di mana ia sangat ingin membuat Rere terdiam tanpa suara, dan tanpa sedikit pun dia bisa mengeluarkan kata-katanya.


__ADS_2