
Masih di hari yang sama, namun itu di waktu yang berbeda pastinya, yang di mana kedekatan Sultan bersama dengan saudara perempuannya itu bisa dibilang cukup dekat, sama hal nya seperti kakak angkatnya yang sangat manja itu di Bandung.
Tapi, dia bukanlah wanita manja, melainkan dia adalah sosok wanita pekerja keras dan berpendidikan tentunya.
Walaupun dia di cap hanya sebagai anak lulusan SMA saja, namun akan tetapi dia sangat pandai, dan bahkan bilamana dibandingkan dengan kepandaian yang Sultan miliki itu, dia bisa lebih jauh mengunggulinya.
Dan mungkin tingkat kepandaiannya itu bisa dibilang sedikit mengungguli, ataupun bisa dibilang setara dengan tingkat kepandaian Rere.
Tetapi, tidak dengan kecerdasan kakak angkatnya, dan tentunya dia lebih pandai dari dirinya, dan juga dari kedua wanita yang kini tengah Sultan sebut-sebut itu namanya.
Kembali kepada Sultan, yang di mana ia masih berbincang bersama dengannya, dan balasan yang dia berikan itu cukup membuatnya merasa sangat senang, dikarenakan baru kali ini ia mendengarkan suara tawanya itu begitu lembut, namun pada dasarnya dia merupakan sosok wanita yang sangat tegas, dan kasar.
Dan ternyata sifat ketegasannya itu dengan seketika sirna begitu saja. Entah bagaimana Sultan melakukan cara tersebut itu? dan yang jelas ia memang selalu bisa membuat wanita sekeras dia luluh kepadanya hanya dengan bermodalan sebuah lelucon biasa saja.
"Oyy, kenapa elu diem mulu dah? udah kayak patung Liberty aja lu bolot," ucapnya sembari melirik wajah saudaranya itu dibalik kaca spion motornya.
"Kepo elu mah Tan! diem aja kenapa sih! jangan banyak nanya, nanti yang ada elu malah bilang lagi sama mamah gue," ucapnya, yang memang dia tidak mau berbicara banyak kepada Sultan, dikarenakan mungkin nanti dia akan membocorkan rahasianya itu kepada ibunya.
"Bukannya gue mau kepo! tapi yang gue takutin itu elu emang lagi disakitin sama cowok idiot!".
__ADS_1
"Hmmm," dengan singkatnya dia bergumam, dan tentu saja dia mencirikan kegelisahannya itu kepada Sultan.
Sampai akhirnya dia berkata jujur kepada saudara prianya itu, dan terlebih dia memang tak bisa membohongi Sultan, dikarenakan Sultan memang sudah mengetahui kegelisahannya itu dari awal.
Tak banyak yang harus diperbincangkan waktu itu, dan intinya dia memang sedang ada masalah dengan pacarnya di sana, dan kenapa dia berjalan seorang diri di jalanan sepi itu? karena dia baru saja pulang dari rumah teman wanitanya.
Sesampainya di rumah, Sultan pun lalu mengabari Rere lewat pesan chat Whatsapp, dan ia berkata bahwa malam ini dirinya takan bisa menghubunginya karena ia memang harus mempersiapakan semua barang bawaannya itu untuk besok.
Rere menyetujuinya, dan setelah itu ketika ia sudah melaksanakan semua kewajibannya, tepatnya di jam sembilan malam, ia pun langsung tertidur dengan pulasnya sambil menggenggam foto raut wajah Rere ketika dia masih menginjakan kakinya itu di kelas sepuluh SMK.
Manisnya masih tetap sama, cantiknya pun masih tetap sama juga, namun kebersamaannya hanya terasa ketika Sultan telah mendapatkannya.
Sebelum itu, Rere sempat berbicara dalam hatinya bahwa sekarang dia tengah merindukan sosok pria yang sangat menyebalkannya itu. Tapi, waktu berkata lain, dan mungkin ini memang sudah saatnya, yang di mana Rere harus bisa mengizinkan Sultan untuk pergi ke Tangerang.
....
Pagi mulai menyapa, dan Sultan meminta izin kepada pamannya untuk mengantarkannya pergi kesuatu tempat, yang memang ia akan menyinggahi rumah Rere terlebih dahulu.
Pamannya menyetujuinya, namun ia tidak berbicara langsung kepada beliau bahwa sekarang ia akan pergi ke rumah Rere.
__ADS_1
Ia hanya menyuruh pamannya mengantarkannya sampai gapura gerbang awal pintu masuk untuk menuju ke rumah wanitanya itu di sana.
Salam dan sapa diberikan oleh Sultan untuk menyambut orang-orang yang sedang berada di dalam rumah.
Dan tepatnya itu di jam 6 pagi, yang di mana ia datang menghampiri ibunya dan mencium tangannya agak sedikit lama sembari berdoa.
Pada saat itu, sebelum Sultan mencium tangan beliau, ia sempat menaruh tas carriernya itu di depan teras rumahnya terlebih dahulu.
Beliau pun lalu menyuruh Sultan masuk ke dalam rumahnya untuk menemui Rere, dan ternyata dia memang sudah menunggu Sultan di dalam sana, entah kenapa hari ini dia nampak sangat rapi sekali, biasanya jam segini wanitanya itu masih diam di dalam kamarnya sambil teleponan bersama dengan pria yang sangat menyebalkannya itu.
"Banyak banget barang bawaan kamu Tan! kayak yang mau pergi selamanya aja," nada suaranya agak sedikit terhentak, dan dia pun memandangi wajah Sultan dengan tatapan yang memang kala itu dia akan merasakan kesepian tanpa kehadirannya.
"Bilang aja kamu takut gue tinggalin Re, engga usah bohong sama gue! nanti kalau rindu gimana coba, emangnya kamu bakalan sanggup menahan rasa rindumu kepadaku itu nanti?" dengan seketika ia menumbangkan semangat wanitanya itu, tapi Rere tidak bisa menahan rasa geli ditangannya tersebut untuk menampar wajah Sultan sekeras mungkin.
Tamparan itu adalah sebuah rasa pelampiasannya, yang mungkin dia sengaja ingin membuat Sultan paham, bahwa semanis apa pun perkataannya itu, dia tidak mau mendengarkannya kali ini.
Rere memeluk tubuh Sultan dengan erat, dan Sultan mencoba untuk tidak memeluknya kembali agar supaya wanitanya itu tidak terlalu bisa merasakan kepergiannya, namun apa daya Sultan! ia sama sekali tidak bisa melakukan hal tersebut karena rasa cinta serta kehangatan cinta itu terus hadir, hingga pada akhirnya Sultan pun merangkul bahu Rere.
"Aku punya sesuatu untuk kamu Re, walaupun ini tak terlalu mewah, yang asalkan kamu bisa melampiaskan rasa rindumu itu dengan cara memeluk benda ini," Sultan memberikan sebuah boneka kecil dan lembut untuk Rere peluk ketika mana dia tengah merindukan dirinya nanti.
__ADS_1
Boneka itu adalah boneka serigala putih kecil yang ia pesan dari teman wanitanya dulu. Ia memang sengaja memesan boneka tersebut bercikhaskan ala-ala anak Pramuka, yang di mana baret coklatnya, kacu merah putihnya, serta namanya terukir jelas dan rapi dibagian dada kirinya.
"Kenalin nih Re, dia adalah Sultan cilik, dan mungkin selama tiga Bulan ini dialah yang akan menemani kamu untuk sementara ini di sini, maupun itu dikala kamu sedang tidur, maupun itu dikala kamu sedang rindu, dan yang jelas dia engga akan pernah meninggalkanmu sampai kapan pun itu Re," ucapnya sembari memberikan boneka itu kepada Rere, hingga mana Rere pun memeluknya dan mengelus-elus bulunya yang lembut itu.