
"Idihh ... bisa-bisanya si Rere nonjok muka pacarnya sendiri! udah itu sampai memar kayak begini lagi, emangnya pukulan si Rere sekeras itu ya, Tan? baru tahu gue kalau dia mewarisi tonjokan keras elu itu," ucap Alamsyah tanpa sengaja memegang pipi Sultan yang masih agak sedikit sakit itu.
"Adah, dah, dah sakit Lam! dia mah emang gitu orangnya, kalau udah marah ujung-ujungnya pasti nampar, nonjok, nyubit, bahkan sampai ngegigit kulit gue yang mulus ini dia berani melakukannya," ucap Sultan menceritakan semua sifat Rere, sampai-sampai mereka semua dibuat tercengang oleh sosok Rere yang cukup agresif itu.
"Maka dari itu kenapa gue engga mau berurusan dengan kemarahan wanita, dan gue takut bernasib sama seperti Sultan," ujar Wildan yang sama takutnya seperti Sultan, di mana dia pun memiliki seorang kekasih yang sama agresifnya seperti Rere.
"Kalau elu mah ujung-ujungnya nyari pacar yang baru lagi Wil, lu engga usah bohong sama kita, bahkan saksinya Sultan sendiri, di mana waktu itu elu sempat melukai hati adik-adikannya Sultan," ujar Dimas membuat Wildan menjauhkan wajahnya karena dia merasa malu kepada Sultan.
Dimas serta Alam mulai membercandai Wildan, hanya dalam kedipan mata Alam saja Dimas sudah mengetahui niat buruknya itu seperti apa, dan lantas tak silam beberapa lama Wildan menjauhkan pandangannya itu dari mereka semua, Dimas pun lalu memegang kedua kaki Wildan, sementara Alam memegang kedua tangan Wildan, alhasil Wildan pun dibaringkan di atas jalanan.
Sultan hanya tersenyum saja melihat keakraban mereka, lagipula masalahnya memang sudah berlalu, jadi Sultan pun telah melupakan masalah tersebut dan menganggapnya sebagai pelajaran untuk sosok wanita yang sering Sultan anggap sebagai adiknya itu.
Sultan memang sering melarang teman wanitanya untuk mendekati para teman pria gilanya, pada dasarnya Sultan kurang begitu yakin kepada mereka semua, terkecuali Dimas.
Dimas itu walaupun badannya agak sedikit berisi dan penampilannya agak sedikit garang, namun akan tetapi dia memiliki sifat polos yang sama seperti Sultan.
"Gila kalian semua! baju gue semuanya jadi kotorkan, untung aja jalanan ini engga basah," ucap Wildan sembari mengusap-ngusap bajunya yang agak sedikit kotor, namun kotoran itu hanya kotoran berupa debu jalanan saja.
"Bukan gue yang gila, tapi tuh si Dimas yang gila!" ujar Alam menuduh Dimas sambil tertawa-tawa bersama dengan semua temannya.
__ADS_1
"Ini bocah dua pada ke mana sih, lama bener dah! sebenarnya mereka pergi ke mana dulu Lam? dari tadi masih belum sampai-sampai juga, kesian tuh si Sultan soalnya dia belum istirahat dari pagi," ucap Dimas, yang di mana dia tak hanya berdiam diri saja di sana, dia pun mencoba menelepon Azmi, dikarenakan dia mengira kalau Azmi tengah nebeng di motor Rizki.
Alam pun mengherankan semua hal ini, sebenarnya dia juga tidak mengetahui jelas mereka berdua pergi ke mana, lagipula Alamsyah terpisah dengan dua makhluk ajaib itu.
"Kagak tahu gue juga Dim, agak-agaknya dua makhluk ajaib itu mampir dulu ke SPBU kali, soalnya motor Azmi memang engga ada bensinya," ucap Alamsyah kepada Dimas, di mana Alam juga melihat seisi jalanan siapa tahu mereka ada luar area stasiun.
"Bukannya motor gue juga ada ya? mungkin bentar lagi mereka datang, tunggu aja, soalnya gue yakin kalau si Azmi bakalan minjem motor gue," ucap Sultan, ia hanya bisa berdiam diri sambil sesekali menghisap rokoknya di sana.
....
Hingga pada akhirnya, Azmi dan Rizki telah tiba di stasiun Serpong. Seperti biasa mereka berdua berjabat tangan terlebih dahulu kepada Sultan sebelum mereka semua benar-benar pergi meninggalkan tempat tersebut.
Azmi memberikan motor tua itu kepada Sultan, namun dia menolaknya, lantaran dia ingin menemani Dimas, dan tentunya Dimas adalah orang pertama yang menjemputnya di sana, jadi Sultan lebih memilih untuk berkendara bersama dengan Dimas saja, dan itu semua dia lakukan atas dasar kemauannya sendiri, sekaligus dia juga ingin mengucapkan kata terima kasih kepada Dimas.
Sultan bukan tipe teman yang seperti itu, di mana ia takan pernah meninggalkan temannya sendiri ketika dia sedang membutuhkan pertolongan mereka, dan terus setelah urusannya itu terselesaikan, lalu sesudah itu dia meninggalkannya begitu saja tanpa menemaninya terlebih dahulu.
"Gue mau berterima kasih kepada Dimas Mi, jadi elu pakai aja motor gue itu sampai elu puas," ucap Sultan dengan senang hati meminjamkan motor tua kesayangannya itu kepada Azmi.
"Oke, lu baik-baik sama Dimas, dia itu pembalap, jadi mohon dimaklumi bila dia mengendarai motornya seperti orang yang ngajakin elu mati bersama," canda Azmi, padahal itu adalah tipe Azmi sendiri, di mana dia memang sering melajukan kendaraan motor sesuka hatinya tanpa memikirkan nasib temannya yang ada di belakang dirinya itu.
__ADS_1
Suara raungan motor telah dinyalakan, mereka semua kini mulai pergi meninggalkan stasiun tersebut. Sebenarnya ini adalah rencana Alam, entah mau ke mana dia mengajak semua kawannya pergi, dan yang pastinya mereka hanya bisa mengikuti kemauannya saja.
Mengelilingi Kota Tangerang bersama dengan teman-teman satu kelas dan teman baru memang suatu hal yang sangat jarang terjadi, apalagi mereka semua bukan teman terdekat Sultan di sana, tapi pertemuan ini membuat Sultan menjadi mengenal dekat sosok seperti mereka.
Pada dasaranya ia hanya memiliki teman dekat seperti Iman dan ketujuh sahabat lainnya yang sering bercerita panjang lebar di dalam kosan.
Tidak lain itu adalah base camp mereka. Semua guru, serta semua warga sering menganggap mereka sebagai siswa nakal, namun cerita yang sebenarnya bukan seperti itu.
Salah satu tempat yang sering mereka singgahi itu bukanlah sebuah tempat uji kekerasan, kriminal, sampai perjudian, melainkan tempat itu adalah tempat untuk melakukan perkumpulan, pertemuan bersama dengan para alumi, maupun para sahabat lainnya.
Tempat itu akan menjadi kenangan kedua di masa muda Sultan, dan tempat yang akan menjadi kenangan yang pertama adalah sekolah tercintanya, dikarenakan sekolah tersebut telah mempertemukan dia dengan bidadarinya, yaitu Rere.
Disepanjang jalan Sultan hanya tersenyum, ia mengetahui pasti bahwa Rere tengah menunggu kabar darinya.
Ia memang sengaja membuat Rere menunggu, itu adalah sebagian rasa balas dendamnya kepada Rere karena dia telah berani melukai pipi kanannya sebegitu manisnya.
Dimas mengetahui Sultan tersenyum-senyum sendiri di belakangnya, lantas dia pun menayakan hal apa yang telah membuat dia tersenyum-senyum seperti itu.
"Kenapa lu Tan? dari tadi gue perhatiin kayaknya lu bahagia banget dah," tanya Dimas penasaran.
__ADS_1
"Jangan suka kepo sama urusan orang lu Dim! fokus aja sama jalanan kenapa, jangan sampai elu membuat gue celaka hanya karena lu penasaran kenapa gue senyum-senyum sendiri di belakang lu," ucap Sultan sembari memegang helm yang tengah Dimas kenakan agar dia terfokus ke satu arah saja, yaitu jalanan.