
Mereka merasa bersalah kepada Sultan ketika mana mereka tak sengaja melihat begitu banyaknya kayu balok yang patah dan berserakan di jalanan gelap itu.
Mereka berpikir apakah kayu yang patah tersebut adalah benda yang sempat digunakan oleh para brandalan gila itu untuk memukul habis-habisan tubuh Sultan.
Mereka semua tak habis pikir, sebenarnya apa yang para brandalan itu inginkan dari Sultan, bukankah Sultan adalah orang pertana yang membiarkan para brandalan itu pergi begitu saja tanpa mereka harus meminta maaf kepada semua temannya.
"Para brandalan gila itu sudah mengibarkan bendera perangnya lebih dulu dari kita, dan selebihnya kita hanya bisa menunggu arahan dari pemimpin kita ini aja, jadi sekarang bagaimana Tan? apakah kita akan membalas perbuatan yang sudah mereka lakukan terhadap elu ini?" tanya Alamsyah menunggu kepastian dari Sultan, di mana dia sudah siap melawan mereka walaupun jumlah para brandalan itu jauh lebih banyak daripada dengan jumlah semua rekannya di sana.
Sebelum Sultan membalas ucapan dari Alamsyah itu, Sultan pun tersenyum tipis seraya membakar satu batang rokoknya itu lagi.
Sultan menghembuskan perlahan asap rokoknya itu, dan dengan pelannya dia menyandarkan pungunggnya dipunggung Dimas.
"Sekali-kali gue ingin membebaskan kalian semua dari satu peraturan yang sungguh melelahkan ini, jadi sekarang dengan sangat terpaksa gue harus melepaskan tanggung serta beban berat gue kepada kalian semua," ucap Sultan begitu santainya melepaskan semua tanggung jawabnya serta beban pikulannya itu di sana kepada semua rekan-rekannya.
Mereka semua tercengang ketika mana mereka mendengar ucapan dari Sultan. Ini adalah kali pertama bagi mereka semua dapat menggantikan tanggung jawab berat yang dipikul oleh Sultan.
"Kalian semua tahukan Bre, bahwa seorang Sultan engga akan pernah memberikan semua tanggung jawabnya begitu saja kepada kita, dan bilamana dia berani memberikan semua tanggung jawabnya ini, berarti pemimpin kita ini benar-benar mempercayai kita sekarang, jadi apa pun yang terjadi, kita engga boleh lalai dalam menjalani semua beban pikulannya di sini."
Alamsyah benar-benar tampil percaya diri, dia dan juga rekan-rekannya sudah siap menerima semua tanggung jawab Sultan sebagai pemimpin mereka di sana.
__ADS_1
"Tapi Tan, kita semua masih membutuhkan rencana elu itu, dan gue harap elu mau membantu kita di sini, tanpa elu semuanya akan terasa hambar Tan," ucap Azmi terlihat begitu percaya diri.
Dengan perlahan Sultan mulai bangkit dan mengubah posisi sandarannya itu. Lalu Sultan pun meminta semua rekannya untuk membantu dia bangkit dari duduk terdiamnya.
Mereka semua membantu membangkitkan tubuh Sultan dari duduk terdiamnya, dan Azmi pun lalu menyuruh Sultan untuk meletakan lengannya di atas bahunya. Azmi benar-benar menjaga sosok Sultan tanpa dia mau melepaskan lengan Sultan sedikit pun.
Kondisi Sultan yang sekarang memang mulai terlihat agak sedikit membaik, namun kondisinya itu belum sepenuhnya pulih, maka tak heran mengapa Azmi tidak mau melepaskan rangkulannya, dikarenakan dia takut nanti Sultan akan terjatuh lagi.
Sebenarnya perasaan Sultan agak sedikit mengganjal bilamana dia harus memperlihatkan titik terlemahnya untuk saat ini, tapi bilamana Sultan tetap memaksa berjalan seorang diri, maka Sultan takan pernah bisa pulih secepat yang dia inginkan.
"Jangan pernah merasa sungkan Tan, bila elu membutuhkan bantuan dari gue, gue bisa membantu elu meskipun gue engga sekuat elu Tan," ucap Azmi sambil menuntun Sultan berjalan sedikit demi sedikit.
....
"Hhee, gue engga bisa mengelak lagi Mi, dan gue memang harus mengakui kelemahan gue ini, maafin gue Mi, gara-gara ulah gue, elu dan mereka harus menggantikan tanggung jawab gue sebagai pemimpin di sini," ucap Sultan yang masih saja menahan rasa sakitnya itu.
"Engga masalah Tan, ini semua bukan salah elu juga kok, sebenarnya yang harus elu salahkan itu adalah teman-teman elu, berikut juga dengan gue Tan, dikarenakan gue dan mereka tak sadar bahwa kita telah meninggalkan pemimpinnya sendirian di sini," ucap Azmi berbicara begitu rendahnya di hadapan Sultan sembari menyimpan perasaan bersalahnya itu.
"Apa mungkin kekalahan gue ini dikarenakan sebab gue terlalu percaya diri ya, Mi! ego gue itu seolah-olah berbicara bahwa gue bisa mengalahkan mereka semua tanpa gue meminta bantuan dari rekan-rekan gue di sini."
__ADS_1
Azmi merasa puas melihat Sultan bisa mengakui ketidak berdayaannya itu di hadapannya langsung, lantas Azmi pun segera memberitahukan pesan baik ini kepada rekan-rekannya bahwa Sultan telah mengakui dirinya sedang lemah sekarang.
"Bre, si Sultan udah ngaku nih kalau dia lagi lemah sekarang," teriak Azmi membuat semua temannya tertawa lepas.
Sultan tersenyum sambil mengeleng-gelengkan kepalanya, ternyata sikap mereka yang dulu masih ada dan tak pernah berubah sama sekali, walaupun sikap mereka yang sekarang terlihat agak sedikit lebih dewasa, namun Sultan tetap cinta dengan sikap mereka yang dulu, terutama sikap jahilnya.
Mereka semua telah tiba di tempat yang sebelumnya, dan tempat tersebut tidak lain adalah tempat di mana mereka semua menyimpan motornya.
Berhubung motor Sultan masih belum mau menyala juga, lantas mereka pun lebih memilih untuk berjalan kaki saja, sementara Sultan dibiarkan pergi lebih dulu bersama dengan Dimas.
Namun, Sultan tidak mau membiarkan semua temannya bersusah payah mendorong motornya yang sedang mogok itu di sana hingga sampai tiba di dalam tempat singgahnya.
Sultan pun bertekad memperbaiki motornya seorang diri, tapi Azmi tidak mengizinkannya dikarenakan kondisi Sultan belum sepenuhnya pulih.
"Mi, biarin si Sultan pulang lebih dulu sama si Dimas, dan sekarang elu bantuin gue dorongin motor si Sultan ini oke," ucap Alamsyah disetujui oleh Azmi.
"Engga usah Lam, kita jalan kaki aja dah, lagian gue juga udah kuat kok, jalan kaki sendirian tanpa dibantu oleh teman bodoh gue ini, jadi tolonglah elu semua jangan pernah menganggap gue cowok lemah, dikarenakan gue bukan cowok yang seperti itu, pahamkan kalian semua!".
Ucapan Sultan memang terdengar cukup lantang, namun sebenarnya rasa sakit itu belum juga menghilang seutuhnya dari dalam tubuhnya, sehingga di sana Sultan masih saja angkuh dan tetap mempertahankan sikap keras kepala itu agar kelemahannya yang sekarang tak dapat mereka lihat sejauh mana mata mereka memandangi Sultan.
__ADS_1
"Songong juga ya, si Sultan ini! bagaimana kalau kita pukulin dia aja sampai dia benar-benar bisa mengalah dengan keadaannya yang sekarang ini," ujar Utuy disetujui oleh semua temannya.
"Saran yang bagus tuh Tuy, gue rasa hal tersebut cukup untuk membuat seorang Sultan mengakui kelemahannya yang sekarang ini," ucap seorang Rizki sambil mengepalkan tangannya dan mengangkat kepalan tangannya itu ke arah sosok Sultan.