
"Tunggu-tunggu, lu mau apa sih Re, naik ke atas motor gue! turun cepet! kita harus pamitan dulu sama mamahmu di dalam sana," ucap Sultan membuat Rere turun kembali dari atas motornya.
"Ihh ... dasar cowok aneh! tadi katanya gue disuruh naik ke atas motor lu, tapi sekarang elu malah nyuruh gue turun lagi dari atas motor lu," ucap Rere sembari mencubit lengan Sultan.
"Lagian elu ribet amat sih Re! apa susahnya tinggal turun aja dari motor coba, engga perlu tuh elu marah-marah kayak begini sama gue," ucapan Sultan membuat Rere pergi meninggalkannya di depan sana sendirian.
Sultan memanggil-manggil nama Rere setelah dia meninggalkan Sultan di depan sana, namun dia masih saja mengabaikan panggilan dari Sultan, padahal Sultan cuma bercanda saja, tapi dia malah menganggap ucapannya terlalu serius.
Sikap sensitif miliknya itu memang tak pernah berubah dari dulu, bahkan dari awal Sultan mengenalnya, Rere memang selalu memberikan sikap seperti itu kepadanya.
Tapi, bilamana Sultan membandingkan sikap Rere yang dulu dengan sikap Rere yang sekarang, mungkin Sultan akan lebih memilih sikap Rere yang sekarang, dikarenakan Rere yang sekarang sudah jauh berbeda, dan yang membedakannya itu tidak lain adalah dia sikap percaya dirinya.
Sultan pun lalu mengikuti langkah kakinya, ia mengira Rere hanya akan pergi berpamitan kepada ibunya saja di sana, namun ternyata dia malah duduk di depan teras rumahnya sambil membuka ikatan tali sepatu yang tengah dia gunakan itu.
"Lahh ... kenapa dibukan tali sepatunya Re, bukannya kita mau ke Pelabuhan Ratu, kita kan ke sini cuma mau pamitan sama mamah aja," ucap Sultan terheran-heran, kenapa Rere membuka sepatunya.
"Gue mau ke kamar mandi dulu, tungguin bentar, nanti biar gue yang panggil mamah," ucap Rere sembari masuk ke dalam rumahnya.
Tak lama kemudian ibu Rere ke luar dari dalam rumah, beliau mengizinkan Sultan membawa anaknya pergi asalkan Sultan benar-benar tak keberatan untuk mengantarkan Rere bertemu dengan semua teman lamanya.
"Kirain mamah kalian udah pergi," ucap beliau terheran-heran kenapa mereka berdua masih saja ada di sekitaran rumahnya.
__ADS_1
"Rasanya kurang sopan kalau kita pergi begitu aja tanpa pamitan dulu sama mamah, dan sekalian Sultan juga mau minta izin resmi dari mamah apakah mamah mengizinkan Sultan membawa Rere pergi dari sini."
"Mamah pasti bakalan selalu izinin kamu membawa anak mamah pergi dari rumah, tapi masalahnya apakah Sultan engga cape seharian ini udah dibuat repot sama Rere."
Beliau masih saja meremehkan kesetiaan Sultan, padahal tadi pagi beliau sudah tahu seberapa besar rasa sayang Sultan terhadap Rere.
Sultan membalas ucapan beliau dengan senyuman manisnya saja. Itu adalah respon yang sangat singkat, namun memiliki banyak makna, dan pastinya beliau mengetahui jelas apa maksud dari senyumannya itu.
Satu menit telah berlalu, hingga pada akhirnya Rere pun ke luar dari dalam rumah setelah dia selesai mengurus urusannya sendiri.
"Kamu itu ke mana aja sih Re, kebiasaan dah! apa-apa suka lama, emangnya kamu engga bisa apa satu hari aja bergerak cepat, kesian pacarmu tuh dari tadi nungguin kamu sampai ketiduran di sini," ucap beliau tengah membercandai Sultan.
....
"Aihh ... engga Re, engga ada, mamah boong tuh," ucap Sultan sembari tertawa katika mana ia mendengarkan candaan dari beliau.
"Mamah ini ya, makin lama makin deket aja sama cowok nyebelin ini, yaudah ah, kalau gitu kita mau pamit dulu," ucap Rere yang padahal dia pun sama seperti Sultan, di mana Rere pun makin ke sini makin dekat saja dengan ibu Sultan.
Rere dan Sultan pun lalu pergi setelah mereka berpamitan serta mencium tangan ibunya di sana. Dan ternyata memang benar, Rere baru sadar bahwa motor yang Sultan gunakan itu adalah motor milik pamannya.
Perkiraan Rere begitu sama dengan perkiraan ibu Sultan yang sebelumnya, di mana mereka berdua mengira kalau Sultan menukarkan motor kesayangannya itu dengan handphone milik Rere.
__ADS_1
"Gue baru sadar loh Tan, kalau ini adalah motor pamanmu, emangnya motor tua kamu ke mana? atau jangan-jangan kamu nukerin motor tua kamu sama handphone gue ya?" tanya Rere mulai merasa tak enak hati kepada Sultan.
"Kamu tuh sama kayak mamah gue ya, Re, beliau pun mengira kalau gue emang sengaja menukarkan motor tua gue dengan handphonemu itu, tapi elu tenang aja Re, motor gue ada di Tangerang kok," ucapan Sultan membuat hati Rere kembali damai.
Mungkin Sultan tak perlu menjelaskan sedikit pun alasan kenapa dirinya lebih meninggalkan motor tua kesayangannya di Tangerang, dikarenakan Rere pasti akan mengetahui semua alasan Sultan yang sekarang ini.
Sultan mengendarai motor matic pamannya dengan kecepatan standar saja, ia tak mau terburu-buru untuk menyusul semua teman Rere karena mereka semua pasti sudah jauh meninggalkan Rere.
"Jangan kebut-kebutan ya, Tan, mereka juga pasti udah jauh, lebih baik kita jalan pelan-pelan aja, kamu engga perlu terburu-buru ingin mengejar teman-teman gue semua," ujar Rere sembari memeluk tubuh Sultan dengan eratnya.
"Gue ngendarain motornya terlalu cepat bukan Re? yaudah deh gue minta maaf ya, abisnya kamu engga tegur gue sih, jadi gue engga tahu kalau lu lagi ketakutan di belakang sana," ucap Sultan dengan lembutnya, walaupun suara kendaraan di jalanan terdengar lebih bising dari suara Sultan, namun suara lembutnya itu masih dapat terdengar jelas ditelinga Rere.
"Idih ... engga biasanya lu bersikap manis kayak begini sama gue Tan, santai aja kali santai, gue baik-baik aja kok, di belakang sini."
"Gue kira elu jatuh ke belakang Re, abisnya gue sama sekali engga mendengarkan elu berkicau sedikit pun di sana, dan itu tolong dikondisikan senyumannya, gue takut kalau diabetes gue naik lagi gara-gara gue melihat senyuman manismu itu."
Rere tersenyum dan tak mau melepaskan pelukannya sedikit pun. Biasanya bila Sultan bersikap manis kepadanya dia akan selalu menjauhkan pandangannya dari Sultan, tapi sekarang dia malah menatap lebih tajam raut wajah Sultan di balik kaca spion motor matic pamannya itu.
Lagi-lagi pertemuan ini berjalan sesuai dengan apa yang sekarang tengah Sultan harapkan sebelumnya, dan apakah rindu itu akan kembali hadir menyapanya pada saat Sultan pergi meninggalkan Rere sendirian, serta pergi meninggalkan Kota kecilnya ini kembali di sini.
Semoga perpisahaannya nanti takan pernah terasa sekelam pada saat Rere mengabaikannya sudah hampir masuk dua Minggu seperti hari-hari kemarin yang sudah berlalu itu.
__ADS_1