Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 256 : Insting yang baik


__ADS_3

"Halah ... elu cuma beruntung aja bego, lagian dia bukan satu-satunya orang terkuat, makanya lu bisa mengalahkan dia begitu mudahnya," ucap salah satu musuhnya yang ingin beradu jotos dengan Sultan, di mana terlihat bahwa dia sepertinya benar-benar meremehkan Sultan.


Sultan berlari menghampiri musuhnya sambil berteriak, dan dengan seketika pukulan kerasnya mendarat diwajah lawannya, sampai-sampai dia terpental jauh hingga teman yang berada di sampingnya itu terkejut.


"Mulut dijaga! rasain nih pukulan gue bego! jangan sampai elu menyesal nanti karena lu udah meremehkan gue, orang yang sudah elu anggap hanya beruntung saja."


Teriakan Sultan menghantui alam pikiran teman musuhnya yang terpental jauh itu di sana, hingga mana Sultan pun tak tega memukul musuhnya yang satu lagi, dikarenakan semua mental lawannya sudah terkuras habis.


Untung saja di sana ada Azmi, dia pun membantu Sultan untuk menghajar lawannya yang terdiam itu, sebagaimana seorang Azmi, tentunya dia masih menyimpan rasa dendam terhadap lawannya, jadi tanpa belas kasihan dia memukul wajah musuhnya hingga terjatuh.


Sultan hanya tersenyum tipis saja sambil membakar rokoknya dengan sebegitu santainya tanpa dia merasakan sedikit pun ancaman dari para berandalan itu.


"Woii, di belakang lu masih ada gue, jangan lengah lu bego! rasain nih pukulan gue," teriak Azmi, di mana terlihat bahwa Azmi sudah siap melayangkan pukulan kerasnya itu.


Ternyata musuhnya masih belum sadar bahwa di belakang sana masih ada Azmi seorang, lantas Azmi memberikan sebuah kode kepada musuhnya dengan cara memegang bahu dia terlebih dahulu hingga sampai musuhnya menatap raut wajah Azmi.


Bukk ....


Dengan seketika musuhnya itu terjatuh ke bawah tanah yang agak sedikit basah, namun di sana Sultan sempat dibuat tertawa lepas oleh Azmi, dikarenakan dia berteriak setelah menumbangkan lawannya.


Mungkin tangan Azmi keseleo sedikit, makanya kenapa dia bisa berteriak sehisteris itu di hadapan Sultan tadi, dan terlebih cara Azmi memegang tangannya sendiri malah semakin membuat Sultan tertawa lepas.


"Alahh ... sakit beut tangan gue Tan! seriusan," teriak Azmi sambil mengkibas-kibas tangannya yang kesakitan itu.


"Ya, lagian elu bego! gigi orang lu pukul buat apa coba? yang ada tangan lu yang sakit, nyari penyakit mulu elu mah dah Mi, besok kerja bolot," ucap Sultan dengan santainya hanya diam dan duduk manis saja di sana sambil menatapi semua temannya yang sedang berkelahi.

__ADS_1


Sementara semua teman-temannya sedang berkelahi, dan di sana dia malah sempat-sempatnya menelepon Rere disituasi yang genting seperti itu, terlebih dia menghisap rokoknya seperti dia tak memiliki beban masalah pribadinya sendiri, dan malahan sekarang dialah yang menjadi beban bagi semua teman-temannya di sana.


Untung saja Rere tak sempat menjawab panggilan telepon suara darinya tadi, dikarenakan mungkin dia memang tengah sibuk mengurusi urusannya sendiri di Sukabumi, dan lantas Sultan mulai bangkit dari duduknya, tapi itu bukan untuk membantu mereka, melainkan untuk menyemangati semua temannya saja.


"Woii, lama beut dah sumpah, gue mau nelepon Rere, tolong agak sedikit dipercepat perkelahiannya oke, sekian dan terima kasih," ucap Sultan dengan lantangnya hingga dia pun kembali duduk di sana.


"Woii, dasar Sultan bego! bukannya bantuin malah diem aja di sana lagi! elu engga lihat apa wajah gue udah pada bonyok kayak begini," ucap Alamsayah menyimpan harapan penuh bahwa Sultan akan membantunya nanti.


"Urus aja urusan elu sendiri Lam, mungkin nanti gue bantuin mempersiapkan pemakaman elu aja," ledek Sultan sambil cengengesan di hadapan Alamsyah.


....


Setelah rokoknya habis, Sultan pun mulai membantu Alam, rasanya tak tega juga pada saat dia melihat Alamsyah sudah kewalahan seperti itu di sana.


"Yaudah, mendingan sekarang elu istirahat dulu aja Lam, biarin mereka semua gue yang habisin, dan tentunya ini semua engga gratis loh Lam, elu harus nyuci semua pakaian gue selama satu Minggu penuh tanpa mengharapkan timbal balik dari gue nanti."


"Gue terima tawaran elu Tan, tapi kali ini gue mau minta tolong sekali saja agar elu mijitin punggung gue ini, rasanya tulang gue pada remuk Tan?" pinta Alam begitu polosnya sehingga Sultan membalikan anggukannya itu tadi.


"Woii, bego! udah selesai ngobrolnya? tangan gue masih agak gatal nih, jangan sampai elu pada membuang waktu terbaik gue," ucap salah satu berandalan yang akan Sultan lawan itu di sana.


"Diam bego!" ucap Alam dan Sultan seirama.


"Gue kasih lu kesempatan untuk lari, gue hitung mundur dari angka sepuluh," ucap Sultan mulai menghitung mundur waktunya.


"Hitung sa ... ," ucapannya terpotong, dikarenakan dia telah membuang kesempatanyang Sultan berikan untuknya tadi di sana.

__ADS_1


Baru satu pukulan dia sudah terjatuh, bahkan Sultan juga belum sempat melakukan pemanas, tapi dia malah terjatuh secepat itu.


"Membosankan sekali! bahkan tadi belum dihitung sebagai pemanasan tangan, tapi anehnya mengapa seorang Alam tak dapat mengalahkannya secepat gue," ucap Sultan dengan diusap tangan kanannya yang terkena cipratan darah dari lawannya itu tadi.


Alam terkejut, kenapa Sultan dapat menumbangkan tubuh besar lawannya dengan sangat mudah, lantas Alam tersenyum tipis kembali sambil membakar rokoknya.


"Engga ada yang kuat apa? coba yang kuat hadapin gue sekarang juga," ucap Sultan mulai menantang lawannya yang agak sedikit kuat.


"Lu bilang apa tadi Bro? kuat, nyari mati lu!" ucap musuh yang akan melawan Sultan.


Pada saat musuhnya berlagak sok kuat, di sana Sultan pun langsung menghajarnya hingga terpental jauh ke arah temannya yang tengah merokok itu, dan dia adalah Alam.


Anehnya musuh yang Sultan lawan itu tepat berhadapan dengan wajah Alamsyah, sampai-sampai rokok yang tengah dia genggam terjatuh dan sempat mengenai wajah lawannya.


Prakk, prakk, prakk ....


Suara tepuk tangan Alamsyah diberikan kepada Sultan, lagi-lagi dia dibuat terkejut olehnya, belum lagi dia merasa heran mengapa Sultan tiba-tiba ada di sana, padahal seluruh temannya tak ada yang membawa handphone satu pun, lantas siapa yang sudah menghubunginya agar Sultan datang dan membantunya di sana.


Tentunya Sultan dan Dimas memiliki inisiatip sendiri, tak perlu dihubungi bilamana semua temannya membutuhkan pertolongan darinya.


Dan lalu setelah Sultan menghabisi lawan yang dianggap paling kuat di sana, dia pun kembali duduk di samping Alam untuk melihat Dimas yang sedang berkelahi melawan dua orang sekaligus.


"Dua orang itu nyari mati apa! emangnya tubuh kecilnya itu dapat mengalahkan Dimas dengan mudah, mereka berdua pasti kalah tuh," ucap Sultan satu pemikiran dengan Alam, bahwa Dimas akan memenangkan perkelahiannya.


"Kenapa elu bisa ada di sini Tan? padahal kita semua engga ada yang bawa handphone," tanya Alamsyah penasaran.

__ADS_1


Sultan menghela napas panjangnya dan lalu tersenyum lebar di hadapan Alamsyah. Mungkin Alamsyah tidak tahu, bahwa Sultan dan Dimas datang hanya mengandalkan instingnya saja, bukan melainkan ditelepon atau ada seseorang yang menyuruhnya untuk segera datang ke sana.


__ADS_2