
Sudah sekian lama menunggu, hingga pada akhirnya waktu pun telah tiba, di mana sekarang bell jam istirahat pun telah berbunyi.
Semua karyawan dan semua siswa mulai meninggalkan area dalam Perusahaan untuk mengambil jatah makanannya masing-masing.
Seperti biasa Sultan tak mengambil jatah makan siangnya, ia hanya membeli beberapa gorengan serta minuman dingin saja di warung ibu yang memiliki darah keturunan sebagai orang sunda.
Sultan sering lupa menanyakan nama dari ibu pemilik warung sederhana tersebut, bahkan sampai sekarang ia pun masih belum mengetahui namanya siapa.
"Ibu, saya beli goreng tempenya dua ya, sekalian sama teh dinginnya juga satu ya, Bu," pinta Sultan dengan lembutnya.
"Ambil aja sendiri ya, mumpung gorengannya masih panas," ucap beliau sembari membuatkan minuman yang Sultan pesan.
"Ternyata banyak juga ya, Bu, karyawan yang memesan nasi kuning ibu, mungkin nanti juga saya mau pesan nasi kuningnya juga kalau saya mau makan makanan berat."
"A'a kenapa engga makan di dalam? padahal masakan di dalam sana gratis loh, engga kayak makan di warung ibu ini."
"Saya emang jarang makan siang Bu, palingan kalau lagi mau aja baru saya bisa makan siang seperti teman-teman saya yang ada di dalam sana."
Ibu warung hanya mengangguk, sepertinya beliau memahami maksud dari ucapan Sultan itu apa. Ternyata beliau memang memahami apa isi dalam pikiran Sultan sekarang, di mana Sultan memang sengaja tidak ikut makan siang, dikarenakan bila perutnya terlalu kekenyangan, yang ia takutkan itu semua makanan yang ia santap tak dapat dicerna dengan baik oleh lambungnya sendiri.
Ibu pemilik warung pun tak mau banyak bertanya apa-apa lagi kepadanya, sampai-sampai beliau hanya bisa memberikan minuman yang Sultan pesan itu saja.
Sultan lalu duduk di bawah pohon setelah dia menerima semua pesanannya. Ia memang sengaja ingin menghabiskan sisa waktu istirahatnya untuk mengobrol dengan Rere lewat panggilan telepon suara di aplikasi Whatsapp yang ia punya.
__ADS_1
Ia mencoba menelepon Rere, namun Rere belum menjawab panggilan telepon dari Sultan. Ia berpikir mungkin Rere masih bekerja di sana, hingga pada akhirnya Sultan hanya bisa menunggu Rere yang menelepon dirinya terlebih dahulu.
Satu menit telah berlalu, ia menatap ponselnya hanya untuk memastikan apakah Rere akan menelepon dirinya kembali. Sultan memang jarang membunyikan nada dring di ponselnya karena itu akan mengganggu aktivitasnya di dalam Perusahaan.
Ia menunggu lebih lama lagi sampai Rere benar-benar menghubunginya kembali. Sudah sekian lama menunggu, tapi tetap saja tak ada balasan panggilan dari Rere.
Siang itu Sultan hanya bisa menghabiskan beberapa waktu singkatnya dengan beruduk-duduk santai saja di bawah pohon rindang.
Tak lama kemudian semua temannya pun ke luar dari dalam area Perusahaan untuk menikmati satu batang rokok di siang hari yang cukup melelahkan ini.
"Tan, elu kagak makan lagi bukan? seharusnya tadi itu elu makan dulu, gue cuma takut aja kalau nanti elu jatuh sakit, pokonya kita engga akan pernah membiarkan elu jatuh sakit," tanya Alamsyah begitu memperdulikan kesehatan Sultan di sana.
"Gue kagak laper Lam, engga tahu kenapa gue lebih suka menghisap rokok gue ini aja, lagian Lam, gue engga akan mudah jatuh sakit hanya gara-gara menahan rasa lapar ini," ucap Sultan sembari merangkul bahu Alamsyah dengan perhatian yang sama seperti Alamsyah memperhatikan kesehatan dirinya.
Dimas dan Azmi takan pernah merasa heran lagi dengan ucapan yang Sultan lontarkan tadi, dikarenakan Iman selalu berkata bahwa Sultan dapat menahan rasa lapar hingga mencapai batas waktu yang telah dia tentukan sendiri, kurang lebihnya sampai 2 hari atau 3 harian.
Azmi dan Dimas memang sering menghabiskan sisa waktunya di dalam kosan bersama dengan Iman dan juga bersama dengan sahabat-sahabat Sultan yang lainnya.
Maka tak heran mengapa mereka berdua dapat mengetahui kelebihan Sultan dalam menjaga pola makannya yang irit itu.
Walaupun sebenarnya itu tidak baik untuk kesehatan Sultan, tapi yang jelas selagi Sultan merasa baik, mereka semua tak dapat melarangnya selagi Sultan masih bisa menahannya.
"Gue pengen tahu banyak bagaimana cara elu dapat menjaga kesehatan tubuh lu sampai kuat menahan rasa lapar dengan jangka waktu yang cukup lama Tan," ucap Dimas yang memang dari dulu dia pun ingin mengatur pola makannya untuk diet.
__ADS_1
"Lu masih pengen diet bukan Dim? kalau engga salah lu udah pernah mencobanya ya, tapi lama-kelamaan usaha elu itu gagal, sampai sekarang pun elu masih sering mengambil jatah makan Sultan ya," ucap Azmi membuat Sultan cengengesan.
"Ohh, iya Dim, gue mau nanya kalau elu bawa jatah makan siang gue engga sekarang ke sini?" tanya Sultan yang memang sebelumnya dia sempat meminta Dimas untuk mengambilkan jatah makan siangnya dari dalam area Perusahaan.
"Bawa Tan, ini dia jatah makan lu, gue juga udah minta izin sama mereka kok, katanya gue boleh mengambilnya," ucap Dimas sembari memberikan jatah makan Sultan kepadanya.
Semua teman-temannya tertawa lepas ketika mereka melihat Dimas benar-benar membawa jatah makan milik Sultan dari dalam area Perusahaan hingga ke luar dari Perusahaan.
"Sejak kapan elu ngambil jatah makan milik Sultan dari dalam area Perusahaan Dim? kita baru sadar sumpah," tanya Wildan terheran-heran.
"Mungkin sejak gue ke luar dari sana, waktu itu gue sempat minta jatah makan lagi, untungnya mereka mau ngasih jatah makan Sultan sama gue, dan mereka juga memperbolehkan gue membawanya ke luar," ucap Dimas dengan diberikannya jatah makan milik Sultan, namun Sultan malah menyuruh mereka untuk menyantap makanannya sampai habis.
Mereka terlihat kegirangan, akhirnya mereka semua dapat menyantap makanan yang lezat itu kembali, dan terlebih menu makan siang di hari sekarang ini begitu enak untuk dinikmati.
Sementara Sultan pergi meninggalkan mereka setelah dia menghisap habis satu batang rokok terakhirnya di luar sana. Ia masuk kembali ke dalam Perusahaan untuk melaksanakan ibadah salat zuhurnya.
Setelah Sultan melaksanakan ibadah salat zuhurnya, ia pun lalu masuk ke dalam Perusahaan untuk melepaskan semua perasaan letihnya setelah bekerja.
Di sana Sultan tak sengaja bertemu dengan Bang Falah yang tengah asik berbincang bersama istrinya lewat panggilan video.
Sultan dikenalan kepada istrinya oleh Bang Falah, dan apa respon dia? ternyata dia menyukai sifat Sultan yang mudah akrab dengan siapa pun orangnya.
Dia melihat Sultan begitu dekat sekali dengan suaminya di sana, padahal suaminya jarang sekali mengenalkan siswa PKL lan seperti Sultan kepada dirinya.
__ADS_1
Tapi, anehnya kenapa Bang Falah sepercaya itu terhadap Sultan, bahkan Sultan pun diperbolehkan melihat anaknya lewat panggilan video tersebut, sampai-sampai dia pun menyuruh Sultan untuk mengunjungi rumahnya nanti.