Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 278 : Air mata yang terjatuh


__ADS_3

"Iya Tan, gue paham maksud elu itu, maafin gue ya, Tan, selama gue ada di sini, gue masih sering menjadi beban elu dan juga menjadi beban terhadap teman-teman gue semuanya di sini," ujar Azmi membuat Sultan tersenyum tipis.


"Yaelah, engga usah drama dah Mi, geli gue dengernya! lagian yang jadi beban itu bukan cuma elu aja, melainkan gue juga sama Mi, asalkan elu tahu aja, sejatinya teman takan pernah meninggalkan temannya dalam kondisi sesulit apa pun itu, apalagi sampai menganggap teman gue sendiri sebagai sumber beban, pokoknya ucapan tersebut takan pernah mungkin elu dengarkan Mi, bahkan sekali pun disaat hati gue sedang hancur."


"Mendingan sekarang kita berangkat aja, teman-teman wanita elu udah pada nungguin elu dari tadi tuh, dan setelah pulang dari Perusahaan gue mau teman-teman gue hadir dalam rapat singkat yang akan gue bahas nanti."


Seperti yang Azmi duga, diantara semua temannya yang paling mengerti hanyalah Sultan seorang saja, bahkan dia juga tahu pemikiran Sultan yang sebenarnya itu apa, intinya Sultan takan pernah bertindak seorang diri dikarenakan Sultan pun tahu apa yang harus dia lakukan dan siapa yang dia butuhkan.


Seberapa besar masalah Sultan, dia hanya bisa mengingat orang yang harus dia bantu itu saja, sementara masalah di dalam dirinya sendiri dia abaikan demi membantu orang lain terlebih dahulu.


Sultan bukanlah pria malang, bahkan teman-temannya takan pernah berani memangginya dengan sebutan yang seperti itu, lantas siapa orang yang berani memanggil dia sebagai pria malang? yakni, orangnya Sultan sendiri.


Setelah Sultan membantu Azmi menghilangkan semua beban yang berada di dalam pikiran temannya itu, hingga pada akhirnya mereka semua pergi meninggalkan tempat tersebut secara bersamaan.


Setelah tiba Sultan meninggalkan Aisyah dan teman-teman wanitanya di lapangan tempat seluruh siswa semuanya berkumpul untuk melaksanakan apel paginya.

__ADS_1


Sultan dan teman-temannya pergi hanya untuk menyimpan semua motornya di belakang area Perusahaan utama, setelah itu mereka pun kembali ke lapangan apel.


Singkat cerita, di mana mereka telah selesai melaksanakan semua pekerjaannya dengan baik, hanya saja luka bekas perkelahian yang semalam masih sedikit terasa sakit, tapi untung saja mereka masih bisa menahannya hingga mana teman-teman Sultan semua dapat kembali ke tempat persinggahannya itu.


Diperjalanan pulang Sultan sempat melihat Aisyah tengah berbincang dengan seluruh teman di sekolahnya, lantas dia pun membiarkan Aisyah menceritakan semua masalah yang tengah dia hadapi kepada teman laki-lakinya.


Aisyah berharap mereka semua akan membantunya sampai problemnya ini terselesaikan. Namun, waktu itu pada saat dia melihat raut wajah teman-teman prianya, dengan seketika Aisyah dapat menebak jawaban dari mereka, dan jawaban tersebut adalah ungkapan tolakan.


"Gue mau minta tolong sama kalian sekali ini aja, dan udah itu gue janji engga akan meminta bantuan apa-apalagi dari para cowok, ini adalah permohonan gue yang terakhir, gue berhadap kalian mau membantu gue untuk membereskan semua problem gue ini, kalian engga sendiri kok, di sana ada teman-teman jauh gue yang lain dan pastinya mereka sudah siap membantu kalian semua."


"Kamu engga ingat apa Syah, waktu itu kita pernah ditodong sama para brandalan itu, uang gue semuanya habis gara-gara gue membela kalian semua, gue engga mau ikut-ikutan Syah, suruh aja mereka yang menyelesaikan problemnya sendiri," ucap teman pria Aisyah menuduh semua teman Sultan tanpa dia mengetahui sebab jelasnya.


....


"Jangan lemah dong ah! kalian ini cowok, masa kalian kalah sama gue, padahal gue cewek loh, emangnya kalian engga takut harga diri kalian diinjak-injak oleh seorang cewe seperti gue!" ujar Aisyah masih mempertahankan harapannya agar semua temannya mau membantunya.

__ADS_1


"Ini semua bukan soal cewe ataupun cowok Syah, elu engga sadar apa Syah, bahwa yang mereka perbuat itu hanya akan membahayakan keselamatan elu, bukan cuma elu aja, terutama kita juga para cowok Syah, intinya begini ya, jika memang mereka itu orang-orang kuat, mereka engga akan pernah mau meminta bantuan dari kita sedikit pun itu, masalah teman-temanmu itu bukan masalah kita, lebih baik elu mundur aja dan biarkan mereka berkelahi atas semua kesalahan yang mereka perbuat sendiri."


"Jangan omongan kalian ya! asalkan kalian tahu, mereka itu engga selemah yang kalian kira, mereka didatangkan jauh-jauh dari Sukabumi, namun gara-gara ulah gue sendiri, teman-teman gue itu jadi menanggung resiko gue di sini, coba lihat diri kalian, siapa yang kalian anggap lemah! sadar diri dong."


Ucapan itu adalah ucapan terakhir Aisyah, yang di mana setelah dia mendengarkan ungkapan dari teman-teman prianya itu, Aisyah pun lalu pergi dari dalam kontrakan teman-teman prianya sambil menangis.


"Heyy, Aisyah nangis tuh! asalkan kalian tahu, masalah yang sedang dia hadapi bukan masalah teman-teman dia, dan asalkan kalian tahu aja, teman-temanya itu berkelahi bukan dikarenakan berkelahi membela masalahnya sendiri, akan tetapi alasan mereka berkelahi itu karena mereka semua sedang mencoba melindungi Aisyah dari gangguan para brandalan itu di sini."


Ucapan dari salah satu teman wanita Aisyah itu menjadi suatu pukulan keras bagi teman prianya semua, bukan hanya sampai di situ saja, sahabat dekat Aisyah pun ikut serta dalam memarahi teman-teman prianya itu di sana.


"Kalau engga ada yang namanya dosa, gue bunuh kalian semua! untung saja gue sadar, bagaimana cara menghadapi orang-orang seperti kalian, seberapa keras Aisyah meminta bantuan dari kalian, seharusnya Aisyah sadar bahwa apa yang dia harapkan takan pernah terjadi, seharusnya elu semua malu sama teman-teman Aisyah itu, mereka aja mau berkelahi demi melindungi Aisyah, sementara elu semua adalah teman satu sekolah, bahkan elu semua adalah teman satu kelasnya juga, tapi ternyata keperdulian teman jauhnya itu lebih baik dari keperdulian teman dekatnya."


Ucapan dari sahabat Aisyah membuat mereka semakin terpukul saja, namun rasa tersebut masih belum seberapa hingga mana Sultan yang datang menemui mereka semua di dalam sana.


Dan pastinya Sultan takan pernah mau memukul mereka hanya lewat ucapannya saja, melainkan Sultan akan bersungguh-sungguh memukul mereka dengan menggunakan tangannya sendiri, jangankan memukulnya hingga jatuh pingsan, memukul mereka hingga dibawa pergi ke rumah sakit pun dia sanggup untuk melakukannya, asalkan pelampiasannya itu berpacu dan mengarah kepada semua teman-teman Aisyah.

__ADS_1


Sebenarnya Sultan tak pernah melakukan hal yang semacam itu, tapi jika mereka menginginkannya, maka dengan sangat terpaksa dia harus melakukan cara tersebut, dikarenakan air mata Aisyah yang jatuh itu jauh lebih berharga daripada mereka yang bisanya hanya berlindung dipangkuan seorang wanita, dan bila itu terus-terusan terjadi, maka sampai kapan pun mereka takan pernah bisa menjadi seorang pemimpin yang diharapkan oleh semua wanita.


__ADS_2