
Cittt ....
Suara ban motor yang sempat berdecit itu dengan seketika mengakibatkan motor yang tengah dikendarai oleh Dimas pun menjadi semakin sulit dia kendarai, bisa dibilang dengan istilah lost control.
Untung saja kedua rem dari motor tersebut berfungsi dengan sangat baik, sehingga Sultan dan Dimas pun akhirnya tak terjatuh dari atas motor milik Bang Boa itu.
Entah kenapa ban motor tiba-tiba bisa menjadi selicin itu, padahal bila mereka memperhatikannya ban motor tersebut terlihat masih begitu tebal, bahkan bisa dibilang ban motor itu merupakan ban motor baru.
"Yaelahh ... dasar bego! elu ini kenapa sih Dim, sebenarnya elu bisa pakai motor engga sih Dim? santai ajalah, lagian sebentar lagi dan takan lama lagi kita akan segera tiba dititik yang kedua."
"Pokoknya elu harus ingat Dim, bahwa motor yang sekarang sedang kita gunakan ini bukan motor milik rekan-rekan kita, melainkan motor milik orang lain. Yaudah, cepat jalan lagi Dim, mumpung hari belum terlalu gelap-gelap amat," ucap Sultan sambil menepuk helm Dimas dengan begitu pelannya.
"Sorry Tan, gue engga sengaja. Lagian gue juga bingung sama ini motor, padahal ban motornya masih baru, tapi entah kenapa bannya tiba-tiba tergelincir, apa mungkin gue engga sadar ya, bahwa tadi gue sempat menginjak benda cair seperti halnya oli," ucap Dimas sambil menyalakan mesin motornya yang sempat mati itu.
Mereka pun lalu melanjutkan perjalanannya kembali, dan sekarang Dimas melajukan motornya dengan begitu hati-hati dikarenakan dia takut hal yang telah terjadi tadi akan terulang kembali.
Tak sampai 10 menitan, akhirnya mereka telah tiba di tempat tujuan yang merupakan titik kedua. Seperti biasa mereka mulai melihat-lihat kondisi di sana apakah sama dengan kondisi yang ada dititik pertama.
Ternyata dititik kedua lebih ramai, berbeda halnya diasaat mereka menelusuri tempat dititik yang pertama, di mana situasi dan kondisinya memang lebih tenang dititik yang pertama.
"Hmm ... ternyata memang benar, dititik yang kedua situasinya memang jauh lebih ramai bila dibandingkan dengan titik yang sebelumnya kita telusuri."
__ADS_1
"Apa mungkin dititik yang ketiga akan terlihat sama ramainya seperti disituasi yang sekarang ini."
"Tapi, kayaknya dititik yang ketiga akan terlihat jauh lebih seru dah Dim, bagaimana kalau sekarang kita mempersingkat waktu penelusuran kita aja dulu, berhubung titik yang ketiga engga terlalu jauh dari sekitaran tempat ini, dan nanti setelah itu kita balik lagi ke tempat ini, bagaimana Dim?" tanya Sultan yang terlihat sudah mulai bersemangat dikarenakan jumlah musuh bertambah semakin banyak saja.
"Gue ngikut elu aja Tan, lagian gue juga penasaran dengan tempat terakhir yang akan kita telusuri sekarang ini, pokoknya apa yang elu perintahkan akan gue laksanakan," ucap Dimas yang sama-sama penasaran juga, sebenarnya ada berapa jumlah keseluruhan dari musuh yang akan mereka hadapi nantinya itu.
"Oke, pokoknya dari sini elu tinggal ambil jalan lurus aja, kalau engga salah patokannya itu ada pada warung yang berada di pinggir jalan itu, dan jangan lupa atur jarak pemberhentian agar situasi aman terkendali."
"Siap Tan, serahkan semuanya sama gue, tapi ngomong-ngomong elu juga ikutkan?".
"Kalau elu mau pergi sendirian ke sana juga engga apa-apa, palingan gue bakalan nungguin elu di sini, tapi itu tergantung elu juga sih Dim, kalau misalkan elu memang berani pergi sendirian, pastinya gue engga akan melarang elu, tapi kalau misalkan elu engga berani, maka gue akan tetap menemani elu."
Sebenarnya Dimas berani pergi sendirian, hanya saja bila dia melihat ke arah kondisi Sultan yang sekarang seperti apa, jadi dia tak mau meninggalkan Sultan seorang diri di tengah kerumunan orang-orang yang sudah menghajarnya waktu itu.
Demi mempersingkat waktu, akhirnya Dimas berani pergi sendirian setelah dia mendengar ucapan dari Sultan bahwa Sultan mengingatkan agar dia tetap fokus saja tanpa dia harus memikirkan nasib seorang Sultan di sana.
"Gue tahu elu berani Dim, dan gue harap elu engga usah mengekang gue, pada dasarnya gue bisa menghadapi mereka semua dengan cara gue sendiri."
"Tetap patuh dan jalani penelusuran ini dengan sebaik mungkin, soalnya gue tahu bahwa rekan-rekan kita sekarang pasti lagi nunggin kita di sana," ucapan Sultan terdengar begitu tulus sekali, dan ucapannya itu dengan seketika membuat Dimas percaya bahwa Sultan pasti akan baik-baik saja di sini.
"Kalau emang itu mau elu, dengan sangat terpaksa gue akan bergerak sorang diri tanpa gue harus menjaga dan mengharapkan bantuan dari elu."
__ADS_1
"Oke, pokoknya elu harus bisa menjaga diri elu dengan sebaik mungkin di sini, dan gue engga mau bila esok hari gue menyaksikan pemakaman elu secara langsung," candaan dari seorang Dimas dengan seketika membuat Sultan tertawa lepas.
Pada saat Dimas akan pergi meninggalkan Sultan, tiba-tiba saja di sana Sultan memanggil namanya kembali sambil dia mengacungkan kepalan tangannya ke arah Dimas.
"Dut, ingat! jangan sampai ketahuan, apalagi sampai tumbang di tengah jalan, soalnya gue engga akan sanggup memikul berat badan elu sendirian," ucap Sultan sambil mengacungkan kepalan tangannya ke arah Dimas.
Dimas membalas acungan kepalan tangan dari Sultan dengan cara yang sama juga, di mana dia pun mengacungkan kepalan tangannya itu ke arah Sultan setinggi keyakinannya yang sekarang.
Akhirnya setelah sekian lama mereka berdepat, sekarang mereka berdua dipisahkan juga. Di sana Sultan hanya duduk terdiam sambil menyaksikan begitu lepasnya para brandalan itu tertawa.
Sultan berpikir bahwa tawa mereka yang sekarang ini takan lama lagi akan segera sirna. Dan berhubung Dimas baru saja pergi, lantas Sultan pun lebih memilih untuk menikmati rokoknya yang pertama sambil menunggu teman gemuknya itu datang kembali.
"Sekarang gue membiarkan kalian semua untuk tertawa selepas mungkin di sana, tapi asalkan kalian tahu, bahwa nanti tawa itu takan lama lagi akan segera sirna dikarenakan apa yang telah kalian perbuat kepada gue, tentunya harus kalian bayar juga dengan rasa sakit yang sama," ucap Sultan sambil memperlihatkan senyuman penuh kebenciannya itu di belakang mereka.
Tak hanya sampai di situ saja, di mana kebencian Sultan itu semakin lama malah semakin bertambah saja pada saat dia tanpa sengaja melihat bahwa para brandalan itu sempat meminta uang dari seorang adik kecil.
Sungguh adik kecil yang malang, andai saja Sultan tak mengingat semua tugasnya yang sekarang, dan mungkin dia akan menghampiri mereka semua.
Namun, Dimas selalu mengingatkan Sultan agar dia bisa menjaga dirinya dengan sebaik mungkin di sana sampai mana Dimas datang menghampirinya kembali.
Untuk sementara waktu ini Sultan hanya bisa merekam tindakan buruk yang mereka lakukan kepada adik kecil itu sampai hingga adik kecil itu melintas di hadapan Sultan sembari menangis tanpa henti.
__ADS_1