
Grungg, grungg, grungg ...
Suara raungan motor serta orang-orang yang tengah berdiam diri di sekeliling jalan itu, membuat Sultan semakin kebingungan, entah harus ke mana ia membawa pergi kekasihnya itu dari sana, dikarenakan bilamana ia menuruti kemauan wanitanya itu, yang di mana dia menyuruh Sultan untuk tetap berdiam di pinggir jalan saja, dan tentunya Sultan tidak mengizinkannya karena itu adalah suatu hal yang dapat membuat Rere celaka.
Dan terlebih Rere baru saja sembuh, dan pastinya ia tidak mau melihat kekasihnya itu kembali sakit, dan jadi ia hanya akan membawanya pergi ke tempat, yang di mana tempat itu merupakan tempat yang sering Sultan singgahi dulu.
Elang Jawa, itu adalah nama tempat yang dulu sering ia singgahi setiap saat, dan tentunya waktu itu telah lama berjalan, hingga pada akhirnya ia pun lebih memilih untuk melanjutkan dan ingin lebih fokus kepada sekolahnya itu terlebih dahulu.
Dan di sana, Sultan pernah memiliki jabatan sebagai petugas perjalanan pendakian, yang di mana tugas itu sering disebut-sebut oleh para pendaki dengan istilah Navigator.
Dan tentunya tugas itu cukup berat untuk dirinya, dikarenakan ia harus memiliki keahlian dalam bidang bernavigasi darat, yang mana diantaranya yaitu, Sultan harus bisa membaca arah peta dengan sebaik mungkin, dan dia juga harus bisa menggunakan kompas, serta dia juga yang akan ditunjuk oleh Leader pendakian sebagai petugas penunjuk arah jalan jalur pendakian.
Ia memegang jabatan Navigator itu hanyalah sebatas pemeran cadangan saja, dan tugas yang sebenarnya ia pegang itu adalah Sweeper, yang di mana tugasnya itu adalah relawan yang berdiri dibarisan paling belakang, dan tentunya itu memerlukan sebuah keberanian, yang di mana ia harus siap menahan rasa takut ketika mendaki di malam hari.
Tugas Sweeper, merupakan sebuah tugas yang tidak bisa dianggap remeh begitu saja! dikarenakan seseorang yang memegang tugas itu harus benar-benar memiliki fisik serta mental yang kuat, dikarenakan pastinya ia akan selalu berdiri dibarisan paling belakang untuk menjaga dan memastikan bahwa tidak ada barang, serta anggota tim yang tertinggal.
Sultan itu adalah tipe orang yang pendiam, namun tentu saja pengalamannya itu sering dianggap remeh oleh kawan-kawanya semua, tetapi seorang Sultan takan pernah mudah mengeluh begitu saja, dan dia pun bukan tipe orang pedendam, apalagi tipe orang yang mudah tersinggung oleh keadaan rasa muak.
Bahkan Rere saja tidak banyak mengetahui tentang pengalaman Sultan dalam hal itu, dan terlebih Rere pun tidak mau banyak bertanya kepada Sultan, dikarenakan yang dia inginkan itu hanyalah Sultan tetap berada di sampingnya selamanya.
"Kamu mau bawa aku pergi ke mana lagi sih Tan? padahalkan tempat itu enak juga kalau dikunjungin, dan elu kenapa harus takut sih! kan gue udah sembuh," ucap Rere, yang di mana dia merasa sangat menyayangkan hal itu, dikarenakan dia sungguh ingin melihat permandangan yang bisa memanjakan matanya itu.
"Ada tempat yang lebih indah Re, dan tentunya kamu bisa melihat panorama indahnya gunung Gede, dan tentunya kamu bisa melihatnya dengan jelas di atas puncak itu nanti," ucap Sultan, yang di mana ia pun tersenyum karena ia sudah tahu kalau Rere pasti akan sangat suka bilamana ia membawanya ke sana.
__ADS_1
"Tapi bukan ke gunung Gedenya kan Tan? kalau aku disuruh mendaki, kayaknya aku engga akan bisa deh Tan, soalnya gue engga bawa perlengkapan apa-apa."
"Kamu mau mati terserang hipotermia bukan Re? dan mana mungkin aku akan mengajakmu dengan hanya bermodalan pakaian seperti ini, dan itu semua akan membuat kita mati konyol di sana Re," ucap Sultan sembari tertawa, dikarenakan ucapan Rere itu sangat mengada-ngada.
....
Motor tua telah dimatikan, dan ia pun lalu menyimpan motornya itu di sebuah tempat perkemahan, dan tentunya tempat itu adalah Elang Jawa.
Sultan pun di sana bisa bertemu dengan kawan lamanya, dan tentu saja semua abang-abangannya pun ada di sana, dan ia pun disambut dengan pelukan kerinduan, yang di mana mereka semua mengharapkan Sultan kembali berkumpul di sana.
"Ini tempatnya Re, kamu suka kan? dan ini semua adalah tempatku berkumpul dengan rekan-rekanku, dan kita di sini engga perlu bayar tiket masuk, dikarenakan aku tahu semua pengurus tempat ini," ucap Sultan sembari menatap Rere dengan dimasukannya kedua tangan itu ke dalam saku jaket gunungnya itu.
"Enak banget Tan, makasih ya," ucap Rere sembari menatap Sultan itu juga.
"Sultan," ucap kakaknya itu.
"Abang gue udah tua ya?" ucap Sultan, yang di mana ia mengecup tangan kakaknya itu dahulu sebelum ia memeluknya di sana.
"Kangen banget gue sama elu Tan."
"Elu sehat kan Bang? gue rindu sama elu Bang, dan ngomong-ngomong, temen-temen gue pada ke mana ni? gue kengen sama mereka semua,"
"Dia ada di atas puncak sana, dan elu datang ke sini pastinya elu juga bakalan ke sana juga kan?".
__ADS_1
"Abang gue memang terbaik dah, dia itu adalah orang paling terbaik di tongkrongan kita Re, dan terlebih dia itu adalah Leader kita," ucap Sultan sembari menoleh ke arah Rere.
"Ini calon istri gue Bang, kenalin namanya Rere."
"Cantik Tan, dan wajah elu juga mirip, abang tunggu kertas undangannya ya," ucap Abangnya itu sembari bersalaman dengan Rere.
"Makasih ya, Kang, dan semestinya akang engga usah mendengarkan ucapan dia, dikarenakan dia orangnya tukang bohong!" ucap Rere sembari menatap Sultan dengan sekejap mata, sebelum dia mengecup tangan abang Sultan itu.
Abangnya hanya tersenyum, dan abangnya itu sangat senang sekali ketika dia bisa melihat perubahan sikap Sultan yang pendiam itu dulu. Dan tentunya beliau mengharapkan Sultan terus-menerus bersikap seperti ini, dikarenakan beliau sangat suka melihat sikap ceria Sultan ini kembali bangkit.
Sultan pun di sana menanyakan istri dari abangnya itu, dikarenakan dia merasa heran, kenapa istri cantiknya itu tidak menemaninya sekarang, padahal dulu beliau sering mengajak dan selalu didampingi olehnya.
"Kemana istri elu Bang? gue kangen juga ni," ucap Sultan kembali sambil menatap ke arah kanan, dan kiri, yang di mana ia hanya ingin melihat apakah istri dari abangnya itu lagi bersembunyi.
"Istri abang ada di rumah Tan, katanya lagi engga enak badan, dan terlebih, apa yang pernah elu ucapkan ke gue dulu, dan itu semua benar-benar terkabul," ucap abangnya itu, yang di mana beliau pun tersenyum ke arah Sultan di sana.
Dan Sultan pun lalu tersenyum, dikarenakan ucapannya itu dulu adalah kata-kata untuk menyemangati hidupnya, bahwa bila abangnya itu ingin punya anak, dia harus banyak mendekatkan diri, serta harus selalu berdoa kepada Tuhannya.
Rendi, itu adalah nama abang angkatnya, dan dia adalah Leader pendakian, yang di mana beliau adalah ketua yang sangat beringas, menakutkan, kejam, namun dibalik semua itu hanyalah masanya, yang di mana dulu Sultan dilantik dengan sangat kejam olehnya.
Kekejaman beliau hanya sebatas dan sesaat saja, yang di mana bila pelantikan itu telah usai dilaksanakan, beliau akan kembali bertingah lucu, dikarenakan dia adalah itu, dan tentunya sikap Sultan yang menyebalkan itu datangnya dari dia.
Abang Rendi itu pun lalu berpamitan, dan beliau di sana memeluk Sultan kembali, dikarenakan beliau juga harus menemani, serta merawat anaknya di sana.
__ADS_1
Dan setelah itu, Sultan bersama dengan Rere pun lalu pergi ke lokasi yang akan mereka singgahi, dan tempat itu pastinya akan memanjakan Rere, bahkan langkah kaki dari wanitanya itu pun akan terdiam kaku, ketika mana dia melihat indahnya ciptaan Tuhan ini begitu sangat indah dan besar.