
Setelah ia menemui dan berbincang bersama dengan ibu dari wanitanya itu di sana, yang di mana kemudian ia pun lalu bermain sebentar bersama dengan adik mungilnya itu.
Berhubung hari itu adalah hari Jumat, dan jadi ia pun tak bisa berlama-lama bermain bersama dengan adik mungilnya itu, dikarenakan ia harus melaksanakan salat Jumat berjamaah di sebuah masjid yang jaraknya tak cukup jauh dari sekolahannya itu berada.
"Mah, Sultan mau izin sebentar buat salat Jumat di mesjid dekat sekolah ya," ucapnya dengan nada suara lembutnya itu sembari mengecup kembali tangan ibu Rere.
"Sultan mau kembali ke sini lagi bukan? kalau begitu biar nanti mamah siapin kamu makan ya," tanya beliau menunggu jawaban darinya.
"Engga usah repot-repot Mah, Sultan datang ke sini cuma mau main sama anak bungsu mamah ini, sekalian nunggu Rere pulang."
"Manja banget anak mamah ya, Tan! maafin mamah ya, kalau anak mamah sering ngerepotin Sultan, Sultan engga marah sama Rere kan?" beliau menatap wajah Sultan dengan dihadirkannya senyuman manisnya itu.
"Ini bukan kemauan Rere kok, Mah, mamah engga perlu menyalahkannya," Sultan berucap seperti itu, dikarenakan ia memang sengaja datang untuk menemuinya.
Tentunya alasannya bukan hanya itu saja, melainkan ia juga ingin berpamitan, dikarenakan esok Sultan akan segera berangkat pergi ke Tangerang untuk melaksanakan tugasnya di sekolah.
Sultan mulai melangkahkan kakinya, dan ia pun sama sekali tidak menggunakan motor tuanya itu. Entah kenapa waktu itu ia lebih memilih untuk berjalan kaki, padahal bilamana dia menggunakan motor tuanya itu, mungkin perjalanannya takan terasa begitu melelahkan.
Setelah Sultan ke luar dari gapura pintu masuk untuk pergi ke kampung tempat kekasihnya itu tinggal, yang di mana Sultan pun dengan seketika melihat Rere sedang membeli makanan bersama dengan karyawan wanita kenalannya itu di sana.
waktu itu Rere memang sedang beristirahat, dan tentunya dia tidak melihat Sultan, mungkin dia mengira bahwa Sultan masih berada di rumah Pak Mukhsin.
Anehnya karyawan kenalannya itu melihat Sultan, tapi kenapa Rere tidak melihat dirinya, dan dia malah terfokus kepada handphone yang sedang dia genggam.
__ADS_1
"Lagi ngeladenin selingkuhannya pasti tuh, sampai-sampai dia engga sadar kalau gue ada didekatnya sekarang ini," Sultan berbicara dalam hatinya sambil menempelkan jari telunjuknya itu dibibirnya untuk menyuruh wanita di samping Rere itu diam tanpa suara.
Untung saja dia sempat melihat Sultan, dan jadi mereka berdua bisa saling berkomunikasi dalam bahasa isyarat.
Sultan tak ada niatan untuk membuat wanitanya itu terkejut karena kehadirannya di sana, namun akan tetapi wanitanya itu pasti masih akan tetap terkejut, dan terlebih pertemuannya ini sama-sama belum direncanakan sebelumnya.
"Lagi chatingan sama siapa sih Re? kok, serius amat sampai kamu kagak melihat gue ada didekatmu sekarang ini, tega beut dah lu Re," Sahutnya berbicara dengan nada yang rendah langsung didekat telinga Rere.
Rere sontak membalikan tubuhnya dengan reaksi kagetnya itu sambil mengangkatkan tangannya dengan posisi yang siap menampar wajah Sultan.
Dan sebelum itu dia pun memang sempat akan menampar wajah Sultan, tapi disaat dia menoleh ke belakang, dan ternyata itu hanyalah Sultan, pacar manisnya tersebut.
Dengan sigapnya ia menghindar, tetapi tamparannya itu hanya sebuah geretakan yang Rere berikan. Ia mengira setelah Rere menahan tamparannya itu mungkin dia akan berpikir tidak perlu menampar wajah kekasihnya itu, namun disaat Sultan sudah lengah, tamparan yang memang tidak terlalu keras itu dengan seketika cepatnya mengenai wajah Sultan.
Sultan hanya terkejut saja, bukan melainkan dia merasakan kesakitan, yang seolah-olah dia berpikir bahwa Rere takan pernah berani menamparnya disaat dia sedang bersama dengan orang lain.
"Aduh ... gue kira itu hanya geretakan saja Re, tapi ternyata pemikiran gue salah!" ucapnya sembari memegang kedua pipinya.
Itu memang sikap yang selalu dia perlihatkan kepada wanitanya disaat Rere benar sudah menamparnya. Entah kenapa rasa takut akan wanitanya itu menamparnya kembali bisa menjadi suatu kebiasaannya juga sekarang.
"Kebiasaan dah elu mah Tan! suka muncul tiba-tiba kayak setan! emang lu engga bisa apa nyapa gue terlebih dahulu?" Rere berucap sembari mencubit tangan Sultan setelah dia belum puas hanya dengan menampar pipi Sultan saja.
Ia sempat berpikir bahwa ucapan Rere terlalu menuduhnya, padahal Sultan sama sekali tidak memiliki niatan ingin mengejutkannya, dan bahkan nada suara sapaannya itu tidaklah begitu keras.
__ADS_1
"Nuduh mulu dah elu mah Re, kebiasaan! emangnya gue harus ngomong dengan nada suara seberapa pelannya lagi sih sama elu budeg?" canda Sultan dengan dicubitnya kedua pipi kekasihnya itu.
Rere sempat kebingungan melihat Sultan tengah berjalan kaki sendirian di sekitaran tempat dirinya sedang melaksanakan ujian prakerinnya itu di sana.
Dan terlebih ia juga merasa sangat heran, kenapa Sultan tidak menggunakan motor tua kesayangannya itu, apa mungkin dia memang sengaja ingin memata-matainya di sana.
Tetapi, itu hanyalah sebuah kebetulan saja, lagian dia pun memang akan pergi ke mesjid yang berada di dekat sekolahannya itu berada.
"Motor lu ke mana Tan? kok, gue engga melihatnya sama sekali ya," ucapnya sembari melirik kesegala arah, yang di mana ia memang hanya ingin memastikan kalau Sultan benar-benar tidak membawa motor tuanya itu.
"Motor tua gue sekarang lagi singgah di depan gang rumahmu itu di sana Re," Sultan menatap raut wajah manis kekasihnya itu sembari berpikir, kenapa dia selalu menanyakan motor tuanya tersebut terlebih dahulu, apa mungkin dia memang hanya mencintai motornya itu saja, sampai-sampai disaat dia sedang tidak membawa motor tuanya itu, Rere pasti akan selalu bertanya, ke mana motor tuamu itu sekarang.
Sultan mengelus-elus rambutnya sendiri karena dia merasa sangat bosan mendengarkan pertanyaan yang selalu dia berikan itu tak pernah berubah.
"Kamu mau ke mana sih Tan? engga biasanya kamu jalan kaki sendirian seperti ini," ucap Rere yang tengah berdiri di samping tubuh Sultan.
"Gue mau salat Jumat dulu Re, dan maka dari itu kenapa sekarang gue engga bawa motor tua gue, dikarenakan setelah pulang Jumatan, gue juga mau lansung kembali ke rumahmu itu," Sultan hanya berbicara seperti itu saja kepada Rere, hingga pada akhirnya dia pun pergi meninggalkannya bersama dengan karyawan wanita itu.
Sebelumnya Sultan sempat mengelus-elus hijab yang melekat manis dikepala wanitanya itu. Dan sikap yang dia berikan kepadanya itu memang sengaja dia berikan agar supaya wanita manisnya bisa mempercayai ucapannya, serta bisa tersenyum juga kepadanya.
Waktu salat Jumat tak berlangsung lama, dan lalu ia pun segera bergegas pergi untuk masuk dan makan terlebih dahulu di dalam kosan bersama dengan Akbar, teman baiknya itu, yang di mana besok dia juga akan memulai ujian prakerinnya itu di sebuah Perusahaan yang bergerak dibidang permesinan juga .
Sultan pun lalu menyuruh Akbar untuk membeli dua bungkus nasi kuning paket lengkap, dan tentunya waktu itu Sultan lah yang akan meneraktirnya, dikarenakan di sana memang hanya ada dia saja.
__ADS_1