Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 214 : Pergi kembali


__ADS_3

Di kediaman Sultan, di mana sekarang dia tengah berteleponan bersama dengan Rere. Malam itu adalah malam yang singkat, mereka berdua tak terlalu lama bercerita, dikarenakan esok pagi Sultan sudah harus pergi meninggalkan Kota Sukabuminya kembali.


Rasanya perbincangan itu hanya meninggalkan duka yang mendalam saja bagi mereka berdua, dia yang selalu menanyakan luka memar di wajah Sultan, dan dia yang selalu memerintahkan Rere untuk menjaga dirinya sebaik mungkin di sana.


Panggilan telepon suara telah dimatikan pada saat jam dinding rumah telah menunjukan pukul 10 malam. Itu adalah jadwal Rere tidur, namun bukan untuk Sultan, ia masih saja membuka matanya lebar-lebar, dan bahkan ia malah pergi ke luar rumah sembari membawa secangkir teh susu hangat.


Sultan duduk di atas kursi yang berada di depan teras rumahnya sambil sesekali mendengarkan musik lewat earphonenya itu.


Sultan membaca buku hariannya ketika dia bekerja di Tangerang. Ia membaca buku tersebut sampai benar-benar memahami semua isi dan maknanya, padahal dia sering melakukan hal tersebut di Tangerang, namun Sultan masih saja melupakan sedikit tulisan yang ingin dia pahami itu.


Tak lama kemudian Dimas pun menelepon Sultan, dia memang hanya ingin memastikan apakah besok pagi Sultan jadi berangkat ke Tangerang, dan sepertinya dia juga nanti ingin menjemput Sultan bilamana Sultan telah tiba di stasiun Serpong.


"Oyy, Tan, elu lagi di mana sekarang? besok elu mau berangkat jam berapa? kalau lu berangkat pagi mungkin besok gue sama temen-temen bakalan jemput elu di stasiun," tanya Dimas terdengar bahwa dia tengah menghisap rokoknya di sana.


"Besok pagi Insya Allah gue berangkat Dim, kira-kira pukul setengah enaman setelah gue selesai melaksanakan salat subuh," ucap Sultan yang mengira mereka semua tengah merindukan dirinya di sana.


"Kalau lu udah sampai di stasiun Serpong kabarin gue oke, yaudah Tan, elu tidur sana, gue engga mau melihat elu sakit-sakitan terus karena elu sering tidur larut malam."


Ucapan Dimas membuat Sultan merasa geli, namun itu memang sifat mereka, jadi dia tak bisa melarangnya, dan terlebih itu adalah perintah dari Pak Mukhsin yang harus mereka kerjakan dengan sangat baik.

__ADS_1


"Gila lu bego! geli gue dengernya! untung aja Pak Mukhsin yang nyuruh kita untuk melakukan hal tersebut kepada semua teman kita di sana, coba saja kalau beliau engga menyuruh kita melakukan hal itu, mungkin elu udah gue bunuh Dim," ujar Sultan, di mana rasanya dia ingin sekali pergi menjauh dari sisi mereka, namun Sultan tak bisa berbuat apa-apa lantaran dia pun sama gilanya seperti mereka semua.


"Udahlah Tan, kita semua sama-sama gila, jadi engga ada yang harus disesali, lagian elu pun sama Tan, sering mengucapkan kata yang sering membuat gue merasa minder," ucap Dimas membuat Sultan tertawa, yang di mana dia terbatuk-batuk karena terlalu menghisap dalam-dalam asap rokoknya.


"Mampus lu bego! mati aja sekalian sana! lagian ngerokok udah kayak kereta! udah tahu tersedak asap rokok itu tak seindah gue mencintai dirinya."


Sepertinya Dimas meninggalkan handphonenya begitu saja, dikarenakan panggilan telepon suaranya masih terhubung di handphone Sultan, dan suara tawa lepas dari teman-temannya pun terdengar nyaring ditelinga Sultan.


Sultan mematikan panggilan telepon suara tersebut, rasanya dia pun ingin menertawakan Dimas, namun sebelumnya Sultan juga pernah mengalami dan merasakan hal yang sama seperti dia, maka dari itu ia tak mau menertawakannya selepas seperti teman-teman gilanya di sana.


....


Dengan seketika Sultan pun malah ikut-ikutan tersedak, namun ia tersedak bukan karena asap rokok yang dia hisap terlalu dalam, melainkan dia tersedak oleh air minumnya sendiri.


"Gara-gara gue ngetawain si Dimas, jadinya gue ikut-ikutan tersedak seperti ini, karma emang nyata adanya ya, namun tak terasa kehadirannya," ucap Sultan melepaskan suara tawa terakhirnya di luar ruangan rumahnya.


Sultan masuk ke dalam rumah, dan sebelumnya ia sempat melihat ibunya yang tengah tertidur, lantas ia pun mengecup kening beliau dengan penuh kasih sayang.


Tak lupa ia pun mengecup kening ayahnya yang tengah tertidur di ruang tamu, beliau memang sering ketiduran di luar kamar, jadi Sultan hanya bisa memberikan selimut miliknya saja kepada beliau, dikarenakan ia tak mau membangunkan ayahnya yang sudah tertidur lelap itu.

__ADS_1


Dalam hitungan menit Sultan sudah tertidur, rasanya alam sadar telah memijat-mijat kesadarannya sekarang, maka dari itu ia tertidur lebih awal.


Suara azan telah berkumandang serta diiringinya dengan suara ayam yang berkokok di pagi hari yang nampak indah ini.


Sultan pun pergi bersama dengan ayahnya untuk melaksanakan salat subuh berjamaah di dalam mesjid. Sesuai dengan janji Sultan yang sebelumnya, di mana ia sudah berdiam diri saja di depan mobil Bogoran kira-kira pukul setengah enam pagi.


Ia diantarkan oleh pamannya, dan di sana pamannya menunggu Sultan sampai mana dia benar-benar pergi dari Sukabumi.


Mesin mobil Bogoran mulai dinyalakan, namun mobil tersebut belum dilajukan. Sultan menunggu di luar mobil sambil menghisap rokok pertamanya.


Tak lama kemudian Sultan menyuruh pamannya untuk pergi meninggalkannya di sana seorang diri, dikarenakan sebentar lagi mobil yang akan dia naiki itu akan segera berjalan.


"Selamat pagi Re, maafin gue ya, karena gue baru ngabarin kamu sekarang, dan ini gue udah ada di dalam mobil Bogoran, jaga diri kamu ya, soalnya gue bakalan pergi lama ninggalin kamunya nih, jangan rindu ya, nanti juga gue pulang kok," kata Sultan lewat keitkan pesan Whatsapp.


Sultan memasukan kembali handphonenya ke dalam saku celana jeans hitamnya. Seperti yang Sultan harapkan sebelumnya, ternyata ia memasuki mobil Bogoran yang tepat karena sopir mobil Bogoran tersebut melajukan kendaraannya seperti dengan julukannya, yaitu Jet Darat.


"Kayaknya gue bakalan tiba di terminal Bogor lebih awal nih, terus seperti ini Mang, saya suka melihat kendaraan yang saya tumpangi ini melaju sekencang dan sesuai dengan harapan saya sendiri," ucap Sultan dalam hati sambil tersenyum seorang diri di kursi belakang mobil tersebut itu.


Sultan menyandarkan tubuhnya dengan posisi kaki yang diletakan di kursi depan. Rasanya sangat nyaman sekali, dan terlebih mobil tersebut masih memiliki banyak ruang, jadi ia bisa bersantai selagi kursi mobil masih kosong.

__ADS_1


Sultan membakar kembali rokok keduanya, dan tak lupa ia pun membuka jendela kaca mobil agar asap rokoknya itu tidak masuk sampai ke dalam mobil.


__ADS_2