Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 315 : Antara ego dan sabar


__ADS_3

10 menit waktu telah berlalu, hingga pada akhirnya Sultan menyuruh Aisyah untuk mengambilkan handphonenya yang tengah diisi daya itu.


Aisyah pun mengangguk dan lalu masuk ke dalam ruangan untuk mengambilkan handphone milik Sultan. Tak silam beberapa lama dia pun kembali menghampiri semua temannya di depan sana sambil memberikan handphone milik Sultan itu.


Sultan mengambil handphonenya dan lalu dia pun menyalakan power handphonenya yang sempat mati itu. Semua temannya masih menunggu handphone Sultan menyala sepenuhnya dikarenakan mereka masih penasaran dengan isi dari remakan video yang dia bicarakan sebelumnya itu kepada mereka di sana.


Setelah handphone Sultan menyala, dia pun lalu menunjukan rekaman video itu, dan apa reaksi yang mereka berikan ketika mereka semua melihat video rekaman tersebut? ya, dari rekannya hingga sampai temannya menggeleng-gelengkan kepalanya dikarenakan mereka merasa kesal dengan ulah yang telah para brandalan itu lakukan kepada anak sekecil itu.


"Cihh ... kita engga bisa tinggal diam seperti ini Tan, tindakan mereka udah melebihi batas wajar! emangnya mereka semua engga pernah di sekolahin apa, sampai anak sekecil itu masih saja dipalakin," ucap Alamsyah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gue bingung dah sama mereka semua, mengapa mereka suka mencari-cari masalah dengan orang lain ya, udah itu orang yang dipilihnya random lagi," ucap Azmi yang terlihat begitu membenci para brandalan itu.


"Apa yang harus elu bingungin sih Mi, seharusnya elu udah tahu siapa mereka, dan mengapa mereka sangat suka mencari-cari masalah dengan orang-orang seperti kita, tentunya mereka engga mau kalah saing," ucap Dimas, yang di mana sepertinya dia sudah tak mengherankan semua perbuatan yang sudah sering dilakukan oleh para brandalan gila itu di sini.


Sultan dan Dimas terlihat begitu santai sekali, bahkan mereka tak terlihat risih walaupun semua rekannya sekarang tengah merasakan perasaan geram yang sama.


Mengapa Sultan dan Dimas bisa terlihat setenang itu sekarang? ya, dikarenakan sebabnya yang hanya mereka pikirkan itu tidak lain hanyalah keselamatan dari sosok anak kecil itu saja.


Dan memang benar, para brandalan-brandalan itu hanya mengincar uang dari anak kecil itu saja, bukan melainkan mereka mengincar hal yang aneh-aneh darinya, misalkan seperti halnya menculik anak kecil itu.


"Sebenarnya hal apa yang telah membuat kalian merasa setenang seperti sekarang ini, apa mungkin kalian berdua memang sedang menyembunyikan sesuatu hal dari kita," ucap Utuy membuat semua rekan dan temannya menatapi raut wajah Sultan dan Dimas.


Sultan dan Dimas tersenyum melihat mereka semua begitu menakuti bahwa sebenarnya Sultan dan Dimas hanya ingin memanfaatkan anak kecil itu demi misinya terpenuhi.

__ADS_1


Namun, apa yang mereka pikirkan itu bukan hal yang sebenarnya tengah mereka berdua rencanakan, hanya saja niat mereka terdiam dan tak melawan itu dikarenakan selama mereka berdua masih bisa melihat anak kecil itu baik-baik saja, hal yang tak perlu mereka lakukan memang tak harus mereka lakukan.


"Memanfaatkan anak kecil demi sebuah misi balas dendam, sebenarnya itu merupakan hal yang engga akan pernah gue gunakan Tuy."


"Dengerin ya, rekan-rekan sekalian, prinsip gue berkata selama gue masih bisa melihat anak yang gue tolong itu tersenyum lebar di hadapan gue, dan gue rasa melawan mereka merupakan hal yang tak perlu gue lakukan."


"Intinya selagi ada jalan yang memang benar-benar baik untuk gue lakukan, sebagaimanapun gue harus bisa melakukannya, selagi cara itu masih bisa kita gunakan mengapa tidak kita gunakan."


"Semoga penjelasan gue ini dapat kalian pahami, gue diam bukan berarti gue takut, melainkan diam gue ini tidak lain demi memperkuat sebuah rasa keyakinan bahwa gue bersungguh-sungguh ingin berjuang bersama dengan rekan-rekan sekalian."


....


Setelah mendengar ucapan Sultan mereka semua sadar bahwa seorang Sultan ternyata hanya ingin melindungi semua temannya dari masalah sekecil apa pun itu.


"Hanya karena gegara senyuman itu dia berani menahan semua amarahnya, bahkan bila dia engga mengingat siapa orang yang harus dia lindungi, mungkin tadi dia sudah terluka seorang diri."


"Selama ini Sultan sering mengingatkan gue bagaimana caranya agar gue bisa berdamai dengan keadaan sekarang."


"Dia mengingatkan gue agar gue tetap diam, pada dasarnya memang semua sudah diatur dan akan ada waktunya untuk melepaskannya."


"Dan hari ini memang bukan waktu kita, tapi nanti kita akan membalas semua perbuatan mereka dengan cara kita sendiri, yakni cara sabar."


Ucapan Dimas merupakan sebuah perintah, di mana dia memerintahkan semua rekannya untuk tetap sabar, seperti halnya selama dia mengenal sosok seperti Sultan, dia selalu mendapatkan serta selalu mengetahui banyak arti dari menahan rasa sabar yang sesungguhnya itu seperti apa.

__ADS_1


Dengan serentak mereka semua terdiam sembari tertunduk tanpa adanya sebuah alasan yang begitu jelas untuk diperdebatkan lagi.


Dan sekarang ruang bicara pun menjadi semakin sempit saja disebabkan Dimas telah membuat suasana yang penuh akan argumentasi itu berubah seketika menjadi sebuah ratap yang penuh akan kekharuan.


Bila salah satu dari teman wanita Aisyah tidak menceritakan masalah yang telah dia lihat tadi, mungkin saja mereka semua akan terus terdiam seperti itu.


"Ohh, iya guys, tadi aku baru saja melihat ada salah satu diantara para brandalan itu sedang berjalan-jalan di area sekitaran sini, sepertinya mereka juga lagi melihat-lihat situasi di tempat kita," ucap salah satu teman Aisyah.


"Sepertinya bukan salah satu dah, gue yakin kalau jumlah mereka sekarang lebih dari dua orang," ucap Dimas.


"Apa yang Dimas ucapin itu memang benar sih, setahu aku nih ya, jumlah mereka sekiranya ada lima orangan, tapi sayangnya aku cuma mengenal satu orang aja," ucap salah satu teman Aisyah kembali.


"Siapa?" tanya Aisyah singkat.


"Kalau engga salah dia adalah orang yang pernah minta uang sama para cowok."


"Apa perlu kita memastikan mereka siapa Tan," ucap Azmi meminta persetujuan dari Sultan.


"Tadikan Amel udah bilang Mi, kalau mereka adalah para brandalan-brandalan gila yang pernah malakin teman-temannya di sini," ucap Sultan sambil mematikan bara api rokoknya.


"Maksud gue teman-teman dari para brandalan itu Tan, siapa tahu elu mengenal salah satu diantara kelima orang tersebut itu."


"Entahlah Mi, bahkan sampai sekarang gue masih belum mengetahui secara pasti siapa mereka, soalnya malam itu sehabis gue dipukulin sama mereka, wajah mereka ditutupi oleh masker."

__ADS_1


"Tapi, sepertinya gue sempat mengenali salah satu sumber suara dari para brandalan itu, dan sepertinya ada diantara mereka yang sudah sempat bekelahi bersama dengan kita di lapang belakang sana."


__ADS_2