
Singkat cerita, di mana sore itu tepatnya di hari Kamis, seluruh teman-teman Sultan sekarang tengah berkumpul di depan teras kontrakan untuk membahas masalah jalur yang akan mereka lalui nantinya.
Seperti janji Sultan yang sebelumnya, ia akan tetap memilih tinggal di Tangerang karena kemarin ia barus saja pulang ke Sukabumi, jadi sekarang giliran Sultan yang menjaga kontrakannya sendirian.
Sebenarnya mereka tak mau membiarkan Sultan tetap tinggal di sana sendirian, dan malahan mereka semua mengajak Sultan untuk ikut pergi pulang bersama dengan mereka semua, namun Sultan tetap mengukuhkan pendiriannya itu dan lebih memilih tinggal di Tangerang sampai mereka kembali lagi.
"Elu serius Tan, mau tetap tinggal di sini? mendingan sekarang elu ikut kita pulang aja dah, emangnya elu bisa gitu tinggal sendirian di dalam kontrakan tanpa kita temenin," tanya Dimas yang terlihat bahwa dia tengah memastikan barang bawaannya di depan teras kontrakan.
"Gue akan tetap hidup walaupun kalian engga ada di sini, urusin aja tuh barang bawaanmu itu Dim, jangan sampai ada barang yang kamu tinggalkan, gue cuma takut nanti elu akan menyuruh gue untuk membawakan barang yang sempat elu tinggalkan di sini," ucap Sultan sembari tersenyum tipis ke arah Dimas.
Dan lalu setelah itu, Sultan pun melempar tas Dimas, dikarenakan dia merasa risih melihat Dimas tak henti-henti mengecek barang bawaannya itu di sana, sampai-sampai Sultan bosan memperhatikannya.
Dimas mengira kalau Sultan hanya ingin melihat isi di dalam tasnya itu ada apa saja, namun ternyata Sultan malah menunjukan sikap menyebalkannya itu kepadanya.
Keusilan Sultan tak berhenti sampai di situ saja, kemudian Azmi pun malah melempar tas Dimas lebih jauh lagi, Dimas tak dapat melawan tingkah laku mereka karena sebab dia tahu bahwa mereka hanya tengah membercandainya saja.
Raut wajah Dimas mencerminkan kalau sekarang dia tengah menyimpan rasa rindu kepada seseorang, dan terlebih senyuman seorang Dimas itu terlalu lebar, hingga mana Sultan tercengang ketika dia melihat Dimas sebahagia itu.
__ADS_1
"Gila lu Mi! gue kira elu mau nolongin mungutin tas gue, tapi nyatanya elu malah melempar tas gue lebih jauh lagi, untung saja barang gue engga ada yang lecet, kalau sampai ada yang lecet pokonya gue makan elu Mi!" ujar Dimas masih terlihat santai dalam merespon semua sikap kedua teman gilanya itu di sana.
Sebelumnya Sultan sempat melihat kalau di dalam tas Dimas ada sebuah kado yang telah dibungkus rapi, Sultan beranggapan bahwa kado tersebut dikemas rapi bukan hasil rancangan dari tangan Dimas langsung, melainkan kado tersebut dikemas oleh tangan orang suruhannya.
"Jangan kayak gitulah Mi! kesian dianya tuh, gimana coba kalau nanti kado yang ada di dalam tasnya itu rusak, engga pengertian benget dah elu itu sama sahabat sendiri Mi!" ujar Sultan, di mana Dimas pun langsung menggunakan tasnya tersebut itu sembari memeluk tasnya juga ketika mana Sultan memberitahukan rahasia dia kepada semua temannya di sana.
"Emangnya ada barang berharga lain gitu Tan, di dalam tas dia selain baju-baju busuknya itu? masa iya sih Dim, coba sini tas elu, gue mau lihat sedikit aja," ucap Azmi memaksa temannya itu untuk memberikan tasnya kepada dia.
Dimas menolak memberikan tasnya kepada Azmi, dikarenakan dia takut kalau Azmi akan membongkar hadiah yang selama ini sudah dia pesan dari hari ke hari.
....
Sultan pernah berkata kepada Dimas, dengan kejutan sederhana seorang pasangan dapat merasakan arti dari kebahagiaan itu apa, namun Sultan berkata kebahagiaan yang sebenarnya itu ada pada diri kita sendiri.
Mungkin seseorang yang mencintai pacarnya itu dengan tulus, mereka takan pernah mau mengharapkan hadiah atau imbalan apapun dari pasangannya sendiri, bahkan hanya dengan membawa jiwa dan raga mereka kembali saja, pasangan yang bisa dibilang pasangan paling pengertian itu sudah bisa merasakan arti dari kebahagiaan yang sesungguhnya itu seperti apa.
Semua teman Sultan masuk ke dalam kontrakan, dikarenakan mereka belum mengkemas barang-barang bawaannya sendiri, sementara Dimas diam bersama dengan Sultan di depan teras kontrakan lantaran dia telah selesai mengurus semua barang-barang milik pribadinya sendiri.
__ADS_1
Sebenarnya jadwal mereka pulang ke Sukabumi itu adalah Jumat sore, berhubung sekarang adalah tanggal merah, jadi mereka semua lebih memilih pulang di hari Kamis sore.
"Gue kan udah pernah bilang Dim, bahwa hadiah sederhana itu adalah diri elu sendiri, bukan melainkan kado barang seperti ini, percaya sama gue bahwa harapan dia untuk saat ini adalah menantikan kehadiran elu di sana," ucapan Sultan benar-benar membuat Dimas tak henti-henti tercengan.
"Gue memang sengaja beli hadiah untuk dia Tan, karena besok adalah hari ulang tahunnya, tadinya gue sempat melupakan tanggal bahagianya itu Tan, tapi waktu itu elu udah ngingetin gue dengan ucapan hadiah sederhana, terima kasih Tan," ucap Dimas membuat Sultan menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat sifat pelupa Dimas.
"Gila lu Dim! bisa-bisanya elu melupakan tanggal bahagianya begitu aja, gue aduin ah biar dia tahu seberapa ceroboh pacarnya ini ketika dia tengaj jauh darinya."
Dimas menyumpal mulut Sultan dengan tangannya, Sultan tak dapat menepikan tangan Dimas, dikarenakan tawanya dengan seketika membuat tubuhnya menjadi semakin bertambah lemas saja.
Sultan tertawa bersama Dimas, sampai mana semua temannya ke luar dari dalam kontrakan. Mereka telah selesai mengkemas rapi barang-barang yang akan mereka bawa pulang.
Mereka berpamitan kepada Sultan, lalu setelah itu mereka pun pergi meninggalkannya di sana seorang diri. Memang benar apa kata hati Sultan, kontrakan terasa sangat sepi bilamana kehadiran mereka dilupakan ataupun diabaikan.
"Yahh ... penghuni kontrakan udah pada pergi, rasanya sepi juga kalau para makhluk langka yang hampir punah itu engga ada di sini, tapi kalau dipikir-pikir damai juga rasanya, namun tetap saja lebih asik bersama-sama," ucap Sultan seorang diri, di mana ia pun masuk ke dalam kontrakan untuk mengambil ponselnya yang sedang diisi daya baterainya itu di sana.
Entah kenapa hari ini sikap Rere agak sedikit berbeda, dia terlihat begitu dingin, bahkan pada saat Sultan akan meneleponnya, dia malah menolaknya.
__ADS_1
Sultan tak mau menambah sikap Rere menjadi lebih dingin, ia sama sekali tak ingin membahas masalah tersebut lebih detail lagi, dikarenakan ia hanya takut wanita manjanya itu akan semakin bertingkah aneh saja kepadanya.