Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 93 : Baik buruknya sikap dia


__ADS_3

Di sebuah jalan yang penuh akan keramaian, berkerumun, saling mendampingi, serta saling meratapi indahnya alam ciptaan Sang Tuhan Yang Maha Esa, dan itu adalah suatu hal yang lumrah bagi setiap orang melakukannya.


Tak ada yang melarang, tak ada rasa takut yang tertanam, dan tak ada kata tidak sanggup untuk melakukan semua hal tersebut itu di sana.


Dan terlebih, siapa yang bisa menghancurkan kebahagiaan itu selalin orang lain yang berbeda anggapanlah yang bisa membuat kebahagiaan itu hilang dengan sekejap mata.


Semua orang dan salah satunya itu adalah Sultan, yang di mana ia mengelilingi ujung kebun teh bersama dengan kakak perempuannya yang dulu hilang, dikarenakan kesibukan Sultan memang bisa membuat lupa akan segala hal yang dulu ia pernah lalui bersama dengannya.


Perbincangan itu, sungguh membuat kakaknya tersenyum dan tertawa kembali bersama dengannya, dan Sultan memang benar-benar sudah sangat yakin terhadap dirinya itu sendiri, kenapa? dikarenakan ia adalah sosok pria yang selalu bisa mengobati luka hati kepada semua orang terdekatnya.


"Gini kan enak Teh, melihat teteh tersenyum dibalik kaca spion motor, itu adalah suatu hal yang bisa mengobati luka yang sakit menjadi sembuh dengan seketika cepatnya, dan itu adalah keistimewahan yang teteh miliki dengan sangat berlebih," ucap Sultan, yang di mana ia pun selalu melirik indahnya wajah kakaknya itu di jalan sana, dan tentunya ia hanya ingin melihat kakaknya tersebut itu tersenyum, bukan kepada Sultan, melainkan kepada dunianya ini.


"Jangan buat teteh menjadi sayang sama kamu Tan! kamu itu engga pernah berubah ya? dari dulu paling bisa membuat kakakmu yang cantik ini selalu tersenyum lebar seperti ini," ucap Teh Mawar, yang di mana dia pun memeluk tubuh Sultan seperti biasanya, dan hal itu memang selalu ia lakukan kepada Sultan dulu.


"Jangan salah paham Teh! Sultan melakukan hal ini bukan hanya kepada teteh saja kok, dan ini lah sikap seorang Sultan, yang di mana penulis takan pernah kehabisan kata-katanya ini."


"Puisi yang kamu buat untuk menyelesaikan tugas bahasa Indonesia teteh di sekolah dulu, teteh masih menyimpannya loh Tan? dan tentunya Stevia menyuruh teteh untuk memajangkannya dalam pigura foto."


Kata-kata yang kakaknya itu ucapkan tadi, sungguh membuat Sultan tersenyum dan tertawa kembali, yang di mana kedua kakak beradik itu sama-sama bisa membuat Sultan kembali mengingat hal itu dulu.


Yang di mana kala itu, kakaknya pernah bolos sekolah bersama dengan Sultan di sana, dan tentunya kakaknya tidak ingin melewatkan hari terakhir Sultan di Bandung waktu dulu itu.


Dan yang pastinya, dulu dia memang anak nakal, namun setelah Sultan datang dan bertemu, serta dekat dengannya, yang di mana sikap nakal yang kakaknya itu miliki hilang perlahan demi perlahan.


"Sampai sebegitu sayangnya teteh sama puisi jelek itu! padahal buang aja! sebenarnya percuma bila dipajang juga kalau nanti ujung-ujungnya berdebu," ucap Sultan waktu itu, yang di mana kakaknya sempat memukul helm yang tengah Sultan kenakan itu hingga memiring, dikarenakan seburuk-buruknya perilaku dia, seburuk-buruknya sikap dia, dan dia takan pernah menghina, ataupun menjelek-jelekan karya seseorang begitu saja.


"Mau itu jelek! mau itu bagus, karyamu akan selalu teteh kenang, dikarenakan baik dan buruknya sikap aku, baik buruknya sikap kamu, tetapi kita berdua harus tetap bisa menghargai hak cipta karya seseorang," ucap Teh Mawar sembari memukul helm Sultan hingga menutupi seluruh pandangannya.

__ADS_1


....


Motor tua dengan seketika menepi, dan tentunya apalagi kalau bukan Sultan yang ingin membenarkan helmnya itu terlebih dahulu di jalan sana.


Kakaknya sempat bertanya, namun Sultan hanya membalikan wajahnya saja ke hadapan kakaknya itu, dan lantas kakaknya itu pun tertawa, dan dia pun lalu membenarkan helm Sultan seperti layaknya seorang kekasih hati.


"Punya tenaga kuat amat dah! perasaan teteh cowok juga bukan," ucap Sultan yang langsung menjalankan motor tuanya itu kembali dengan perlahan.


"Makanya jangan main-main sama kakakmu ini Tan! bukannya dulu kamu yang nyuruh teteh untuk menjadi wanita yang lebih kuat ya?" ucap kakaknya itu yang kembali memeluk tubuh Sultan dengan erat.


Semua orang menatap kebersamaan mereka, dan terlebih muka mereka terlihat bukan layaknya seperti adik dan kakak, dikarenakan umur mereka cuma hanya berbeda 2 tahun saja.


Tak lama kemudian, setelah mereka menemukan tempat yang cocok untuk mereka diami, dan akhirnya mereka pun kembali menepikan motor itu di jalan sana, namun sebelum itu ada seorang pria yang menghampiri kakaknya itu di sana, dan siapa lagi kalau bukan mantan dari kakaknya itu.


"Mawar ... kamu Mawar kan? kenapa kamu engga ngabarin gue kalau elu mau ke sini?" ucap mantannya, yang di mana dia pun sebenarnya masih sayang dengannya.


"Anda siapa?" ucap Sultan singkat.


"Gue engga salah dengar kan? elu tanya gue siapa? gue adalah kekasihnya, dan di sini elu itu hanya jadi pelampiasannya saja," ucap mantan kekasih kakaknya itu dulu, yang di mana dia sempat memukul helm Sultan, namun kesabaran seorang Sultan tak bisa dianggap remeh olehnya.


Sultan hanya bisa tersenyum kepada orang rendahan seperti itu, dan lantas kakaknya sempat menampar wajah mantannya itu dengan sekuat tenaga.


"Haii, bodoh! elu cuma mantan gue, dan elu engga berhak memukul kekasih gue di sini! siapa elu? gue engga mau kenal sama orang yang suka menduakan pacarnya dulu!" ucap Teh Mawar, yang seketika membuat Sultan bangkit dari duduknya itu.


Apa reaksi Sultan, ketika mana dirinya mendengarkan ucapan yang di keluarkan dari mulut kakaknya itu? dan ya, Sultan pun lalu mendorong tubuh pria itu, hingga mana dia pun terkapar di sebuah perkebunan teh.


Bakk, bukk ....

__ADS_1


Suara pukulan keras yang diberikan oleh Sultan, sungguh membuat seorang pria itu terdiam, dan bahkan teman dari mantan kekasih kakaknya itu dulu, mereka semua terdiam takut, tak ada yang bisa membantunya, dikarenakan mereka tak mau banyak mancampuri urusan pribadinya sendiri.


"Elu harus ingat! dan elu jangan pernah membangunkan sosok singa yang tengah tertidur di dalam jiwa gue, dikarenakan gue adalah mantan narapidana yang pernah membunuh orang seperti layaknya Psikopat," ucap Sultan yang hanya ingin menggeretak mantan dari kakaknya itu hingga terdiam tanpa suara.


Darah dari hidung mantan kekasih kakaknya itu terus bercucuran, dan kakaknya hanya bisa terdiam, dikarenakan kemarahan Sultan adalah suatu hal yang sangat dia takuti di sana.


Grungg, grungg, grungg ....


Suara motor kembali ia nyalakan, dan lalu Sultan bersama dengan kakaknya itu pun dengan seketika pergi meninggalkan pria rendahan itu di sana.


Kemarahan Sultan itu, sungguh membuat kakaknya terdiam kaku, dikarenakan itu adalah pertama kalinya Teh Mawar melihat Sultan semarah itu.


Namun, apa reaksi yang Sultan berikan kepadanya? dan tentunya dia hanya bisa tersenyum ketika mana ia melihat wajah kakaknya itu pucat akan melihat hal yang barusan terjadi.


"Oyy, kenapa diam? Sultan engga apa-apa kok, dan Sultan harap teteh bisa memeluk tubuh Sultan dengan erat untuk terakhir kalinya," ucap Sultan, yang di mana tentunya ia pun sama sekali tak bisa membiarkan kakaknya itu terdiam tanpa suara.


"Hmm ... ," kakaknya hanya bisa bergumam, namun tentunya dia pun kembali memeluk tubuh Sultan dengan erat.


"Kita jajan coklat ya?" ucap Sultan.


"Kapan kamu jadi mantan narapidana?" ucap kakaknya itu terlihat tak mempercayai hal itu telah terjadi, dan pernah dialami oleh Sultan.


"Kapan adik teteh yang baik ini masuk penjara? dan hal itu engga pernah Sultan rasakan, dikarenakan tadi Sultan itu hanya ingin menggeretak dia saja, agar supaya dia engga bisa kembali ke dalam pelukan teteh," ucap Sultan yang membuat kakaknya itu merasa lega ketika mana dia berbicara jujur kepadanya.


Teh Mawar itu, ibaratkan keluarganya sendiri, walaupun itu hanya bisa Sultan rasakan sesaat saja, akan tetapi kebaikan sorang Sultan takan pernah hilang, walaupun waktu telah lama tidak pernah terulang kembali.


Ia pun lalu mengajak kakaknya itu untuk pergi berbelanja, dan apalagi kalau bukan untuk membelikan kakaknya itu sebuah coklat.

__ADS_1


Dan setelah itu, Sultan pun lalu membawa kakaknya itu untuk pergi kembali ke tempat perkemahan, dan tentunya ia pun akan pergi untuk menjemput serta mengantarkan Rere pulang, dikarenakan besok dia juga harus pergi untuk PKL.


__ADS_2