Cinta Dan Kenangan Terakhir

Cinta Dan Kenangan Terakhir
Chapter 141 : Semboyan kerinduan


__ADS_3

Melanjutkan malam yang belum usai dan masih terus berjalan tanpa henti. Mengabadikan sebuah kabar arti dari kata hilang pandang serta hampa yang terus memekik dengan lantangnya menyebut nama semboyan kerinduan.


Sultan terdiam di luar ruangan, sementara Rere terdiam di dalam kamarnya. Waktu belum cukup menelan sinar dari cahaya rembulan, meskipun tebalnya kabut sedang melanda persinggahannya yang sekarang ini.


Namun, akan tetapi perbincangan itu masih saja berlanjut, dan bahkan mereka berdua nampak asik tertawa bersama-sama dengan lepasnya di sana.


"Udah malam Re, elu mendingan tidur aja sana, besok bukannya lu masih ada jadwal PKL ya?" tanya Sultan kepada Rere sembari tersenyum melihat dia tersenyum juga.


"Masih pagi Tan, lagian lu buru-buru off mau ke mana sih? perasaan ini itu bukan jadwal lu tidur dah," ucap Rere yang mungkin dia pun merasa bahwa Sultan membutuhkan waktu istirahat yang cukup juga.


Rere takan mempermasalahkan kalau Sultan ingin tertidur lebih awal, dan mungkin malam ini adalah malam yang takan terasa panjang bagi Sultan tertidur di bawah lantai keras kosannya.


Maka tak heran, kenapa Sultan sering kali merasakan perasaan yang tak nyaman ketika tubuhnya terbaring di atas lantai kosan yang dingin itu.


Dan terlebih seharusnya semua temannya itu bisa terbaring di atas kasur yang empuk, bukan melainkan tertidur di atas lantai keras serta di lantai yang dingin seperti itu.


Tentu saja hal itu dapat mempengaruhi performa bekerja mereka, apalagi ini adalah hari pertama bagi mereka semua merasakan betapa sulit bekerja di lapangan yang sesungguhnya langsung tanpa persiapan apa pun itu.


"Mata kamu kok, merah Tan! emang kamu engga merasa perih gitu? obatin dulu sana, bukannya waktu itu gue udah kasih elu obat tetes mata ya, sebelum elu berangkat pergi ke sana," ucapnya penuh perhatian.


Dia memang wanita yang sangat pengertian, namun ucapannya itu tentunya akan membuat dia kembali merasakan arti dari susahnya menahan rasa ingin tersenyum lebar tanpa beban.

__ADS_1


"Ini mah udah biasa Re, setiap kali gue menatap raut wajah manismu itu, mata gue seolah-olah menolak untuk dikedipkan karena indahnya pasti takan terbawa lengkap bilamana mata ini berkedip sebelum gue melihatmu tertidur lelap," ucapannya yang lagi-lagi membuat Rere mematikan teleponnya.


Rere terus saja bergumam dalam hatinya, kenapa disaat dia jauh dari sisinya, Sultan malah berketerusan membuatnya tersenyum lebar seperti ini, namun kenapa di saat dia bertemu bersama dengannya, Sultan selalu membuatnya merasa sangat jengkel terhadap sikap menyebalkannya itu.


Disaat pertemuan sedang menghampirinya, Sultan memang jarang sekali membuatnya tersenyum, meskipun ada tetapi itu hanya sesaat, terkecuali tertawa, hal tersebut sering datang menghampirinya.


"Elu itu aneh ya, Tan! kenapa disaat kita berdua lagi main di luar, elu suka membuat gue jengkel, kesal, marah, tapi disaat lu jauh dari sisi gue, kenapa elu baru mengeluarakan sifat asli manismu ini," ucapnya penuh rasa percaya diri, yang di mana Rere berbicara dengan lantangnya tanpa sedikit pun terdengar suara samar-samar tidak jelas.


Biasanya bila Rere berkata jujur kepada Sultan, dia selalu melontarkan ucapan yang agak sedikit terhentak-hentak seperti orang gugup, tetapi sekarang entah kenapa dia berbicara dengan jelasnya tanpa ragu.


Sultan mengira bahwa Rere mungkin telah berlatih terlebih dahulu sebelum Sultan meneleponnya kembali. Intinya semua ini lebih ke sifat Sultan yang sangat menyebalkan, kalau bukan itu ya, apalagi? dikarenakan Sultan memang selalu membuat Rere merasakan hal yang bisa membuatnya terdiam kharu, malu, resah, dan takut akan Sultan menghadirkan sepucuk rasa rindu yang dapat menggebu, hingga pada akhirnya rasa ingin bertemu pun tak bisa lama lagi terdiam menunggu.


....


"Tersenyum itu senyap, namun memiliki banyak makna yang tersirat di dalamnya, sedangkan tertawa itu adalah suatu lepasan yang direspon cepat oleh hati milik kita sendiri, dan alasannya hanya ada satu, yaitu kebahagiaan yang dapat kita lihat dengan sendirinya tanpa harus kita merasakannya terlebih dahulu," Sultan menjeda ucapannya sejenak.


"Tersenyum memiliki dua pandangan yang berbeda Re, ada yang tersenyum karena mereka bahagia, dan ada juga bagi mereka yang tersenyum hanya karena memaksakan kebahagiaannya itu saja Re," itu adalah ucapan terakhir yang Sultan berikan kepada Rere.


"Tapi, aku selalu tersenyum bahagia kok, Tan," ucapnya jujur lewat panggilan suara.


"Itu bagus Re, dan itu menguntungkan kedua belah pihak juga, kamu tersenyum kepada gue, elu mendapatkan pahala kan? dan gue pun pastinya sama sepertimu Re, mendapatkan pahala karena gue telah membuatmu tersenyum bahagia."

__ADS_1


Sebelumnya Rere sempat mematikan panggilan video dari Sultan, tapi tak lama setelah itu Rere meneleponnya kembali lewat panggilan suara saja.


Sultan merasa lega telah menjelaskan penjelasan sedetail mungkin kepada Rere, hingga pada akhirnya dia pun mengetahui kenapa sebabnya Sultan selalu bersikap seperti itu kepadanya, kurang lebih karena Sultan hanya ingin melihat kebahagiaan Rere langsung terlintas bukan hanya terlihat dari pandangannya saja, melainkan dari suaranya juga.


Rere merasa matanya tak sanggup lagi menahan rasa ngantuk ingin tertidur dengan lelapnya di atas kasur kamarnya. Sultan pun menyuruh Rere mematikan telepon suaranya, dikarenakan ia juga sama seperti wanitanya itu ingin tertidur juga.


Pada saat itu, Sultan sempat melaksanakan salat isya di dalam ruangan kosan terlebih dahulu, sebelum ia benar-benar terlelap dalam tidurnya dan dalam mimpinya juga.


Dengan perlahan jam dinding berdetik, yang di mana semua sistem saraf yang berada di dalam organ tubuh pun mulai terdengar agak sedikit rileks, beda hal nya di waktu ia sedang beraktivitas, seluruh otot-otot yang berada di dalam bagian organ tubuhnya merespon seperti layaknya seseorang yang menyuruhnya untuk beristirahat saja.


Sampai mana pagi pun tiba, yang di mana ia terbangun dari tidurnya, dan dengan seketika ia menerima respon yang baik dari dalam organ tubuhnya.


Ia menyapa Rere di pagi hari dengan manisnya sesudah dirinya melaksanakan semua kewajibannya di sana. Dan seperti biasa ia pun berangkat untuk melaksanakan tugas prakerinnya itu kembali.


Apel pagi di lapangan Perusahaan telah dimulai. Tapi, entah kenapa pimpinan yang sama-sama memiliki darah keturunan orang sunda pun memanggil namannya.


Beliau merupakan pimpinan penanggung jawab di Perusahaan yang sama, namun beliau ditempatkan dibagian Perusahaan yang kedua.


Beliau adalah sosok pemimpin yang sangat baik dan juga ramah tentunya. Bahkan disaat beliau melihat Sultan, dia sudah bisa mengenal baik seorang Sultan.


Beliau menyuruh Sultan menjadi pemimpin apel, dikarenakan sitem kepemimpinan itu di jalankan secara bergantian, dan alhasil ia lah yang ditunjuk oleh beliau untuk menjadi pemimpin di hari sekarang.

__ADS_1


Ia bersandingan dengan salah satu siswa jauh, yang entah dari mana dia berasal, tapi raut wajahnya sama persis cantiknya dengan raut wajah Rere.


Beliau berusaha mengolok-ngolok Sultan dengan alasan, jangan terlalu jauh berdiri di sampingnya, dan itu tentu saja membuat semua siswa di sana menyorakinya dengan nada suara yang memang mereka sengaja ingin membuat Sultan tersenyum dengan lepasnya.


__ADS_2