
"Bukan gitu konsepnya bego, bolot, rese! lebih baik gue nanam uang seratus ribuan aja dan ngarepin uang itu bertumbuh banyak, daripada gue harus melihat elu yang bertumbuh banyaknya Tan," Rere menjeda ucapannya sampai Sultan berhenti menertawakannya.
"Soalnya ngadepin elu seorang aja pusingnya udah minta ampun, apalagi sampai gue melihat ada banyak Sultan di dunia ini, bisa-bisa gue mati berdiri," candaan Rere terus membuat Sultan tertawa lepas di sana.
Sultan terus-menerus meledek Rere sampai Rere merasa lelah dan bosan mendengarkan suara tawanya, apalagi ia semakin membuat Rere terpojok dengan apa ucapan yang akan dia berikan selanjutnya kepada Sultan.
Semua ucapan yang dia lontarkan malah semakin membuat Sultan tertawa lepas, Rere pun tak dapat menghentikan suara tawa menyebalkannya itu, andai saja dia tak memberikan pertayaan yang sebelumnya, mungkin sekarang dia tak dapat mendengarkan suara tawa sepuas itu dari Sultan.
"Kebanyakan nonton film engga jelas elu mah Re! makanya sekarang elu jadi mengkhayal terlalu tinggi, sampai-sampai elu engga sadar dengan diri lu sendiri yang imut itu," ledek Sultan membuat Rere semakin geram saja.
"Mentang-mentang gue pendek, terus udah itu elu menghina gue sepuas itu Tan, jahat beut sih elu Tan, untung saja gue sayang sama lu," ucap Rere membuat Sultan terdiam dan berhenti menertawakannya.
Tawa lepasnya sekarang berubah menjadi senyuman, ucapan Rere membuat lamunan Sultan kembali menemaninya. Namun, kali ini lamunannya berbeda, di mana sekarang lamunannya kini terasa lebih menusuk sampai ke dalam hatinya.
Bukan lamunan kesedihan, melainkan lamunan penuh rasa kebahagiaan, itu adalah rasa yang tengah ia resapi, seberapa dalam dan seberapa tulus Rere memberikan ucapan manisnya kepada Sultan.
"Luluh gue Re, yaudah maafin gue ya, pokonya sekarang gue engga akan ngeledekin elu lagi dah janji sejanji-janjinya," ucap Sultan mengubah sikap menyebalkannya menjadi sikap manisnya.
"Kalau kamu udah sampai di kosan segera hubungi gue ya, Tan, gue juga janji bakalan nungguin elu sampai tiba di kosan," ucapan Rere takan pernah mendapatkan izin dari Sultan, dikarenakan mungkin mereka semua akan tiba di dalam kosan pada pertengahan malam hari.
"Tungguin guenya sampai lu engga kuat nahan rasa ngantukmu itu aja ya, Re, soalnya perjalanan gue masih cukup jauh, pokonya kamu jangan sampai tidur terlalu larut malam oke," ucap Sultan penuh perhatian.
"Sampai besok pun gue tungguin Tan."
__ADS_1
"Jangan nungguin gue lebih dari jam sepuluh malam Re, pokonya kalau lebih dari itu elu harus segera tidur, engga boleh bergadang, soalnya besok jadwal elu pergi berangkat PKL, jangan sampai rindumu membuat kamu malas untuk pergi berangkat PKL."
Rere membalas ucapan Sultan hanya dengan senyumannya saja. Di sana Sultan benar-benar menjaga kesehatan Rere, walaupun jarak tengah memisahkan mereka, namun perhatian Sultan dan juga perhatian Rere tidak pernah berubah sama sekali.
Sultan menyuruh Rere untuk mematikan panggilan suaranya, dikarenakan Sultan akan segera pergi dari tempat itu bersama dengan semua teman-temannya juga.
Seperti biasa Sultan melajukan motor tuanya dibarisan paling belakang. Perjalanan yang sekarang pastinya akan terasa lebih cepat sampai karena lajuan motor yang tengah mereka kendarai melebihi dari batas kecepatan standar.
Sebelumnya Sultan sempat tertinggal di belakang sana, ia pun merasa bingung ke mana semua teman-temannya pergi, lantas Sultan pun menambah lajuan motor tuanya untuk mengejar mereka.
....
Motor tua milik Sultan tidak kalah cepatnya dengan semua motor teman-temannya, hanya saja mata Sultan sedikit agak bermasalah bilamana ia dipaksa untuk mengendarai motornya malam-malam.
"Gila kali mereka ya! gue ditinggal gitu aja, udah tahu mata gue lemah kalau dibawa jalan-jalan tengah malam begini, untung saja jalanan agak sedikit sepi, jadi gue bisa ngebut semau gue di sini," ucap Sultan seorang diri.
Dimas sempat menoleh ke arah belakang, di mana dia melajukan motornya tepat membelakangi motor Sultan. Dimas menyuruh semua teman-temannya untuk menunggu Sultan terlebih dahulu, namun semua temannya tak dapat mendengarkan suara Dimas.
Dimas berhenti melajukan motornya, pada saat motornya ditepikan ke pinggir jalan. Dengan seketika Sultan menyalip motor Dimas. Dia sempat terkejut, dikarenakan Sultan sempat menepuk bahu Dimas.
"Woii, ngapain lu berhenti bolot! perjalanan kita masih jauh, ayo jalan lagi," ucap Sultan sembari menepuk bahu Dimas tanpa memberhentikan lajuan motornya.
"Gila lu! gue berhenti karena lu tertinggal di belakang sana, kalau tahu gitu gue engga akan berhenti tadi," teriak Dimas membuat Sultan tertawa kencang, sampai-sampai suara tawa Sultan itu terdengar jelas ditelinga Dimas.
__ADS_1
Dimas melajukan motornya dan menyalip motor Sultan. Sepertinya dia dendam kepada Sultan, sampai mana Dimas pun menepuk bahu Sultan juga.
Dipertengahan jalan mereka tak memberhentikan lajuan motornya. Mereka lebih memilih untuk melanjutkan perjalanannya karena sesaat lagi mereka semua akan segera tiba di dalam kosan.
Hingga pada akhirnya sekarang mereka bisa melentangkan kakinya di dalam kosan. Mereka duduk terdiam sembari memijat-mijat kakinya sendiri, semua punggung rasanya seperti remuk saja.
Sultan menyuruh semua temannya untuk berbaris, mereka pun mengikuti apa ucapan yang Sultan lontarkan tadi kepada mereka semua.
"Bro, coba sekarang kalian berbaris ke belakang," ucap Sultan yang berbaris dibarisan paling depan.
Semua teman-temannya sempat dibuat bingung oleh perintah Sultan, kenapa juga Sultan menyuruh mereka semua untuk berbaris seperti itu.
Sultan menyuruh mereka untuk melentangkan tangannya masing-masing ke arah depan, dan lalu setelah itu Sultan pun menyuruh mereka untuk meletakan tangannya dibahu orang yang kini tengah mereka lihat di depannya sekarang.
"Ahh ... ginikan enak, yaudah silahkan sekarang mulai memijat bahu orang yang ada di depan kalian semua," ucap Sultan menikmati pijatan Alamsyah.
Sangat disayangkan, sekarang posisi Dimas ada dibarisan paling belakang, jadi Dimas tak dapat jatah untuk merakasakan betapa nikmatnya dipijat ketika mana tubuh mereka semua tengah merasakan pegal yang amat pegal sekali.
"Mas, yang kerasan dikit lah mijatnya, percuma badan gemuk tapi tenaganya engga ada sama sekali, kalah sama Sultan lu Mas," ucap Azmi, di mana sekarang posisi dia tepat membelakangi Dimas.
"Kalian enak pada dapat pijatan, lah gue di belakang sini engga ada yang mijitinnya, tega beut lu semua," ucap Dimas membuat semua temannya tertawa lepas.
Alhasil Sultan pun menyuruh mereka untuk membuat lingkaran kecil saja, tapi dengan posisi masih saling memijat bahu orang yang berada di depan mereka semua.
__ADS_1
"Gue engga tega lihat lu merana Dim, yaudah sekarang lu nikmati dah pijatan gue ini," ucap Sultan mulai memijat-mijat bahu Dimas.